Pembacok Romo Gereja Badog, Benci Kaum Kafir

Ilustrasi

Oleh : Alim

Seperti niat saya, saya akan nulis soal pembacokan di Gereja St. Lidwina setelah duduk tenang. Nah, sekarang sudah duduk agak tenang, selepas maghriban di Masjid Nogotirto depan rumah. Kebetulan di masjid ketemu Buya seperti biasa. Tak saya sia-siakan, saya langsung wawancara.

Pagi tadi, setelah belanja di tukang sayur depan rumah saya, Buya ajak Pak Salam, tetangga sebelah, untuk makan di warung Bu Darmi sebelah utara Pasar Jambon. Nah Gereja Bedog St. Lidwina itu hanya 300 meter sebelah timur pasar.

Selesai makan, Buya dapat cerita dari pemilik warung bahwa telah terjadi pembacokan di Gereja St. Lidwina tersebut. Buya langsung menuju ke sana. Jadi semacam tidak sengaja sedang berada di dekat situ. 
Sampai di situ, sudah ramai orang, darah bercecer di mana-mana. Pelaku telah diamankan, korban telah dilarikan ke rumah sakit. Menurut pengamatan Buya, beberapa kepala patung di dalam gereja terpenggal kepalanya.

Siang tadi, setelah dari Gereja itu, Buya menjenguk pelaku di RS. Bhayangkara (dalam foto). Setengah jam lebih Buya berdialog. Head to head. Beberapa hal yang bisa saya ceritakan ulang di sini antara lain bahwa pelaku masih sangat muda, 23 tahun, kelahiran 16 Maret 1995. Pernah kuliah 2 semester dan mondok 3 tahunan di Jawa Tengah. Ia baru tinggal di area situ 5 harian. Pedang ia dapatkan dengan menjual Hpnya kemarin. Motifnya? Ia mengaku benci orang kafir. Dipenggalnya patung-patung itu agar tidak disembah. Ketika ditanya apakah ada kyai atau gurunya yang mengajarkan itu ia menampik. Ia suka baca2 buku sendiri. Luka tembak ia dapatkan di kaki, bukan di perut seperti diberitakan di situs berita dan medsos tadi siang.

Itu tadi datanya. Sekarang soal kesan. Kesan Buya terhadap orang itu; ia bisa diajak berbicara dengan baik, bicaranya nyambung. Meski demikian, agak kontradiktif antara dia berencana pulang ke rumah orang tuanya hari selasa besok tapi siap mati di Gereja itu hari ini. Secara umum, dia tampak waras. Oya, kesan ini saya dapatkan dengan bertanya kepada Buya satu persatu, bukan Buya yang menyampaikan seperti urutan cerita saya ini. Kesannya, ia pemain tunggal. Tapi selanjutnya, kata Buya, sedang diselidiki polisi. Penyelidikan harus profesional, hukum harus ditegakkan.

Apakah pelaku orang gila?

Bagi saya, semua pelaku tindakan brutal semacam itu adalah orang gila. Benar-benar tidak waras. Namun gila bukan dalam definisi klinis, misalnya skizofrenia atau panyakit sejenis. Soal diagnosis klinis ‘gila’ mari kita serahkan pada psikiater. Apalagi, diagnosis semacam ini amat terkait dengan proses hukum. So, serahkan pada ahlinya dan yang berwenang.

Sumber : Status Facebook Alim dengan judul Bacok#2

Monday, February 12, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: