Pembenci Jokowi

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Waktu Jokowi maju sebagai Capres dari PDIP, teman saya dari partai islam sempat berkata, “ bagaimana seorang politisi yang baru kemarin sore berani maju ke panggung Politik nasional. Indonesia bukan Solo dan bukan Jakarta. Engga gampang menjadi pemimpin berkelas nasional. Jokowi itu bukan Pimpinan partai. Dia tahu apa soal politik.” Saya hanya tersenyum akan pendapatnya itu. Wajar saja. Karena selama Indonesia merdeka, tidak ada tokoh islam yang berhasil menjadi presiden. Memamg tidak gampang untuk menjadi seorang presiden di Indonesia. Apalagi di era Demokrasi bebas seperti sekarang ini. 

 

Proses penempatan Jokowi sebagai Cawapres, adalah keputusan kolektif jajaran Pimpinan PDIP. Apa dasarnya PDIP berani menempatkan Jokowi sebagai Capres? Mesin partai. PDIP berusaha menggalang koalisi dengan partai Golkar, PKB, PPP. Mengapa ? PDIP sangat yakin kemenangan Jokowi berkat kekuatan mesin partai koalisi. Tidak bisa berharap banyak dari ketokohan seorang Jokowi. Namun proses politik PDIP gagal menggandeng Koalis partai besar seperti Golkar, PKB dan PPP. Justru partai tersebut menjadi pendukung Capres dari Gerindra, Prabowo. Saat itu saya sempat berpikirkan bahwa PDIP sendiri engga yakin bisa memenangkan Jokowi.

Saya masih ingat waktu diskusi dengan teman aktifis Islam. “ Kalau Jokowi menang di Pilgug DKI, itu bukan karena dia lebih hebat dari calon lainnya. Tetapi orang memilihnya karena dia paling banyak difitnah dan dibenci oleh lawannya. Empati rakyat semaking tinggi ketika Jokowi tidak membalas kebencian itu. Dia memakluminya dan Ibundanya yang difitnah juga memaafkan. Nah kalau ingin mengalahkan Jokowi dalam Pemilu 2014 ini maka jangan ulang kesalahan kampanye Pilgub DKI. “ Kata saya. Kenyataannya dalam proses kampanye Pilpres 2014, kembali kesalahan terulang. Lawan Jokowi melakukan fitnah dan ujaran kebencian yang massive. Dan akhirnya Jokowi juga yang menang. Menang tipis. 

Saya bertemu dengan beberapa teman yang tadinya Golput dan memilih Prabowo, setelah debat keempat , mereka memutuskan memilih Jokowi. Alasannya karena sikap Prabowo yang arogan. Sementara Jokowi menghadapinya dengan lembut, tanpa ada reaksi berlebihan. Sebelumya orang tahu bagaimana kebencian kubu 02 terhadap Jokowi. Bagaimana hoax dan fitnah ditebar terhadap Jokowi. Debat keempat kemarin itu adalah puncak gunung yang akhirnya meletus. Secara vulgar publik menyaksikan dan menyimpulkan” benar, kebencian itu datang lebih karena karakter PS dan kubu 01. Kebencian terhadap Jokowi memang by design”. Inilah membuat swing voter menentukan pilihan terhadap Jokowi. Apappun idilogi dan agama orang, selagi dia waras dia tidak suka kepada orang yang membenci. 

Kelebihan dari TKN yang merupakan koalisi partai pendukung Jokowi, seperti Golkar, PKB,PPP, belajar dari kegagalan mereka mendukung Prabowo tahun 2014. Makanya mereka tidak pernah terjebak dalam ujaran kebencian terhadap pasangan Prabowo-Sandi. Sementara PKS yang mendukung Prabowo tidak belajar dari kesalahan tahun 2014. Mereka justru melakukan kesalahan yang sama. Akar rumput PKS aktif sekali menebar kebencian terhadap Jokowi. Justru PKS menjadi beban bagi Prabowo-Sandi. Makanya diujung masa kampanye, sikap PKS dan Ormas islam semakin tidak disukai oleh elite Gerindra. Tetapi sudah terlambat. Kemenangan Jokowi sudah bisa ditebak. 

“ Saya tidak membenci kamu, tetapi saya engga suka kamu ada dan saya jadi nothing.” Ya. Orang pembenci itu sebenarnya dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa seperti orang lain. Makanya Jokowi tidak pernah membalas kebencian itu dengan kebencian. Dia mencoba untuk memaklumi. Mengapa? “ Jika kamu bisa memaklumi orang lain, sikapmu tidak akan pernah mengarah pada kebencian dan hampir selalu mengarah pada cinta. ” Ya kekuatan cinta tidak akan pernah dikalahkan oleh apapun. Percayalah!

Monday, April 8, 2019 - 23:45
Kategori Rubrik: