Pemalsu Hadist, MCA dan Penyebar Hoax

Oleh: Muhammad Jawy

 

Pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, para tokoh muslim waktu itu membuat ijtihad untuk membukukan Quran sebagai backup plan atas transmisi penyebaran Quran yang tadinya hanya menggunakan hafalan dari orang ke orang. Waktu itu mereka tidak menuliskan perkataan Nabi, karena takut tercampur dengan Quran yang sedang ditulis.

Upaya merintis pembukuan Quran itu kemudian selesai pada masa Khalifah Utsman bin 'Affan ra, dengan mushaf yang dibuat bisa mengakomodasi tujuh cara membaca Quran (qira'ah sab'ah). Mushaf yang pertama ditulis itu sama sekali belum ada tanda baca, bahkan titik untuk membedakan ba', ta', tsa' pun belum ada, baru puluhan tahun kemudian, Abu Aswad Ad Du'ali yang memperkenalkan titik dan harakat.

 

 

Sebagai rujukan kedua setelah Quran, tentu saja adalah perkataan Nabi. Dengan berjalannya waktu, kondisi sosial politik masyarakat muslim juga berubah, menyebabkan mulainya ada misinformasi/disinformasi yang merusak perkataan Nabi. Ada yang karena lupa, ada yang karena kalimatnya terbalik, tapi mulai muncul juga kalimat rekayasa untuk kepentingan politik.

Situasi inilah kemudian yang memanggil para ulama untuk menyusun metodologi ilmiah dalam menangkal penyebaran hadits palsu yang berpotensi merusak ajaran Islam. Mulailah muncul fokus keilmuan yang kemudian disebut mustholah hadits, yang merupakan metode sistematis untuk menyaring hadits shahih dari mis/disinformasi. Kita mengenal para Imam mazhab seperti Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Abu Hanifah yang tidak hanya pakar di fiqh tetapi juga di ilmu hadits. Dan kemudian semakin matang di era Imam Tirmidzi, Imam Bukhari, Imam Muslim, dsb. Dan ilmu itu terus dipelajari hingga sekarang.

Apa yang dilakukan oleh para ulama besar itu tidak lain adalah melawan hoaks pada masanya, yang berbentuk narasi palsu, dengan jalur periwayatan yang tidak kuat. Sebuah hadits terdiri dari matanya (isi teks) dan riwayat, meski matan terlihat baik, tetapi jalur riwayat sangat lemah, maka hadits itu tidak diterima.

Nah, di era digital sekarang ini, seharusnya seorang muslim bisa berkaca dengan hal tersebut, ketika informasi yang dikunyah itu dipilah betul sumbernya. Lucu sekali kalau ada kelompok yang menyematkan nama "muslim", tetapi perilakunya justru bertentangan dengan semangat ilmu hadits. Bahkan yang ada, kecaman dari MUI, Muhammadiyah NU kepada mereka karena menghalalkan segala cara, memfitnah, mengghibah, namimah kepada orang lain. Mereka penyebar hoaks ini lebih tepat disamakan dengan para pemalsu Hadits pada masa awal tumbuhnya Islam.

Penyebar Hoaks di Indonesia ini tentu saja tidak hanya orang Islam, tetapi sungguh aneh jika hoaks bisa tumbuh subur di negeri yang mayoritasnya adalah ahlul hadits, para pecinta hadits. Bagi pecinta hadits, tentu saja standar atas kualitas informasi menjadi parameter penting. Sehingga tentu saja sebagai seorang muslim, kita dituntut punya imunitas lebih dalam menyaring informasi, bahkan jika informasi sesat itu merugikan lawan kita. Sangat lucu jika kita yang muslim, apalagi berkoar-koar dengan menyematkan kata muslim dalam gerakannya, tetapi perilakunya melawan nilai-nilai Islam yang paling mendasar.

Ngaku muslim, tapi perilaku pemalsu Hadits.
Itu ibarat pepatah Arab, "Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila. Tetapi Laila tidak pernah mengenalnya."

 

(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)

Monday, March 5, 2018 - 23:30
Kategori Rubrik: