Pelukan Maut Sang Jendral "Kardus"

Ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Mental ANDI ARIEF - Wakil Sekjen Partai Demokrat (PD) ternyata hanya sekualitas tas kresek hitam. Jauh di bawah kualitas sebuah kardus. Terbukti omongan dia hanya "kresek-kresek" sesaat, setelah itu layak dibuang ke tempat sampah. Tidak bermakna. Tidak berharga. Kenapa begitu ?

Tuduhan yang disuarakan dengan lantang oleh Andi Arief tentang uang mahar politik masing-masing Rp 500 Milyar untuk PKS dan PAN yang diberikan oleh Sandiaga Salahuddin Uno agar 2 partai itu tidak protes dan tidak nyinyir atas pencalonannya sebagai Cawapres Prabowo, ternyata tidak berani dipertanggungjawabkan di depan Bawaslu. Meskipun secara implisit Sandiaga Uno sudah mengakui secara tidak langsung tuduhan tersebut. Begitu ada elemen masyarakat melaporkan hal itu ke Bawaslu, sebagai saksi kunci ternyata nyali Andi Arief langsung mengkeret seperti ayam sayur basi.

Sebelumnya Andi Arief juga dengan sok berani menuding Prabowo Subianto sebagai seorang JENDERAL KARDUS. Julukan Jenderal Kardus ini bisa bermakna bahwa Prabowo adalah seorang yang plin-plan, seorang yang tidak punya integritas atau bisa jadi seorang yang tidak bisa dipercaya atau Jenderal yang tidak punya nyali alias kosong melompong.

Tapi kemaren, Kamis 13 September 2018 dia terlihat munduk-munduk sowan ke Prabowo untuk minta maaf. Saya haqul yaqin Prabowo bukan tipikal orang yang mudah memaafkan. Meskipun di depan media dia menunjukkan keakrabannya dengan Andi Arief dengan merangkul, tapi perhatikan dengan seksama gesture rangkulan Prabowo. Sama sekali bukan sebuah rangkulan yang tulus dan bersahabat. Terlihat nyata dengan TANGAN TERKEPAL dan MATA TAJAM MENGHUJAM serta tarikan bibir yang terlihat gemas menahan amarah.

Dan lihat senyum kepasrahan bin ketakutan yang diperlihatkan Andi Arief. Terlihat pasrah berserah. Matanya layu penuh kekerdilan. Dan gigi ompong-nyapun terlihat menggigit angin. Andi Arief telah menunjukkan kelasnya sebagai petarung kelas bulu tikus. Yang sok berani mencicit di awal tapi menyerah kalah saat pertandingan belum dimulai. Dia bertekuk lutut dipiting sebuah rangkulan maut.

Sejatinya Andi Arief bukan orang asing bagi Prabowo. Karena pada kurun waktu tahun 1997 - 1998 dia bersama dengan 22 orang aktivis menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh Tim Mawar Kopassus. (Hasil uraian mantan Anggota Dewan Kehormatan Perwira ABRI yang memeriksa Prabowo Subianto).

Saat itu Andi Arief menjabat sebagai Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa untuk Keadilan (SMID). Dia ditangkap dan diculik saat berada di Rumah Susun Kelender Jakarta Timur pada tanggal 13 Maret 1998.

Namun nasib pria kelahiran Bandar Lampung 20 November 1970 itu masih tergolong beruntung. Andi Arief menjadi salah satu dari sembilan korban penculikan yang akhirnya dilepaskan. Mereka yang dilepaskan adalah Mugiyanto, Desmod J Mahesa, Faisol Reza, Pius Lustrilanang, Raharjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto dan Haryanto Taslam.

1 orang aktivis yang bernama LEONARDUS GILANG ditemukan meninggal terbunuh dan 13 orang aktivis lainnya yang juga diculik seperti WIJI THUKUL, DEDI HAMDUN (suami dari artis sexy Eva Arnaz) dan lain-lain sampai detik ini hilang tak tentu rimbanya. Besar kemungkinan mereka sudah meninggal atau dibunuh.

KITA MENOLAK LUPA. Bagi para pendukung fanatik Prabowo Subianto saya sarankan membaca sejarah kelam Indonesia tahun 1997 - 1998. Siapa tahu anda akan mendapat pencerahan dan kembali ke jalan yang lurus.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa pelukan (lebih tepat CENGKERAMAN) "Sang Jenderal Kardus" dan politisi "tas kresek hitam" itu ?

Dari mereka kita belajar bahwa menjadi orang konsisten itu perlu integritas, komitmen dan kehormatan. Dan mereka contoh terbaik orang YANG GAGAL mewujudkannya.

Salam Satu Indonesia,
14092018

#JokowiLagi

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Saturday, September 15, 2018 - 19:30
Kategori Rubrik: