Pelajaran Bagi Ustadz Sok Imam Mujtahid

Ilustrasi
Oleh : Khoiron Mustafid
 
Salah-satu diantara keutamaan belajar adalah: mengerti yang orang lain tidak mengerti. Contohnya, di saat kebanyakan orang membebek dengan mitos-mitos, orang yang banyak belajar tidak membebek; dia berdiri pada pendiriannya sendiri dengan firm, tanpa keraguan sedikit pun.
 
Misalnya pada masalah Imam Syafi’i. Kebanyakan orang—sampai sekarang—membebek—seperti yang banyak dicontohkan oleh para ustadz di forum-forum—bahwa perubahan qaul Imam Syafi’i di Iraq dan di Mesir itu karena kaidah ini:
 
الحكم يتغير بتغير الأمكنة و الأزمنة
 
“Hukum itu berubah seiring berubahnya tempat dan waktu.”
 
Ini—berdasarkan bukti-bukti—tidaklah benar. Tidak pernah ada data dari perjalanan Imam Syafi’i itu bahwa hukum-hukum di Iraq itu disesuaikan dengan orang-orang Iraq, sedangkan hukum di mesir disesuaikan dengan orang-orang yang tinggal di Mesir, dimana pemahaman seperti ini akan berkonsekwensi pada pemahaman: bahwa hukum di Mesir berbeda dengan hukum di Iraq.

Yang betul adalah bahwa Imam Syafi’i memiliki dua madzhab: Madzhab Iraq (yang disebut sebagai madzhab qadim), yang dipelajari oleh murid-muridnya di Iraq. Tetapi, saat menuju ke Mesir dan melewati Makkah, Imam Syafi’i bertemu dengan berbagai macam ulama, beliau menukil berbagai macam hadis, beliau lalu menarik banyak qaul yang ditetapkan di Iraq. Itulah yang dinamakan “madzhab jadid”, atau yang lebih dikenal dengan qaul jadid.

Jika memang pendapat Imam Syafi’i di Iraq itu karena menyesuaikan dengan kondisi Iraq, kenapa beliau mengharamkan orang memakai pendapatnya yang di Iraq?
 
ليس في حلٍّ من روى عني القديم
 
Tidak halal bagi orang yang meriwayatkan dariku pendapat al-Qadim (al-Bahr al-Muhith, az-Zarkasyi, 4/584). Seandainya memang karena menyesuaikan waktu dan tempat—sebagaimana yang sering dicontohkan oleh ustadz-ustadz—mestinya Imam Syafi’i tetap memberlakukan fatwa-fatwanya di Iraq.
 
Imam Nawawi mengatakan, “Setiap masalah yang ada dua qaul al-Syafi’i, yaitu qadim dan jadid, maka qaul jadidl-ah yang benar yang boleh diamalkan,” (Al-Majmu’, 1/66)
 
Ada yang menarik dari sekelumit tulisan ini, bahwa Imam Syafi’i pernah memilih pendapat Ibnu Abbas pada qaul qadim. Lalu saat mengetahui hukumnya Imam Ali, beliau langsung memilih pendapat Imam Ali. Yaitu pada masalah wanita al-mafqud (yang suaminya tak kembali tanpa kejelasan kabar). Pada qaul qadim, Imam Syaf’i menyatakan bahwa wanita itu harus menunggu selama 4 tahun, lalu beriddah 4 bulan sepuluh hari (iddah wafat). Tetapi, saat mengetahui hukumnya Imam Ali, lalu Imam Syafi’i berubah pendapat dan menetapkan bahwa wanita ini tidak beriddah dan tidak boleh menikah selamanya sebelum ada berita yang meyakinkan bahwa suaminya telah wafat.   
 
Apa sih menariknya? Imam Syafi’i yang levelnya adalah mujtahid mustaqill saja, bisa luput darinya banyak hal, apalagi kita. Kita yang pengetahuannya hanya seujung kukunya Imam Syafi’i ini paling-paling hanya bisa membodohi orang-orang bodoh; membuat mereka percaya bahwa kita adalah orang hebat yang mengerti semua hal. Dari segala macam urusan agama (yang saya rasa tak banyak yang menguasainya secara sempurna) sampai ke urusan politik, geopolitik, dan urusan pribadi orang pun kita merasa mengetahuinya. Kita berlaku menjadi seperti tuhan, yang ilmunya meliputi semua hal. Padahal, kita hanya bisa bercuap-cuap mengkopas ilmu para ulama. Kita hanya orang-orang sok pintar yang mencari uang dari kesokpintaran kita itu.  
 
Misalnya untuk masalah jilbab. Coba deh siapa pun, rujuk Syarah Nawawi Ala Muslim ,hadis 2170, bacalah di sana pendapat al-Qadhi Iyadh. Beliau menyatakan bahwa “hijab” (menampakkan hanya wajah dan dua tangan untuk wanita) adalah kekhususan bagi istri-istri Nabi SAW. Pertanyaannya, apakah al-Qadhi Iyadh ini orang bodoh? Padahal beliau adalah dijuluki sebagaiA’lamunnas fi Ashrihi (orang yang paling pintar di zamannya); beliau adalah seorang muhaddits, sekaligus muarrikh (ahli sejarah), dan al-Faqih (ahli fiqih). Lah kita-kita ini siapa? Muhaddis, paling hafal 1000 hadis untuk bohongin orang. Muarrikh, kitab tarikh apa sih yang kita kuasai 100%? Atau Faqih? Paling-paling kita hafal kitab-kitab semacam bughyatul mustarsyidin atau kifayatul akhyar.
 
Inilah makna dari kaidah faqid al-sya’ a yu’thihi, yaitu apa yang engkau ketahui tidak bisa meliputi segala pengetahuan. Dan apa yang engkau tidak ketahui tidaklah berarti sesuatu itu tidak ada. Terlalu luas ilmu di bumi ini untuk membuatmu menyombongkan diri telah mengetahui segala hal. Terlalu sempit otak kita, hingga hal kecil pun banyak terluput dari kita.
 
Sumber : khoiron-mustafid.blogspot.co.id
Monday, December 18, 2017 - 17:30
Kategori Rubrik: