Pelbagai Sudut Politisasi Islam

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Siapa yang memiliki domain atas Islam di Indonesia ? Kemenag kah? MUI kah ? FPI kah ? PKS kah ? Wahabi kah ? Jamaah tableg kah ? Pendukung khilafah kah ? Muhammadiyah kah ? Nahdlatul Ulama kah?

Fenomena ragam persepsi terhadap suatu agama terjadi juga pada agama selain Islam. Tapi tak seheboh dalam Islam soal baku-klaim bahwa kami yang paling benar.

Di jaman dulu, saat masih belum ada yang reseh. Yang muncul perbedaan antara NU dan Muhammadiyah hanya soal kunut, jumlah rakaat sholat terawih dan penetapan jatuhnya hari raya. Tak ada serangan membabi-buta seperti yang dilakukan wahabi belakangan ini. Yang tak sama dengannya disalahkan semua. Menjadi gaduh lah ruang publik Indonesia. Bahkan HTI mendapat ruang lebarnya di jaman SBY, mereka menggunakan Gelora Bung Karno dan ditayangkan televisi negara TVRI mencanangkan khilafah. Pancasila toghut. Kaidah premanologi sesama reman dilarang saling mendahului pun dilanggar oleh mereka. Mereka seperti Amerika yang unilateral.

Santri Kalong :
Mereka adalah alat proxy Barat (Amerika, Israel, Saudi dan Inggris dll) melakukan kamuflase dalam kesing Islam. ISIS dan segala tampilan wajah Islam yang terlaluh lainnya adalah kamuflase dalam wajah lain. Tujuannya merusak Islam dari dalam Islam itu sendiri. Setelah perang dingin selesai dengan kekalahan Blok Komunis, gantinya Barat memilih musuh barunya yakni Dunia Islam dengan merusak Islam dari dalam. Inilah peperangan yang penuh dengan segala kamuflase. Kemenangannya adalah kecerdasan peradaban. Kebodohan peradaban lah yang membuat amunisi kamuflase mereka masih menang. Tapi fajar kesadaran baru telah terbit. Libya adalah negeri sejahtera serba gratis di bawah Muamar Qadafi. Rakyatnya terpengaruh hape, sekarang menyesal serba susah , kisruh terus. Barat menyasar negeri-negeri muslim sebagai ganti Perang Dingin. Industri alutistanya harus laku. Cari ribut supaya ada perang. Kalau tidak sampai perang minimal ribut terus supaya terus bergantung utang luar negeri. Supaya politik nasionalnya lemah, sumber daya alam gampang dijarah. Supaya penjajahan mereka terus berlanjut. Itu pandangan saya terhadap mereka Dul. Mereka tak ubahnya anak panah di tangan musuh. Tampilannya saja Islam, dalamnya adalah alat proxy.

Dul Kampret :
Di awal kemerdekaan ada satu partai bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesa (Masyumi). Ini dulu partai hebat, isinya intelektual dan cendekiawan muslim. Mati ditangan Soekarno, dibubarkan bersama PSI dan Murba. Alasan Bung Karno karena Masyumi terlibat dalam gerakan makar Darul Islam. Bung Karno tidak bubarkan PKI. Soeharto yang bubarkan PKI. Gus Dur bubarkan Golkar, namun Golkar tetap hidup gak apa-apa. Kesininya sudah tak ada presiden bubarkan partai. Jokowi bubarkan HTI, harga agar NU mendukungnya di Pilprsles 2019. Kalau sudah terpilih, suruh pecat ASN terpapar khilafah saja enggan gerak. Masih putar main wacana, koruptor mau dihukum mati katanya kalau rakyat mau.

Partai sekarang akan mati kalau duitnya kurang. Partai bubar sendiri. Untuk tetap hidup partai sekarang harus banyak duit. Makanya lima tahun sibuk kuli dan jualan : jualan perahu tarik mahar, antre berebut proyek, bentuk reman-reman Ormas dan klaim-klaim. Jokowi yang jelas-jelas hidup sebagai Tukang Kayu, dikalim kader PDIP.
Partai Islam jaman Soeharto terbonsai di PPP. Pertama berlambang Ka'bah. Kemudian Soeharto takut, disuruh ganti lambang bintang. Sambil dibesarkan iklan bir bintang di tiap perempatan jalan. PDI selalu jadi juru kunci dalam enam Pemilu 1977-1997 di era Orba.
Di era reformasi muncul PKS. Endemik politik baru yang datang belakangan membawa angin Ihwanul Muslimin ke Indonesia.
Jadi. Menurut saya, selain faktor berakhirnya perang dingin, ada juga stori sebelumnya tentang politik muslim Indonesia. Bukan begitu Pace?

Pace Yaklep :
Politik ini kadang bikin pusing. Agama diperalat. Semua yang punya nama baik diperalat. Bahkan Tuhan pun diperalat. Allahuakbar dijadikan yel-yel untuk petentengan. Muslim Guyub lawan muslim petentengan. Ini yang saya dengar dari Pakde Likin. Saya patokannya NU dan Gus Dur. Banser Ryanto rela mati menyelamatkan jemaat Eben Eizer Mojokerto natal tahun 2000. Itu hal luar biasa. Bukankah demikian Wan.

Wan Bodrex :
November tahun 1945 yang baku hajar di Surabaya adalah rakyat dibawah Resolusi Jihad Kiai Hasyim Asyari. TNI batu lahir 5 Oktober 35 hari sebelum 10 pecah November, belum apa-apa. Inggris dendam karena Malaby mati. Makanya lewat agen mereka di komunis, pusat sejarah NU di Madiun (Kiai Hasan Besari, Tegalsari) dikacau dengan sumur pembantaian tokoh pesantren.
Kejahatan biadab ini masih diperkenankan ikut Pemilu 1955. Kemudian bikin kacau lagi du 1965. Setiap upaya akan menyasar NKRI dan bangsa Indonesia, modusnya akan ganggu NU. Garis lurus adalah upaya hancurkan NU dari dalam NU. Kalau NU tumbang selesai Indonesia.

Bung Cebong:
Muslim Indonesia itu pangsa pasar. Siapa mau jualan obat, cukup hafal satu dua ayat dipoles retorika dan pengalaman seperti Sugi, akan mudah terkenal. Punya jemaat, ini kavling untuk kaya. Modus ekonomi juga ada disini. Model preman yang sekarang ini lancar. Gak preman gak aman. Gak preman gak keduman. Sesama preman dilarang saling mendahului bis kota. Anda sopan kami segan. Selagi masih bisa dipersulit kenapa harus dipermudah. Selama Orla Soekarno nunut urip (NU) di komunis-Uni Sovyet. Selama Orba Soeharto nunut urip (NU) di kapitalis-Amerika. Era reformasi ini Tiap Presiden nunut urip (NU) mana suka siaran niaga, pada duit. Kursi DPR duit, kursi menteri duit. Era bahaya, karena rakyat sulit duit, habis di elit. Rakyat perlu tingkatkan aktivitas angkringan kopi. Waspada dan cari solusi. Merebut kekuasan dan cara berkuasa yang konsepnya boleh NKRI harga mati, tapi rakyatnya tidak setengah mati.
Kalau perut lapar isyu agama model apa saja akan jadi umpan pelet karet yang tidak membuat kenyang.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Friday, December 13, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: