Pelintiran Hasil Pilkada yang Dilakukan AMPG

Oleh: Made Supriatma

 

Perolehan Partai di Pilkada? Gambar dengan tabel warna-warni ini muncul berkali-kali di akun media sosial saya. Setidaknya, saya ketemu gambar ini di WhatsApp group, Facebook, IG.

Pembuat gambar ini, sesuai dengan logonya adalah AMPG. Kalau itu benar, maka AMPG itu tidak lain dan tidak bukan adalah Angkatan Muda Partai Golkar. Memang ada juga logo Golkar disana. Saya tidak bisa mengkonfirmasi apakah ini benar dikeluarkan secara resmi oleh AMPG atau tidak.

 

 

Tapi tidak masalah. Gambar ini beredar luas. Itu yang jadi soal. Kita setia pada gambar ini saja karena banyak orang memamahnya mentah-mentah.

Benarkah Nasdem dan PAN mendapat nilai tertinggi masing-masing 58,8% dalam Pilkada serentak ini? Golkar mendapat 52,94%; diikuti Hanura 52,9%; PKS dan PPP masing-masing mendapat 41,2%. PKB dan Partai Demokrat berdiri pada 35,3%; dan yang paling kasihan adalah PDIP yang hanya mendapat 23,5%; sementara paling buncit adalah Gerindra yang hanya duduk di 17,6%.

Dari kemarin saya bertanya-tanya. Apa artinya persentase ini? Apakah dia bicara sesuatu?

Dalam Pilkada seorang kandidat didukung oleh koalisi partai-partai. Ketika seseorang mencalonkan diri, dia mencari tumpangan partai-partai politik. Pada umumnya kandidat membayar yang namanya "mahar" kepada partai-partai itu.

Partai-partai inilah yang kemudian menjadi 'mesin elektoral' si kandidat. Orang-orang dalam partai ini, akan mencari orang-orangnya di grass-roots. Nah, disini kandidat membayar mahar lagi agar mesin ini bergerak. Tentu disamping membuat mesin bergerak, masinis dan sopirnya juga harus dibayar bukan?

Pemilihnya? Kalau yang ini, mungkin Sodara mengerti dari mana istilah "Serangan Fajar" berasal.

Ketika seorang kandidat menang, apakah ini juga adalah cerminan dukungan kepada partai? Sulit untuk mengukurnya. Tidak ada jaminan bahwa kemenangan Khofifah-Emil di Jawa Timur adalah kemenangan Partai Golkar dan Demokrat; serta kekalahan PDIP.

Sekali lagi, kandidat didukung oleh koalisi partai. Dalam hal ini, suara yang diperoleh kandidat itu BISA JADI (hipotetis) adalah suara gabungan dari partai. Namun, banyak juga pemilih yang memilih berdasarkan orang.

Di Sulawesi Selatan, pasangan Nurdin A-Sudirman bisa mengalahkan dua klan oligarkis yang sangat berkuasa di propinsi itu. Banyak orang mengatakan bahwa pasangan ini menang karena pemilih muda di perkotaan dan suburban yang rasional memilih pemimpin dan tidak terikat pada ikatan partai dan patronase.

Jadi apakah artinya Partai Golkar mendapat 52,94% dalam Pilkada langsung ini? Jelas tidak. Kalau saya membacanya begini: 52,94% dari pemenang Pilkada 2018 ikut didukung oleh Partai Golkar. Partai Golkar hanya satu komponen dari koalisi pendukung seorang kandidat bersama-sama partai lain.

Adakah itu mencerminkan kekuatan Partai Golkar? Ya nggaklah. Jelas tidak bisa disamakan kekuatan elektoral Partai Golkar dengan Nasdem (yang peringkat 1), misalnya.

Kalau demikian, benarkah ini mencerminkan PDIP dan Gerindra keok? Ya nggak juga. Itu menyesatkan. Angka-angka ini tidak bicara apa-apa.

Nah, sekarang kita masuk ke bagian kedua. Lalu, mengapa orang membuat "angka-angka yang sesungguhnya tidak bicara apa-apa" ini?

Disinilah sisi pelintiran politiknya. Orang awam terpesona dengan angka. Kalau Anda berdebat, Anda mengeluarkan angka, itu artinya Anda sudah 50% menang ... he he he ... Orang takut pada angka. Orang segan pada angka. Orang selalu menganggap angka itu sebagai kemutlakan.

Angka 23,5% sudah cukup membuat para Cebongers pendukung PDIP gelagapan. Dan, kemudian menghibur diri, ah Gerindra juga cuman dapat 17,6%. Padahal sebenarnya angka ini tidak mencerminkan apa-apa.

Untuk saya, ini adalah sebuah "political gimmick," yang tidak salah juga. Sama seperti supermarket yang mengumumkan diskon 30% untuk daging. Ada catatan kecil dibawahnya -- diskon tergantung dari ketersediaan. Yang disediakan adalah daging yang sudah diluar selama seminggu dan kedaluwarsa dalam dua hari. Ini tidak salah sama sekali. Tapi gimmick diskon 30% itu sangat bagus bukan?

Kesimpulan saya, angka-angka ini menyesatkan kalau kita tidak bisa membacanya. Dan, ya itu tadi, angka-angka ini sesungguhnya tidak bicara apa-apa. Tapi saya terkesan dengan pembuatnya.

Bukankah dulu selama 32 tahun mereka bikin ini dan kalian percaya saja? Dan kini, mereka bikin lagi, dan kalian juga percaya? Kalau ya, kali ini saya percaya bahwa kodok bisa tertawa!

 

(Sumber: Facebook Made Supriatma)

Thursday, June 28, 2018 - 16:00
Kategori Rubrik: