Pemerintah Anti Islam?

Oleh: Aldinsjah Vijayabwana
 

Kemarin jam 18.53, Detik mengabarkan bahwa awal puasa adalah 27 Mei sesuai sidang isbat pemerintah. Tahun lalu, saya pulang dari Jogja setelah UTUL UGM, malamnya langsung ke musala dan menunggu sidang isbat pemerintah untuk memulai salat Isya dan tarawih berjemaah.

Saya kemudian berpikir. Pemerintah menyediakan fasilitas sidang isbat penentuan awal puasa, lebaran, Idul Adha, itu tentu persiapannya tidak bisa sembarangan. Mulai dari menentukan titik-titik pengamatan hilal, mengundang ormas-ormas, ulama, dan ahli, semua itu tidak bisa disiapkan secara asal-asalan.

Itu baru sidang isbat. Pemerintah selama ini juga memfasilitasi pemberangkatan haji. Memfasilitasi penyaluran zakat, lebih-lebih zakat fitri bulan puasa. Memberikan cuti lebaran dan di beberapa daerah cuti nyadran juga, di samping meliburkan beberapa hari besar Islam. Juga memberikan ruang bagi umat Islam untuk membangun masjid, melaksanakan ibadah (memberikan jam istirahat untuk salat saat bekerja), dan membuat acara-acara keagamaan. Di luar itu, pemerintah juga membuatkan cetak Alquran dan pedoman terjemahannya.

Yang membuat saya bingung, dengan hal-hal seperti ini, pemerintah masih dibilang anti Islam. Anti Islam di mana? Umat Islam difasilitasi sedemikian rupa, masih dibilang anti Islam. Orang-orang yang ngomong seenak patellanya sendiri kalau pemerintah itu anti Islam, kebanyakan adalah orang-orang yang merasa mereka bisa berbuat sesuka hati mereka dengan keislaman mereka. Merasa bahwa Islam itu yang punya negara ini, bahkan yang punya bumi ini, sedangkan umat lain cuma ngontrak aja. Mereka hanya segolongan kecil orang Islam yang merasa bahwa mereka adalah representasi umat Islam seluruhnya. Mereka lupa bahwa dalam kerangka NKRI, kebebasan beragama suatu umat tidaklah menindih kebebasan beragama umat yang lain.

 

 

Orang-orang seperti itu, kapan mereka ngomong pemerintah anti Islam? Beberapa hal di antaranya:

1. Kalau ulama mereka kena masalah hukum dan diproses sama pemerintah.
2. Waktu toa masjid akan ditertibkan agar tidak mengganggu satu sama lain.
3. Waktu mereka demo nomor togel hanya karena satu orang yang ngomongnya 'dipelesetkan' oleh mereka sendiri, padahal proses hukumnya waktu itu sedang berjalan.
4. Waktu ada kasus terorisme.

Pada intinya, ketika kemauan mereka yang seenak musculus gluteus maximusnya sendiri itu 'ditertibkan' oleh pemerintah agar tidak ada superioritas satu agama atas agama lain, di samping memang agama bukan alasan untuk berlaku seenak umbilicusnya sendiri, mereka marah dan menuduh pemerintah anti Islam. Padahal kalau pemerintah anti Islam, tak usah bicara sidang isbat, kamu bikin masjid saja tak akan boleh. Quran harus cetak sendiri, terjemahin sendiri. Mau salat tidak ada jam istirahat/istirahatnya kurang. Lebaran gak ada libur atau cuti kecuali pada hari H-nya. Dan sederet kenikmatan yang kamu rasakan sebagai umat Islam di Indonesia saat ini, akan hilang.

Jadi kalau ada yang bilang pemerintah anti Islam, apa reaksi saya? Ya, jawaban saya klasik. "Matamu kobong!"

 

(Sumber: Facebook Aldinsjah)

Sunday, May 28, 2017 - 00:30
Kategori Rubrik: