Pelajaran Dari Program Energi Ramah Lingkungan Bhutan

Oleh : Ronny Noor

Sekitar 30 tahun yang lalu Bhutan yang berpenduduk sebanyak 780 ribu orang ini melihat peluang untuk beralih dari negara yang berbasis pertanian ke negera produsen energi tenaga hidro atau yang dikenal dengan hydroelectricity mengingat negara ini memiliki potensi besar dalam bentuk banyak sungai dengan arus sangat derasnya.

Program pengembangan listrik tenaga air ini didanai sebagian besar berupa dana pinjaman berasal dari India. Saat ini terdapat 5 pembangkit energi tenaga air yang menghasilkan 1500 megawatt (MW). Produksi ini baru mencapai 5% dari potensi energi hidro yang sebenarnya yaitu 30.000 MW.

Dari kerjasama kedua negara ini, pada tahun 2015-2016 Bhutan menerima bantuan sebesar $100 juta dari India, sebagai timbal baliknya India yang saat ini kekurangan energi mendapatkan pasokan 75% hydroelectricity dari kapasitas produksi pembangkit tenaga hidro Bhutan.

Dalam menghasilkan energi ramah lingkungan, pada tahun 2009 Bhutan menyepakati akan menghasilkanhydroelectricity sebesar 10.000MW yang meliputi pembangunan 12 pembangkit listrik tenaga air yang sudah menghasilkan energi listrik pada tahun 2015 di Dagana.

Pengembangan energi ramah lingkungan di Bhutan ini memang tidak bebas masalah, karena dampak negatifnya terhadap lingkungan juga ada. Gas metan yang dihasilkan akibat banyak tanaman yang tenggelam membusuk merupakan salah satu masalah yang muncul dipermukaan, demikian juga pemindahan penduduk ke tempat lain akibat wilayahnya dibangun pembangkit tenaga air ini juga bukan merupakan masalah yang mudah dipecahkan.

 Disamping itu pada saat musim dingin (winter), debit air sungai berkurang drastis dan berdampak pada kapasitas listrik yang dihasilkan. Di saat winter ini Bhutan harus membeli energi listrik dari India yang harganya mahal untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negerinya.

 Kondisi geografis Bhutan yang penuh tantangan menyebabkan membengkaknya dana dalam membangun hydroelectricity. Sebagai contoh pembangunan pembangkit tenaga listrik Punatsangchhu biayanya membangkak menjadi $1,4 milyar dari perkiraan semula yaitu hanya $520 juta. Tentu saja melesetnya perkiraan besaran dana pembangunan pembangkit tenaga hidro ini akan berdampak pada harga listrik yang dihasilkan.

Dengan semakin mengingkatnya masyarakat terdidik dan arus urbanisasi, Bhutan juga memerlukan pembukaan lapangan kerja disamping pembangunan energi ramah lingkungan, Program pembangunan pembangkit listrik tenaga hidro di Bhutan dapat dikatakan sukses karena berhasil menyalurkan listrik ke 93% penduduknya. Disamping itu sektor turisme juga memerlukan energi listrik yang besar seperti untuk kebutuhan hotel dll. Salah satu sekolah di wilayah pedesaan Bhutan.

Bhutan saat ini merupakan salah satu dari sedikit negara yang emisi karbonya negatif artinya Bhutan menghasilkan karbon yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan karbon yang diserap oleh hutan, Walaupun memiliki potensi besar dalam menghasilkan energi hidro, Bhutan ternyata masih mengalami krisis listrik. Di saat puncak Bhutan memerlukan energi sebesar 1.300 MW namun hanya mampu penghasilkan 770 MW saja. Di Buthan pemadaman listrik juga masing sering terjadi terutama di musim dingin.

Bhutan memang negara kecil yang mengandalkan devisanya dari sektor turisme pengunungan Himalaya. Namun dengan semakin meluasnya kawasan es yang mencair, perekonomi negara ini mulai terancam dimasa mendatang.

 Bhutan juga saat ini sedang mencari berbagai alternatif untuk menghasilkan energi ramah lingkungan seperti energi matahari dan angin untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi tenaga hidro. Walaupun kapasitasnya masih di bawah kapasitas energi hidro, energi matahari dan energi angin telah berkontribusi pada pasokan energi ramah lingkungan Bhutan.

Pelajaran yang dapat diambil

Walaupun program Bhutan dalam menghasilkan energi ramah lingkungan tidak sepenuhnya bebas masalah, namun visi pemerintah Bhutan untuk mengembangkan energi ramah lingkungan ini perlu diapresiasi dan menjadi perhatian bagi Indonesia.

Kebutuhan energi Indonesia yang sangat besar memang memerlukan visi pengembangan energi masa dengan yang lebih tajam. Ketergantungan Indonesia pada energi fosil yang sangat besar seharusnya sudah mulai secara serius dikurangi dengan membangun pembangkit listrik ramah lingkungan dalam skala besar.

Dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil ini diperlukan komitmen yang sangat kuat dari pemerintah yang dituangkan dalam program pembangunan jangka panjang yang disertai alokasi anggaran yang memadai.

Pengembangan sumber eneri alternatif seperti dari biji jarak, air, uap, angin dan matahari memang sudah dilakukan namun kebanyakan masih dalam skala kecil. Mengingat potensi sumber energi alternatif yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar, sudah waktunya Indonesia secara serius melakukan gerakan pemanfaatan sumber energi alternatif untuk kebaikan di masa mendatang.** (ak)

Sumber  tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :sandrp.files.wordpress.com

 

Monday, March 28, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: