Pelajaran Sejarah yang Dihapus

ilustrasi
Oleh : Arum Kusumaningtyas
 
Sudah ada klarifikasi dari Kemendikbud. Berita tentang dihapusnya Pelajaran Sejarah kemarin, sempat membuat saya naik pitam. Terlebih dg alasan penyederhanaan kurikulum. Alasan tak masuk akal dan bener-bener di luar nalar.
Akhirnya, hari ini sudah dijelaskan oleh Humas dan Kabalitbang Kemendikbud. Sejarah tetap ada dalam kurikulum karena merupakan bagian penting menjaga keragaman dan kemajemukan bangsa.
Catatan tetap harus kita berikan:
1) Kurikulum sejarah juga harus di revolusi dan disederhanakan temanya. Jangan lagi hanya sekedar menghapal tahun, tempat, nama, nama kerajaan, nama prasasti, jenis huruf, dll yang semuanya hanya hapalan. Demi mengejar kuantitas atas nama BHINEKA TUNGGAL IKA.
Setiap peristiwa yang terekam dalam catatan sejarah, tidak ada satupun, yg berdiri di ruang kosong. Misalnya, memahami Konsep 9 Dash Line China, termasuk manuvernya di sekitar Laut China Selatan saat ini, tidak perlu membuat kita kebakaran jenggot, jika kita memahami sejarah EKSPEDISI PAMALAYU dengan dampak-dampaknya, hingga muncul kawasan emas yg terkenal hingga kini, Selat Malaka.
2) Kurikulum Sejarah, sudah harus menjadi pembelajaran sejak pendidikan dasar. Kurikulum harus mengadopsi PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL, jika memang tujuan dari sejarah itu untuk merawat keberagaman dan kemajemukan. Kenapa? Sejarah terbentuknya nusantara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pun ada fase-fase nya yang sangat terkait antar kewilayahan dan tak lepas dari pengaruh global.
Nation State Building NKRI adalah serangkaian peristiwa humanis, visioner, pikiran-pikiran cerdas yang disampaikan secara egaliter dari berbagai penjuru nusantara, sejak1928. Jangan dikerdilkan hanya dg peristiwa-peristiwa yg terus menerus digaungkan dg tanggal-tanggal penting seperti Rengasdengklok, Proklamasi, BPUPKI.
Alur peristiwa dan rangkaiannya sangat penting untuk diteliti dan dipahami generasi muda kita sebagai bagian pemahaman sebuah TIME FRAME peristiwa besar: sebab-akibat, sehingga mekanisme evaluasi dan perbaikan dapat dikembangkan.
Tak salah, Roeslan Abdulgani, menyebutkan, hanya Ilmu Sejarah yg memiliki penglihatan 3 dimensi: masa lalu, hari ini, dan masa depan. Sejarah memiliki pisau analisa yg lengkap untuk melakukan proyeksi suatu hal yg akan terjadi dg rangkaian peristiwa yg sudah terjadi utk melakukan forecasting/ peramalan apa yg akan terjadi. Sehingga, kita siap akan mitigasi risikonya.
Tak heran, Theodore Roosevelt & Winston Churchill. Dua tokoh pemimpin dunia yg paling berpengaruh di Era Perang Dunia II sangat mendalami sejarah negara masing-masing, The reasons of being dari bangsa mereka masing-masing.
PR kita banyak kan? Masak sejarah kita sebatas Perang Jawa antara tahun berapa sampai berapa? Bagaimana sejarah terbentuknya danau kelimutu menurut msy setempat? Mitos apa tentang Laut Pantai Selatan? Haduuuuuuh, Mak Jaaaan. Kebayangkan kualitas peramalan kebijakan di Indonesia? Akarnya aja goyang
 
Sumber : Status Facebook Arum Kusumaningtyas
Sunday, September 20, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: