Pemberontakan Enny Arrow

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Namanya Eni Sukaesih. Lahir di Hambalang, Bogor, pada 1942. Ketika zaman Soekarno, Eni adalah seorang jurnalis. Juga penulis yang suka memberontak. Pikirannya liar. Bebas.

Ia memberontak pada karya sastra saat itu yabg disebutnya elitis. Terlalu mendayu dan hanya bisa dibaca kelas terdidik. Padahal menurut Eni, semua lapisan masyarakat mestinya punya bacaan sendiri. Sesuai dengan seleranya. Sesuai dengan kelasnya.

 

Bosan dengan suasana Indonesia, Eni memutuskan ke Amerika Serikat. Bekerja sebagai copywriter di sebuah agency. Disanalah Eni mulai menuliskan karya-karyanya.

Dari AS, Eni mendapat pelajaran teknik menulis yang baik. Di AS karya-karyanya sering muncul di media. Tapi tentu saja kontennya berbeda dengan karya tulisnya berupa novel pendek yang diterbitkan dalam buku-buku kecil.

Karya Eni digemari anak muda di Indonesia. Denny Siregar sering kali menceritakan pengalamannya bergelut dengan buku-buku Eni. Buku pertama yang diterbitkan berjudul 'Senja Merah di Pelabuhan Djakarta'.

Pada bukunya Eni mengganti namanya. Dulu ia pernah bekerja di Tukang Djahit Arrow, di sekitar Kalimalamg. Maka ditambahkan nama Arrow di belakang namanya pada buku kecil karyanya. Ejaan Eni diganti menjadi Enny. Lengkapnya Enny Arrow.

Setelah itu mengalirlah buku-buku Enny Arrow dengan suguhan kisah yang sederhana. Hanya pada saat menceritakan adegan seks, Enny menceritakannya dengan subtil, detil dan kadang hiperbolis. 

Enny berhasil menemani imajinasi jutaan anak muda Indonesia untuk berkenalan dengan seks. Pada tahun 80-an, saat tontonan di TV masih sibuk dengan acara upacara dan basa-basi, Enny hadir. Mengebrak.

Kehadiran Enny mendahului video seks vulgar berbentuk VHS. Dulu bisa disewa secara sembunyi-sembunyi di tenpat penyewaan video. Ketika video itu bisa diakses anak-anak muda, Enny telah membekali mereka dengan imajinasi melalui tulisannya. 

Membaca kisah Enny Arrow, kita siajak memasuki pengalaman literasi yang imajinatif dan bikin ngos-ngosan. Anak-anak muda mencari sendiri jalan ledakan adrenalinnya. 

Enny wafat pada 1995. Tidak diketahui persis tanggalnya. 

Kini banyak orang yang memburu lagi buku-buku Enny Arrow sebagai bahan koleksi. Harganya lumayan. Buku pertamanya 'Senja Merah di Pelabuhan Djakarta', misalnya, ada yang berani bayar Rp2 juta. Padahal isinya hanya puluhan lembar.

Di perpustaan Den Hag, buku-buku Enny Arrow juga dikoleksi. Buku-buku itu menjadi semacam tanda bagaimana kelas bawah juga punya bacaan yang merangsang imajinasinya. Bacaan yang isinya tidak melulu normatif. Bacaan yang mengorek otak reptil manusia.

Sekarang mungkin teks sudah tidak terlalu laku. Anak-anak muda lebih mengenal Mia Khalifah atau Miyabi dibanding tokoh seperti Tante Sonya, yang kadang menjadi tokoh dalam novel Enny.

Mia Khalifah atau Miyabi tampil utuh. Efektif. Dan langsung. Tidak ada lagi ruang imaninatif ketika menontonnya. Berbeda dengan saat membaca Enny Arrow dulu. Seluruh urat syaraf berdenyut. Ruang dalam kepala diisi ganbar-gambar erotis yang imajinatif. Siapa pemerannya terserah kita mau diisi siapa. Sesuai dengan perbendaharaan visual masing-masing.

Kini novek Enny Arrow mungkin tidak lagi dinikmati. Isi kepala manusia sekarang sudah penuh dengan audio visual. Anak-anak muda mengenal pengalaman seks tidak lagi berupa hal yang imanijatif. Tapi lebih fulgar dan langsung.

Saya gak tahu. Apakah pemgalaman itu berpengaruh pada kehidupan nyata?

"Mas, ngapain sih, ujan-ujan nulis kayak begini?," celetuk Abu Kumkum.

Iseng, Kum...

(www.ekokuntadhi.id)

Saturday, February 22, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: