Pelajaran Dari Teror Sri Lanka

ilustrasi

Oleh: Dr. phil, Suratno, M.A
(Dosen dan Ketua The Lead Institute, Universitas Paramadina)

Minggu kemarin saya dan Hani istri saya baru saja melihat film Hotel Mumbai. Film yang bercerita tentang rangkaian terror di kota Mumbai India pada 26—29 Nopember 2008. Sekitar 188 orang tewas termasuk 22 warga asing dan 370 lainnya luka-luka. 10 0rang pelaku yang kemudian diketahui berasal dari kelompok Lashkar e-Taiba yang berbasis di Pakistan datang ke Mumbai naik kapal ikan. Mereka lalu melakukan rangkaian serangan; di Stasiun kereta api Chatrapati Shivaji Terminus (CST) yang ramai dan penuh sesak orang-orang, 2 hotel bintang lima yakni hotel Oberol/Trident dan Taj Mahal Palace, Kafe Leopold sebuah restoran yang terkenal dikalangan turis asing, Rumah Sakit Cama, Chabad House gedung pusat komunitas Yahudi di Mumbai dan kantor polisi. Para teroris itu melakukan penyanderaan, penembakan dan peledakkan di tempat-tempat itu. Film Hotel Mumbai yang digarap dengan apik seakan membawa saya dan istri seperti benar-benar dihadapkan pada kejadian terror yang sesungguhnya. Terasa sangat kejam, mengerikan dan tidak berperikemanusiaan.

Tiba-tiba kemarin Minggu 21 April 2019, saya dan tentu juga publik dunia dikejutkan dengan terror Sri Lanka. Bom meledak sebanyak 8 kali dalam sehari ( di 3 gereja, 4 hotel dan sebuah rumah) dan dua diantaranya adalah bom bunuh diri mengguncang kota Kolombo ibu kota Sri Lanka saat perayaan Paskah. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dan sekitar 450 orang lainnya luka-luka. 6 ledakan pertama dilaporkan terjadi dalam waktu bersamaan pada Minggu pagi sesaat setelah misa di gereja-gereja dimulai. Ledakan ke 7 disebuah hotel bernama Tropical Inn sesaat kemudian di susul dengan bom ke 8 yang meledak disebuah rumah di kawasan Mahawilla Garden Kolombo. Ke 4 hotel yang diserang adalah Hotel Shangrila, Hotel Kingsbury, hotel Grand Cinnamon dan hotel Tropical inn di dekat Kebun Binatang Nasional Sri Lanka. Sementara ledakan di 3 gereja antara lain di Gereja Katolik Santa Anthony Shrine di kawasan Kochikade Kolombo yang merupakan tujuan para wisatawan. 2 gereja lainnya yang diserang berada di kawasan Negombo yakni gereja Santa Sebastian dan di Batticaloa Kolombo Timur yakni gereja Zion.

(Kemungkinan) Pelaku dan Motif

Belum ada informasi resmi tentang siapa pelaku dan apa motif terror di Sri Lanka. Akan tetapi banyak pihak melaporkan bahwa 10 hari sebelum kejadian pengeboman kemarin yakni tanggal 11 April 2019 pihak Intelijen Sri Lanka sudah memperingatkan tentang potensi serangan bom. Intelijen mendapat informasi bahwa NTJ (National Tauheed Jamaat) berencana melakukan serangan bom bunuh diri yang mengincar gereja terkenal dan juga komisis tinggi India di Kolombo. Apalagi pimpinan NTJ Mohammed Zahran Hashim yang disebut dalam dokumen intelijen juga menjadi salah satu pengebomnya. NTJ sendiri merupakan kelompok ekstremis pimpinan Mohammed Zahran Hashim yang beroperasi di Sri Lanka. NTJ di dirikan pada tahun 2014 di kota Kattankudy, Sri Lanka Bagian Timur, kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Beberapa anggota NTJ merupakan alumni ISIS di Syiria (Syirian jihad returnees). NTJ dikabarkan memiliki aspirasi untuk mendirikan negara Islam di Sri Lanka. Tahun 2018 mereka melakukan perusakan sejumlah patung Buddha. NTJ juga diduga mengincar untuk menyerang bank negara, pusat perbelanjaan, kuil, gereja dan hotel yang ramai dikunjungi para turis. Meski demikian, gubernur propinsi Sri Lanka Bagian Timur. Mahamood Lebbe Alim Mohamed Hisbullah menyangkal tuduhan bahwa NTJ berada dibalik serangan bom Sri Lanka tersebut.

Pada tanggal 11 April 2019 beredar dokumen intelijen berjudul “informasi tentang dugaan rencana serangan”. Disebutkan bahwa mungkin aka nada beberapa metode serangan yakni; serangan bunuh-diri, serangan bersenjata dan serangan kendaraan (truk). Dokumen intelijen juga menyebut bahwa kepala kepolisian Sri Lanka Pujuth Jayasundara menyampaikan pada beberapa tokoh aparat keamanan untuk mewaspadai potensi serangan. Mengapa pihak-pihak terkait tidak menindak lanjuti dokumen itu sampai sekarang masih menjadi tanda Tanya dan menimbulkan kemarahan disebagian masyarakat. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengakui adanya dokumen itu dan sekarang meminta pihak kepolisian untuk mengusut mengapa perintah dokumen intelijen itu tidak ada tindak lanjutnya sehingga serangan bom itu akhirnya terjadi.

Terlepas dari siapa dan pihak mana yang berada dibalik serangan terror Sri Lanka, banyak pakar melihat bahwa kalau melihat taktik yang digunakan bisa diketahui kalau itu terinspirasi ISIS. Taktik yang dimaksud adalah bom bunuh diri yang secara eksplisit menyasar kalangan sipil, yang didesain untuk menciptakan terror maksimum untuk efek yang maksimum juga, seperti bom Manchester arena dan serangan London Bridge. Taktik serangan terror Sri Lanka juga memilih lokasi ikonik yang banyak terdapat kerumunan massa terutama para turis asing. ISIS yang tahun belakangan kehilangan teritorinya di Syiria juga secara jelas menggunakan taktik menyerang orang-orang Kristen pada saat hari raya terutama hari raya Natal dan Paskah.

Kepolisian di Sri Lanka mengakui bahwa berkurangnya terror grup di Timur tengah seperti ISIS tidak berarti kegiatan terror mereka akan berhenti. Sekarang ISIS menggunakan strategi “Pop-Up” yang melibatkan grup-grup yang berbaiat dengan ISIS untuk melakukan penyerangan di negara asal mereka. ISIS dikenal sebagai kelompok teroris dengan cabangnya yang banyak baik di Asia tenggara, Afrika dan bahkan Eropa. Ratusan ekstrimis Muslim Sri Lanka pada kurun 2014-2018 juga banyak yang pergi ke Iraq dan Syiria untuk bergabung dengan ISIS. Kini setelah ISIS terdesak dan kehilangan banyak teritori yang dikuasainya, banyak ekstremis ISIS Sri Lanka yang pulang kampung. Kepolisian merilis sekitar 50 ISIS returnees yang profil mereka umumnya justru orang-orang terdidik dan dari keluarga elit.

Perang Saudara Dan Pelajaran Untuk Kita

Sebelum pengeboman kemarin, Sri Lanka sendiri punya pengalaman kelam karena adanya perang saudara. Pengeboman minggu kemarin menganggu keamanan dan kenyamana warga Sri Lanka dalam satu decade terakhir setelah berakhirnya perang saudara, ketika Sri Lanka melawan pemberontak Tamil. Pasukan Sri Lanka pada tahun 2009 berhasil mengalahkan pemberontak Tamil pada tahun 2009. Perang saudara yang berlangsung sekitar 26 tahun terjadi karena pemberontak Tamil ingin memiliki negara sendiri untuk minoritas Tamil. Menurut laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) ada sekitar 150 ribu orang yang tewas dalam perang saudara tersebut.

Sebenarnya secara historis, Sri Lanka yang mayoritas warganya beragama Buddha tidak memiliki riwayat persekusi terhadap minoritas Kristen yang hanya sekitar 7 persen dari populasi penduduk Sri Lanka. Justru perkembangan relasi social, mayoritas umat Buddha Sri Lanka lebih bermasalah dengan umat Hindu dan Muslim. Dalam beberapa tahun belakangan seiring meningkatnya jumlah penduduk Muslim menjadi lebih dari 10 persen, hubungan social mereka juga agak memburuk. Tahun 1990 beberapa penduduk Muslim terutama di Bagian utara Sri Lanka mengalami persekusi dan pengusiran dari rumah-rumah mereka dan setelahnya menjadi warga tak menentu di bagian Selatan Sri Lanka. Inilah mengapa perang saudara baik pemerintah Sri Lanka dan Ethnis Tamil serta hubungan antar umat beragama Buddha, Hindu dan Islam serta Kristen di Sri Lanka yang tidak membaik yang memicu perang saudara berlangsung terus hamir 3 dekade.

Bom Sri Lanka dan perang saudara yang terjadi di sana memberi pelajaran pada kita semua di Indonesia, sekurang-kurangnya 2 hal. Pertama, kekerasan apalagi terori dan bom bunuh diri atas nama apapun tidak bisa ditolerir. Ia melanggar prinsip mendasar dalam hak asasi manusia karena sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Perang melawan terror harus menjadi konsern bersama. Tidak hanya aparat kepolisian tetapi masyarakat juga harus berkontribusi. Pencegahan dan antisipasi terjadinya kekerasan dan terror merupakan langkah terbaik untuk memastika bahwa masyarakat dimana kita tinggal memiliki resiliensi atau ketahanan yang bagus terhadap semua bentuk potensi kekerasan dan terorisme. Itu yang harus selalu diupayakan di masyarakat kita. Kedua, perbedaan adalah rahmat seperti bunyi sebuah hadist, ada juga menyebutnya atsar. Tapi itu kalau kita bisa mengelola perbedaan secara baik, merawat sikap saling menghormati dan menyayangi antara sesame anggota masyarakat. Tapi perbedaan etnis ataupun agama ketika tidak bisa dikelola secara baik, justru akan menimbulkan kekacauan. Pengalaman Sri Lanka dengan perang etnis dan konflik antar agama menjadi cermin bagi kita betapa bahayanya ketika masyarakat terbelah dan terpecah, serta berkurangnya sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Sekarang masyarakat Indonesia baru saja selesai pemilihan umum 2019. Keterbelahan dan keterpecahan menimpa masyarakat kita karena perbedaan dukungan capres-cawapres, partai politik dan calon legislative. Meskipun realitasnya adalah peristiwa politik, tapi isu-isu identitas seperti perbedaan etnis dan perbedaan agama juga ditonjolkan. Saya merasakan pasca pemilu ini keterbelahan dan keterpecahan masyarakat kita belum kunjung membaik. Semoga apa yang terjadi di Sri Lanka menyadarkan kita untuk segera berbenah, kembali ke khithoh kita semua untuk membentuk masyarakat yang aman, nyaman, damai, tentram dan harmoni, insyaAlloh.

Sumber : Status Facebook Suratno Mochoeri

Tuesday, April 23, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: