Pembantaian

ilustrasi

Oleh : Cahaya Sutra

 Masih ingat tragedi Jonestown 42 tahun yang lalu, tepatnya terjadi pada 18 Nopember 1978 di Guyana, sebuah tempat terpencil di Amerika Selatan, dimana nyawa 909 orang pengikut kultus agama Peoples Temple ( Kuil Rakyat ) pimpinan Jim Jones, seorang pendeta sebuah sekte Kristen dari Amerika Serikat, melayang sia-sia, melakukan aksi bunuh diri massal dengan cara minum racun bersama-sama.

Kemudian pada 19 April 1993 kembali terjadi aksi bunuh diri massal di Wacco, negara bagian Texas, Amerika Serikat. Dimana para jemaat sekte keagamaan yang bernama The Branch Davidians, pimpinan David Koresh, melakukan bunuh diri massal dengan membakar diri mereka bersama-sama bangunan megah Mount Carmel Center ( Pusat Kegiatan Persekutuan Advent ) ; dalam peristiwa tragis ini 91 nyawa melayang sia-sia, termasuk anak-anak, wanita, dan David Koresh sendiri.

Pada tanggal 13 Maret 2019, penduduk sebuah desa di kecamatan Badegan, kabupaten Ponorogo, ramai-ramai meninggalkan rumahnya begitu saja, ada pula yang menjual rumahnya dengan harga amat murah, untuk berhijrah ( pindah ) mengikuti Katimun, pemimpin Padepokan Toriqoh Akhmaliyah Asholihiyah ke sebuah Pondok Pesantren di kabupaten Malang, akibat percaya ajaran pemimpin rohaninya bahwa hari kiamat sudah dekat. Hanya dengan cara berhijrah ke Malang maka mereka akan selamat.

Tragedi seperti diatas hanya akan terjadi apabila manusia tidak lagi mampu berpikir jernih dan kehilangan akal sehatnya akibat dogma yang diterima tanpa mampu menimbang baik dan buruknya.

Orang-orang yang mengikuti kultus keagamaan banyak yang jadi korban akibat keterbatasan pengetahuan mereka. Setiap hari mereka dijejali dogma ajaran yang mereka ikuti, mereka ditakut-takuti jika mereka berani tidak taat kepada ajaran yang mereka terima, ditakut-takuti bahwa mereka akan dikutuk oleh Tuhan dan dibuang kedalam neraka apabila mereka berani membantah ajaran sang pemimpin.

Pengikut sebuah kultus telah didoktrin sedemikian rupa, dijejali ajaran-ajaran yang tidak masuk akal setiap hari, setiap menit, dilarang membaca, mendengar, dan melihat, atau mengetahui ajaran lain diluar ajaran yang telah ditetapkan oleh kulkus yang mereka ikuti.

Akibatnya mereka jadi kehilangan akal sehatnya, tidak lagi mampu berpikir logis, perintah apapun yang ditanamkan oleh sang pemimpin wajib hukumnya untuk ditaati dan dijalankan seolah perintah Tuhan.

Pemimpin kultus dianggap sebagai titisan Tuhan yang wajib dihormati, bahkan dibela dengan taruhan nyawa.

Betapapun busuknya kelakuan sang pemimpin, akan tetap dihormati dan ditaati. Dalam anggapan mereka, pimpinan mereka adalah orang suci utusan Tuhan untuk menyelamatkan semua umat manusia, terutama manusia yang percaya dan taat kepada sang pemimpin.

Seperti itulah kejinya dogma !!!

Hal seperti diatas, sekarang sedang terjadi kembali di negeri kita tercinta ini ; dimana para pengikut FPI seolah menganggap bahwa MRS adalah seorang manusia suci yang diutus Tuhan untuk membebaskan bangsanya dari Dajjal.

Padahal setiap orang waras dapat melihat dan menilai seperti apa manusia MRS itu, tak lebih dari seorang tukang obat bermulut besar, cabul, dan pengecut. Seorang yang cuma pintar bicara, tak bermoral, tak punya akhlak, tapi ingin mencetuskan Revolusi Akhlak di negeri ini ... waras ... ???

Sampai-sampai baliho gambar MRS disembah-sembah oleh para pengikutnya, seolah menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa ... waras ... ???

Maka ... sadarlah wahai bangsaku, jangan terus berlaku bodoh dalam memeluk agamamu, jangan cuma percaya apa kata imammu. Pergunakan akal sehat dalam memeluk agama, karena bukan imanmu yang akan selamatkan dirimu, tapi perbuatan yang didasari Hikmat/Wisdom saja yang akan menuntun dirimu menjadi seorang manusia yang utuh ; manusia yang mampu menggunakan akal budhi yang dikaruniakan kepadamu oleh Penciptamu, itulah yang akan menyelamatkanmu dari Neo Kolonialisme, yakni penjajahan dalam nama agama, dimana orang terjajah, tapi tidak merasa terjajah ; diperbudak tapi tidak merasa sebagai budak.

Rahayu Sagung Dumadi ..

Sumber : Status Facebook Cahaya Sutra

Wednesday, December 2, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: