Pemerataan Ekonomi : BUMN Hadir Meratakan Harga di Papua

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menunjukkan komitmen nyata dalam mendorong percepatan pemerataan ekonomi dan terwujudnya keadilan sosial terutama bagi masyarakat di daerah terluar, terdepan dan terpencil. Hal tersebut ditunjukkan dengan kunjungan resmi yang dilakukan Menteri BUMN Rini Soemarno ke di Propinsi Papua yang meliputi wilayah Jayapura, Puncak Jaya Mulia dan Wamena pada Senin (20/11/2017) lalu

Hadir dalam kunjungan tersebut, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wiroatmodjo, Direktur Utama PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) Agus Andiyani, Direktur Utama PT Semen Tonasa Subhan, Direktur Integrasi Logistik PT Pos Indonesia Barkah Hadimoeljono, Direktur Marketing dan Pemasaran PT Pertamina (Persero) Muchamad Iskandar dan sejumlah pejabat daerah lainnya.

Sebagai salah satu propinsi yang memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar, Propinsi Papua dan Papua Barat memiliki kontribusi besar dalam mendorong perekonomian Indonesia. Pemerintah hadir memberikan dukungan bagi pemerataan ekonomi di wilayah melalui sinergi antara BUMN dalam bentuk program penyetaraan Bahan Bakar Minyak (BBM), bahan pokok, dan penurunan harga semen serta program-program pemberdayaan lainnya yang mendorong ekonomi kerakyatan.

Kebijakan “Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga” di Papua dan Papua Barat merupakan upaya pemerintah mengurangi disparitas harga dalam mendorong percepatan pembangunan ekonomi. Penyetaraan harga BBM dilakukan dengan menambah jumlah Lembaga Penyalur (LP) total BBM Satu Harga yang telah beroperasi sejak tahun 2016 dan terus berlangsung di 2017.

Pertamina mencatat, kebutuhan BBM di wilayah Papua saat ini tercatat hampir mencapai 800 ribu KL per tahun dengan alokasi sekitar 500 ribu KL untuk wilayah Papua dan 300 ribu KL untuk wilayah Papua Barat dengan distribusi penyaluran BBM yang dilakukan melalui moda transportasi darat, laut dan udara. Hingga November 2017, di Provinsi Papua tercatat sudah 9 LP dan di Papua Barat terdapat 2 LP.

“Harga BBM di Papua sebelum 2016 berada di kisaran RP 50.000-60.000 per liter. Dengan adanya kebijakan BBM Satu Harga, harga penjualan BBM di Papua setara dengan wilayah Jawa dan Bali sesuai penetapan pemerintah dimana harga premium Rp6.450 dan Harga Solar Rp5.150. Kami akan terus mendorong penambahan jumlah lembaga penyalur, sehingga masyarakat di pelosok atau pedalaman Papua juga mendapatkan keadilan,” kata Rini.

Untuk tahun 2018, pemerintah menargetkan penyetaraan harga BBM di Papua terjadi di 14 titik yang antara lain tersebar di wilayah Bolkame, Abonaho Keerom dan Tolikara.

“Kondisi geografis dan distribusi menjadi tantangan dan kami terus menerus berupaya untuk atasi bersama dan kami optimis penyetaraan Harga BBM di titik-titik yang ditargetkan dapat terwujud. Dukungan dari pemerintah daerah, sinergi BUMN, masyarakat dan semua pemangku kepentingan sangat dibutuhkan bagi kemajuan kita semua dan pemerataan ekonomi,” ujar Rini.

Dalam program penyetaraan harga semen, pemerintah hadir memberi solusi terhadap tingginya harga semen yang mencapai Rp2 juta per zak sebagai akibat dari biaya transportasi yang tinggi serta proses distribusi yang panjang. Harga semen ukuran 40kg di Papua telah berhasil turun menjadi Rp500 ribu per zak (Harga Eceran Tertinggi/HET) dan telah berlaku di 6 kabupaten yaitu di Puncak Jaya, Tolikara, Lanny Jaya, Nduga, Yalimo dan Membramo Tengah.

Semen Indonesia telah bersinergi dengan PPI, Pelindo IV, Pelni dan Pos Indonesia dengan melakukan pengiriman semen perdana pada tanggal 1 Agustus 2017 dari Pelabuhan Makassar ke Pelabuhan Pomako Timika. Perampingan rantai suplai dilakukan dengan memanfaatkan jalur laut dari Makassar ke Timika, menggantikan rute sebelumnya dari Makassar ke Jayapura sehingga jarak tempuh menjadi lebih pendek dan memanfaatkan Tol Trans Papua yang telah tersambung. Semen yang semula diangkut menggunakan pesawat kini dapat menggunakan jalur darat dengan biaya yang lebih murah.

Semen Indonesia mencatat, total permintaan semen di Papua dan Papua Barat adalah 68.367 ton semen per bulan atau 820.408 ton per tahun. Sementara total realisasi penjualan semen @40 kg tercatat sebesar 585 ton yang tersebar di Jayawijaya 450 ton (HET: Rp390 ribu/zak), Lanny Jaya 4 ton (HET: Rp442 ribu/zak), Puncak Jaya 119,8 ton (HET: Rp500 ribu/zak), Yalimo 0,8 ton (HET: Rp465 ribu/zak), Tolikara 10 ton (HET: Rp453 ribu/zak).

Kebutuhan volume di Puncak Jaya sendiri tercatat 3.600 ton/ tahun yang terbagi sebesar 1.450 ton (29.000 zak) untuk kebutuhan proyek dan sebesar 2.150 ton (43.000 zak) untuk kebutuhan retail. Pengiriman semen ke Puncak Jaya dilakukan sesuai dengan kebutuhan dengan tetap menjaga ketersediaan stok di Puncak Jaya.

Dalam penyetaraan harga sembako, pemerintah terus mendorong penurunan harga bahan-bahan pokok seperti tepung, gula dan minyak goreng serta menargetkan penurunan harga sembako di wilayah Papua secara bertahap sebesar 25%.

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia bersinergi dengan Pelni, Pos Indonesia dan dibantu oleh TNI AU ini telah mengirimkan puluhan ton bahan pokok ke Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Puluhan ton sembako berisi gula, tepung, dan minyak goreng ini dikirim untuk dijual ke konsumen dengan harga 25% di bawah harga pasar sesuai target pemerintah. PT PPI melakukan efisiensi biaya distribusi melalui perubahan rantai pasok sembako yang semula melalui jalur Surabaya - Jayapura (dengan ekspedisi laut) - Puncak Jaya (dengan pesawat cargo) menjadi melalui jalur Surabaya - Timika (via Laut) - Wamena (dengan pesawat cargo dan pesawat Hercules) - Puncak Jaya (dengan truk kapasitas 1,5-5 ton/ritase), yang kemudian didistribusikan ke pasar, toko-toko dan unit PT Pos Puncak Jaya. Rute ini mampu mengurangi biaya logistik yang relatif masih mahal.

Saat ini tercatat, penurunan harga jual sembako di Puncak Jaya secara bertahap sudah mencapai 25% seperti di empat toko di Papua yaitu Tk Cipta Jaya, Tk Mulia Jaya, Pos Unit Puncak Jaya dan Pasar Mama Puncak dimana harga jual gula semula Rp29.000/kg menjadi Rp 21.750/kg, harga minyak goreng semula Rp 31.000/kg menjadi Rp23.250/kg dan harga jual tepung terigu semula Rp24.000/kg menjadi Rp18.000/kg.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Tuesday, November 28, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: