Pembunuhan Jokowi

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Jokowi, dalam kaitan pencapresan 2019, sering diposisikan anti Islam dan anti ulama. Bagaimana muncul tudingan itu, secara ujug-ujug, mengingat hal itu tidak muncul dalam 10 tahun periode memimpin Solo sebagai Walikota, dan dua tahun sebagai Gubernur Jakarta, dengan reputasi bahkan diakui secara internasional?

Tudingan itu lebih bersifat politis. Kita tahu, politik sering tak berkaitan dengan logika. Cara-cara menghancurkan lawan tentu alurnya memakai logika, namun yang dipakai sebagai alat, tak lagi berkorelasi atau bahkan anti logika. Tujuan menghalalkan cara. Cara apapun.

 

 

Sementara sosok Jokowi lebih mewakili kepentingan arus tengah, yakni nasionalisme religius. Lebih condong pada Islam Washatiyah, sebagaimana arus besar yang diwakili NU dan Muhammadiyah. Dengan dukungan partai-partai nasionalis sekuler seperti PDI Perjuangan, Golkar dan Nasdem, Jokowi dipandang kurang ramah pada mereka yang bermimpi tentang Piagam Jakarta (1945), dan kaum fundamentalisme.

Maka siapapun yang menjadi lawan Jokowi, dalam pencapresan, akan menjadi alat tunggang politik yang setidaknya lebih akomodatif untuk sementara. Apalagi, bagi yang dipandangnya ini kesempatan terakhir, capres yang ambisius bisa memakai segala macam cara pragmatis.

Senyampang itu, pemerintahan Jokowi yang dipandang bersih dari tautan masa lalu, tampak lebih bisa tanpa kompromi. Termasuk dalam membenahi permasalahan-permasalahan dasar yang selama ini belum tersentuh pemerintahan sebelumnya. Sebagaimana pengakuan Habibie, Jokowi dengan sangat tenang dan cerdas, mengurai satu-per-satu permasalahan di negeri ini. Hingga kelak mungkin saja sampai pada kejahatan-kejahatan Orde Baru dan kroninya, baik di bidang HAM maupun ekonomi.

Sementara itu, krisis yang terjadi di dunia Islam, ialah pada ketidakmampuannya memberikan kontribusi yang bertabrakan dengan tradisi. Konflik antara tradisi (masyarakat) lokal dengan nilai-nilai Alquran, yang sebenarnya tereduksi dengan kompromi nilai-nilai Pancasila dari sejak 1945, kembali muncul pada dekade 90-an, berkait dengan konstelasi politik global. Berbagai konflik di Timur Tengah, hingga saat ini, juga menjadi rujukan dalam memunculkan isu-isu konflik ke Indonesia.

Agama yang konon sebagai berkah dan rahmat bagi semesta, justeru bisa menjadi bencana. Dalam pandangan Islam kontemporer Hassan Hanafi, gejala salafiyah, seruan atas autentisitas yang mengajak kembali kepada yang lama, dianggap sebagai dakwah berbahaya. Berbahaya bagi masa kini, karena sarat kesulitan dalam mempertautkan dengan masa lalu. Makanya Jokowi hendak “dibunuh” atau disingkirkan.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, February 8, 2019 - 23:30
Kategori Rubrik: