Pelakor dan Poliamor

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Pada tahun 1866, Gereja Katolik Roma secara resmi melansir larangan berpoligami. Kesimpulan cepat bisa ditarik bahwa sebelum itu tak ada larangan. Laku polygamous, meski tak dominan, bukan sesuatu yang terlarang hingga kemudian aturan tersebut berkumandang.

Di dunia, praktik polygyny masih dikenal secara luas di benua Afrika. Pengimbang untuk kawasan ini adalah Asia, hanya di 3 negara: Indonesia, Malaysia dan India. Kebudayaan Islam jadi penanda persamaan mereka bertiga, meski praktik tersebut juga ditemukan di 4% dari populasi Hindu di India.

Traditionally, China mempraktikkan polygyny sejak 3000 tahun lalu, menerus dan meluas hingga eksploitasi sex pada anak-anak berusia 8-12 tahun. Dalam usia semuda itu mereka sudah menjadi budak sex resmi para lelaki. Tak jarang ditemukan gadis berusia 15 tahun telah mengalami 3 kali perkawinan. Keadaan berubah secara radikal ketika pada tahun 1950 pemerintah Cina menerbitkan aturan yang melarang laku polygamous.

Secara umum diketahui bahwa kawasan yang memperbolehkan laku polygynous mencatat ribuan kasus eksploitasi sex. Selalu gadis berusia belasan yang jadi korban. Polygyny berbanding lurus dengan pertumbuhan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kawasan yang masih membolehkannya memang menaruh perempuan dalam kedudukan yang jauh di bawah lelaki.

Laku polygynous bukan hal aneh di Indonesia. Laporan Komnas Perempuan mencatat bahwa keberlakuannya masih ditemukan secara luas. Tak selalu Islam yang jadi penanda. Tradisi dan adat Indonesia sudah sejak lama merestuinya.

Di kawasan Batak Toba, suku yang pre-dominantely Kristen, masih bisa kita temukan keluarga dengan istri dua. Umumnya itu terjadi karena istri pertama ‘gagal’ mempersembahkan anak atau, secara khusus, anak lelaki.

Secara umum praktik polygyny juga bisa kita temukan dalam tarombo (pohon silisilah) Batak. Keberadaan moyang yang memiliki lebih dari satu istri tercatat di sana dan dengan demikian menyimpulkan kepada kita bahwa praktik tersebut pernah berlaku jamak pada jamannya. Di suku Dayak Ngaju angkanya jauh lebih tinggi. Demikian dengan kawasan Papua dan sebagian Maluku. Di Jawa, polygyny umumnya terjadi di kalangan priyayi.

Meski dengan aman kita boleh berkata bahwa mayoritas penduduk Indonesia menganut laku monogamous, angka perceraian di beberapa kawasan perlu mendapat perhatian. Tak terlalu sulit menemukan seorang lelaki yang menikah lebih dari dua kali, demikian juga dengan perempuan meski dalam jumlah yang lebih kecil. Walau tak menganut paham poligami, kepada mereka bisa kita kenakan istilah baru: serial monogamous, yang pada intinya mencatat kehadiran lebih dari 1 istri secara serial dalam hidup seseorang.

Sebaliknya, walau terbilang kecil, polyandry ditemukan di kawasan Brazil,Tibet, India, dan Nepal. Di suku Toda, seorang perempuan diberi jatah menikahi seluruh anak lelaki dari satu keluarga. Para anak lelaki ini menentukan sendiri jadwal mereka tidur dengan istri.

Tak seperti polygyny yang memuncratkan eksploitasi sex dan kekerasan, laku polyandrous mempersembahkan kepada kita sebuah upaya pemuliaan hidup: perempuan mempertinggi probabilitas kehamilan dalan tubuhnya dengan menyambut tubuh-tubuh lelaki pada hari yang sama agar segera lahir lelaki-lelaki baru untuk membajak sawah dan memperbaiki lingkungan. Polyandry kerap hadir sebagai jawaban bagi persoalan alam

Meski kekristenan bukan merupakan asal darimana ketentuan praktik monogami lahir, namun harus diakui dengan tegas bahwa agama Kristen memberi pengaruh besar, kalau tidak mau dikatakan satu-satunya, solely, bagi perluasan budaya monogami. Ekspansi agama Kristen ke banyak kawasan telah dengan sukses membunuh budaya polygyny dan polyandry. Akibat sampingan segera terasa: timbulnya keseragaman. Upaya unik dan lokal, dalam menjawab persoalan komunitas, diabaikan.

Agama Kristen menentang laku polygamous bukan atas alasan yang bersifat alamiah namun semata berpegang pada ketentuan moral. Seisi dunia harus monogamous, demikian kredo pengikut Kristus. Tak peduli apa keunikan sebuah kawasan dan persolan lokal yang mereka hadapi, memiliki lebih dari satu istri atau suami bakal mengantarmu pergi ke neraka. Sebab polygamous dipersepsikan selalu adalah tentang sex berlebih, lust, gairah, berahi membludak, sehingga karenanya Allah tersingkirkan dari pusat kehidupan.

Hidupmu tertuju dan hanya untuk Allah. Terlalu sedikit dari mereka yang bersedia berpikir waras: itu haluan berpikir yang menempatkan manusia hidup di hadapan Maha Dewa, yang karena kemahaannya Ia menjadi rakus akan segala, menuntut semua hal, sebab hanya dengan itu Ia terpuaskan. Tapi perlu juga diakui, sejak budaya monogamous merebak di seluruh dunia, peradaban—dengan kemajuan teknologi sebagai penandanya—bertumbuh pesat.

Masyarakat berubah. Nilai-nilai berubah. Persoalan dan tantangan selalu baru dan membarui. Karenanya sistem hidup pun berubah.

Sastra, sinema, serenada, dan banyak karya budaya lain memberitakan kepada tiap-tiap kawasan tentang keunikan masing-masing tempat. Tak lagi melulu di Roma, cinta sejati, kesetiaan, damai-sejahtera dalam keluarga yang segenap anggota saling mencinta, dikabarkan dengan meriah. Sastra membuat laku monogamous menemukan tempat terbaik dalam peradaban. Sebab kemenduaan, kata para pujangga, membuatmu terasing dari dirimu yang sejati. Kesetiaan pada cinta, pada istri, pada anak-anakmu, membawamu ke kebahagiaan abadi. Potret keluarga dengan satu istri dan satu suami, dan dengan para anak tersenyum ceria, menghias sudut-sudut kota.

Internet lalu menghapus semua jarak. Warta tentang kesucian keluarga merasuk seisi rumah. Problem lokal diabaikan. Sekali lagi, beristri dua adalah dosa besar. Sebaliknya, di sebagian Muslim, beristri dua atau lebih adalah ibadah. Dua kepercayaan ini sama-sama tak peduli pada kekhususan.

Pada tahun 1710 sebuah studi melansir apa yang disebut tingkat kesehatan masyarakat. Salah satunya menyepakati bahwa demografi yang sehat adalah keberadaan 105 sampai 107 lelaki bagi 100 perempuan. Jika rasionya berada di atas itu, angka pembunuhan dan kekerasan naik tajam. Studi tersebut dikonfirmasi oleh para sosiolog hingga sekarang. Teori kebijakan publik mempelajarinya dengan seksama. Tapi agama, terutama Kristen, membutakan telinga dan mata. Kesimpulan mereka tetap, setetap surya mekar setiap pagi. .

Di Latvia angka pembunuhan dan bunuh diri naik tajam setelah negara itu membukukan tingkat kesenjangan populasi tertinggi dalam sejarah. 54.8% dari penduduknya berjender lelaki. Pria di Latvia memiliki tingkat kematian yang tinggi karena masalah seperti alkoholisme, merokok, dan mengendarai mobil secara ceroboh. 80% kasus bunuh diri di Latvia disumbang laki-laki, seringkali karena pengangguran dan rencana pencapaian keuangan yang belum terealisasi.

DI Latvia, perempuan menikmati umur harapan hidup lebih baik, 11 tahun lebih panjang dibanding pria.

Angka perceraian di Eropa dan Amerika naik tajam dalam 20 tahun belakangan: 50% dari seluruh angka pernikahan. Kenaikan sebangun—kalau dilihat dari persentase pertumbuhan—juga terjadi di Indonesia dan di semua negara modern.

Apa kata agama: poligami mengantarmu ke neraka. Firman Allah ya dan Amin, tak berubah sepanjang masa.

Halleluyah 7 kali.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Sunday, February 25, 2018 - 00:30
Kategori Rubrik: