Pelajaran Shutdown dan Lockdown

ilustrasi

Oleh : Bintang Prabowo

ini baru hari ke empat shutdown di Norway.. efektif baru tiga hari, karena pengumuman shutdown kampus baru kami terima tanggal 12 Maret pagi hari..

tiap hari cuma ngetik, nyemil, youtuban, nyeplok telur, netflixan, masak, forumsemprotan, kerja, pipis, pornhapan, fesbukan, mandi, dll, di dalam apartemen..

sesekali keluar (dengan kewaspadaan) untuk beli logistik di minimarket seberang apartemen..

shutdown itu hanya menutup fasilitas publik, sekolah, kampus, dan membatasi kegiatan berkumpul.. harus disertai kepatuhan warganya, karena tidak ada implikasi hukum..

sedangkan lockdown, lebih jauh lagi, menutup (paksa) pergerakan manusia keluar masuk wilayah, border, bandara, pelabuhan, memerintahkan semua orang tinggal di dalam rumah, memberlakukan jam malam, dan (bisa) menerapkan sanksi bagi yg melanggar..

dari mengamati dan membaca situasi di sini, banyak pelajaran yang saya peroleh..

orang sini sangat taat perintah dan aturan.. bukan karena takut sanksi, tetapi lebih karena kesadaran pribadi untuk secara kolektif bekerjasama mensukseskan program self-isolate atau self-quarantine supaya penyebaran virus Covid19 tidak semakin membahayakan, demi kepentingan bersama..

awalnya, sebagai orang yang terbiasa menghadapi kehidupan yang jauh lebih berbahaya, sempat terlintas di pikiran saya untuk meremehkan saja instruksi ini..

kita yang terbiasa jajan di warung pinggir jalan, yang piring dan gelasnya dicuci pake ember dua biji, satu buat cuci satunya buat bilas, melanggar marka, naik motor ga pake helm, melawan arah, ngebut dalam posisi rapat, jajan gorengan campur plastik, tahu berformalin, dan resiko harian karena kesembronoan orang lain, akan tergoda untuk bandel di sini..

tapi beda dengan attitude masyarakat di negara super dingin ini..

masih ingat kan betapa semua orang dengan tertib mengevakuasi diri ketika ada student yang ceroboh memanggang kue dengan taburan gula terlalu lama, hingga karamelnya gosong lalu memicu alarm kebakaran..
semua berkumpul di assembly point (titik berkumpul) sambil menunggu pemadam kebakaran selesai menginspeksi.. sesuai prosedur, tenang, nurut, efektif, dan tidak panik..

kalau itu terjadi di kampus you know where, hal semacam itu tidak akan terjadi karena: (1)tidak ada microwave yang bisa dipakai, (2)kalaupun ada, student ga boleh pakai, hanya dosen dan tendik yang boleh, (3)kalaupun ada yg gosong, tidak akan memicu alarm, karena alarmnya nggak ada, (4)kalaupun alarm ada, seringkali sprinkler penyemprotnya nggak ada, (5)kalaupun ada, ya tetep tidak akan self evakuasi, tapi langsung intervensi, buka jendela, berusaha menghalau asap wangi karamel sambil ketawa ketiwi, sementara staf lain tetap kerja, dan yang lainnya selfie, lalu diupload dengan caption, "kebakaran, gays.."

tanggal 12 pagi setelah mendapatkan instruksi elektronik, secara bertahap seluruh staf di NTNU melakukan self-evacuate; pulang sambil sebagian menenteng monitor dan dokumen yg diperlukan untuk kerja selama seminggu ke depan..

kerja dari rumah, bukan piknik.. work from home.. bukan vacation away from home..

awalnya waktu itu saya mencoba nelat pulang; rencananya sore seperti biasanya.. sambil berpikir nakal, besok mau coba-coba datang ke kampus, siapa tau kartu identitas yg sekaligus jadi kunci elektronik (kartu akses) masih bisa digunakan untuk membuka pintu.. kan akses Ansatt, bukan Student..
biasa lah, masih terbawa mental ndableg.. gerilyawan.. darah muda, darahnya para remaja.. ya ya yaa..

siang hari setelah kampus sepi, staf terakhir yang bertugas memastikan gedung telah kosong melakukan final-check dan mendapati 8 orang masih terus bekerja.. termasuk saya, pemberani dari negara +62..

dengan nada kecewa dia bilang, "you guys should follow instruction, for everybody's safety.."

segera kami bilang yes, dan langsung melipat laptop, lalu pulang..

di jalan, saya merenung..
mendadak saya sadar bahwa pikiran nakal saya itu salah dan bisa fatal..

upaya shutdown ini adalah langkah paling drastis yg diambil Norway sejak perang dunia kedua.. artinya, ini sesuatu yang sangat serius, walaupun baru satu korban jiwa.. dan pasti mahal ongkos ekonominya..

ekskalasinya memang sangat cepat.. dari hanya 2 kasus di 3 minggu yang lalu, menjadi 78 di awal minggu selanjutnya, lalu 300-an di akhir minggu.. awal minggu lalu tembus 400, dan sebelum minggu berakhir angka keramat 1000 kasus positif sudah terlampaui..

saya jadi berpikir bahwa kebandelan dan kedegilan saya untuk berencana nekat ke kampus besok paginya adalah tindakan ignorance dan sembrono..
bukan cuma membahayakan diri sendiri, tetapi membahayakan banyak orang..

bisa jadi saya (merasa) sehat.. tapi somehow saya pegang tiang di bus, yang ternyata mengandung droplet dari orang lain.. sampai kampus saya pegang handle pintu.. virus bisa hidup di suhu dingin sini sampai berhari-hari di permukaan metal dan plastik.. dan ketika kampus dibuka lagi, orang-orang sehat akan memegang handle pintu itu, lalu tertular, dan sia-sialah upaya shutdown yang mahal ini..

kesembronoan dan ketidakpatuhan terhadap instruksi dan aturan berpotensi menyebabkan kekacauan yang lebih besar dan lebih mahal lagi..

dan ini yang persis terjadi di Indonesia, terbaca dari timeline yg bersliweran..

shutdown (bukan lockdown) yang terjadi di beberapa daerah malah dimaknai sebagai bonus hari libur dadakan.. walhasil jalan tol dan kebon binatang (katanya) rame.. di daerah lain, orang-orang malah pada mudik, yang artinya memperluas penyebaran..

luar biasa memang..
saya sampai kehabisan kata-kata..

pemangku kebijakan nasional dan daerah di Indonesia pilihannya memang berat.. antara shutdown/lockdown seperti Italia dan Norwegia atau manajemen resiko ketat seperti Singapura..

bedanya simpel: Singapura itu kecil dan kaya raya..

jika Indonesia sampai shutdown nasional, atau bahkan lockdown, maka biaya ekonominya akan sangat tinggi karena sektor industri juga akan berhenti.. produktifitas turun drastis, dan potensial menyeret kita ke gelombang resesi.. seperti krisis 1998 dan 2008..

padahal, sudah dishutdown untuk membatasi pergerakan dan penularan, tapi masih saja banyak warganya yang menganggap sepele, dan dengan sembrono malah piknik ke tempat umum..

shutdown hanya akan efektif kalau semua pihak taat instruksi.. itupun masih mahal, dan tetap berpeluang gagal..

apalagi kalau mental egois dan sakkarepe dhewe masih terus dilakukan warganya..

saya hanya bisa berdoa, semoga Indonesia masih terus diberkahi Tuhan, dan terbebas dari pandemi, sebagaimana yang sudah-sudah, kita juga selalu lolos dari wabah SARS, H5N1, Ebola, dan MERS, walaupun dengan tingkat kesembronoan dan kengawuran yang hampir sama..

kiranya Tuhan akan selalu menyayangi dan melindungi kita semua..

sebagaimana Tuhan selalu melindungi Tom Hanks dari kecelakaan pesawat (Sully), bajak laut Somalia (Captain Phillips), dan konspirasi illuminati (da Vinci Code & Abdels and Demons)..

semoga Tom Hanks yang sedang terinfeksi Covid-19 selalu diberikan keberuntungan seperti Forrest Gump..

tenang, beliau juga sudah terlatih untuk mengisolasi diri dan self-quarantined bertahun-tahun lamanya di pulau terpencil (Cast Away)..

Sumber : Status Facebook Bintang Prabowo

Tuesday, March 17, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: