Pelajaran Sosial Distancing

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

Ada dua kisah menyentuh yang berhasil saya ingat tentang hal-hal serupa social distancing. Saat dimana mobilitas kita terbatas, pun juga untuk berinteraksi. Pertama adalah buku Zlata's Diary. Zlata Filipovic, gadis kecil yang tinggal di Sarajevo, menuliskan hari-harinya saat pecah perang Bosnia. Perang etnis yang akhirnya meruntuhkan Yugoslavia.

Zlata menulis, perang telah merenggut masa kanak-kanaknya. Ia tak dapat lagi bersekolah ataupun bermain bersama teman-temannya. Sekolah tutup, sedangkan gempuran Serbia Croatia datang setiap waktu. Membuat keadaan menjadi tak aman untuk berada di luar rumah, apalagi bagi anak-anak. Bahkan keluarga Zlata tak lagi berani tidur di kamar tidur mereka, karena kebetulan menghadap lapangan terbuka, rawan serangan bom ataupun tembakan. Demi keamanan, mereka semua berdesak-desakan di ruang tengah.

Segera saja listrik dan gas padam. Hal-hal yang selama ini terasa mudah, mendadak menjadi merepotkan. Ibunya terpaksa memasak dengan kayu bakar, dan pekerjaan tersebut menjadi sangat memakan waktu. Ayahnya kemudian harus merelakan perabot-perabot kayu menjadi bahan bakar. Dalam sekejap ayah ibunya terlihat jauh lebih tua karena letih. Namun hal yang paling menakutkan bagi Zlata adalah saat ayahnya harus meninggalkan rumah untuk mencari bahan makanan ataupun kebutuhan lain. Di tengah kecamuk perang. Zlata pun dilanda bosan dan sepi daei hari ke hari.

Kisah kedua adalah episode The Long Winter dari seri Laura Ingalls Wilder. Dikisahkan saat itu musim dingin yang panjang. Hampir tiap hari badai salju bertiup, membuat perjalanan kereta api terhambat, bahkan akhirnya dihentikan. DeSmet, tempat tinggal Laura, adalah daerah baru yang masih sangat menggantungkan logistik dari kereta api. Segera saja DeSmet menjadi kota yang terisolir. Bahan pangan terbatas, demikian juga batu bara, satu-satunya bahan bakar untuk pemanas ruangan di musim dingin yang panjang itu.

Apakah kota itu panik? Baik kisah Zlata maupun Laura tidak menceritakan kepanikan. Tak ada kisah penduduk ngeyel yang tetap nekat keluyuran di tengah desingan peluru dan mortir dalam catatan Zlata, alih-alih ribut karena tak dapat pergi ke rumah ibadah.

Dalam kisah Laura pun tak ada panic buying. Batubara terakhir diborong seorang bankir dengan harga cukup tinggi. Warga lainnya tidak lantas berbuat keributan. Berdasarkan selentingan tentang adanya petani di selatan yang memiliki cukup banyak persediaan gandum, dua orang pemuda nekat menembus badai salju untuk membeli gandum bagi kebutuhan warga. Solving problem. Bertindak dan bukan hanya berwacana.

Solving problem pula yang dilakukan masyarakat untuk mencari pengganti batubara dalam kisah itu. Mereka memilin jerami, sehingga sepadat kayu, untuk kemudian dibakar dalam tungku pemanas.

Baik keluarga Zlata maupun Laura pada akhinya mampu melewati masa-masa berat itu dengan tabah. Menjalaninya dengan lapang dada tanpa mencari kambing hitam. Mangharap bantuan pemerintah, drop-dropan sembako, uang jaminan hidupdan aneka jaring pengaman sosial lainnya jelas tak mungkin. Belum lazim pada masa itu.

Entah mengapa saya melihat kesamaan kedua kisah tersebut dengan masa-masa pandemik Corona ini. Keduanya terpaksa membatasi berada di luar rumah. Keduanya pun berhadapan dengan kelangkaan bahan makanan dan sumber daya. Dan keduanya tidak serta merta kaget, panik lalu kemudian hanya bisa menyalahkan.

Yang paling indah dari kisah Laura adalah saat badai akhirnya berhenti dan salju mencair. Kereta api kembali bisa mencapai DeSmet. Penduduk kota itu kembali berkelimpahan. Mereka kemudian bersama-sama merayakan natal yang tertunda, natal di bulan Mei. Dan semua penduduk bisa menerimanya, tidak saling debat sok tahu.

Badai pasti berlalu. Kita hanya perlu eling lan waspada.

#vkd

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Wednesday, March 25, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: