Pelacuran Politik Dimulai

Oleh: Iyyas Subiakto

 
Masih terasa hangat bila diseruput, ujung lidah moral kita terasa pahit merasakan hasil pilkada Jakarta orang2 amoral bs berkuasa dgn segala kebadutannya, ironi, agama dijadikan kenderaan pengangkut kebusukan, dicecerkan kemana2, baunya merata menyengat hidung kita,tapi kt tak kuasa melawannya krn kenderaan itu dikawal oleh dewa yg lbh tdk bermoral, mrk penguasa dan pengusaha kelas naga bermulut srigala. Jakarta menjadi samudra keburukan luar biasa, dirampok dgn sistim, dijarah dgn mudah krn mrk berjubah pemerintah daerah yg sah.
Sekarang Jatim mulai berulah, kantong NU ormas islam dgn basis anggota 30 jt terbelah dua krn dua kadernya bersaing dgn kenderaan berbeda, sama2 ingin berkuasa, merasa sama2 bisa dan punya masa. Kiayi panutan diluputkan atau memang malah kiayinya ikut2an. Politik mengusik siapa saja yg nuraninya tak kuat diangkat pada harkat ma'rifat, mereka cenderung suka yg kasat, bhkn bisa sesat.
Gusmus: Banyak orang bisa memberimu nasihat, tapi sedikit yg bisa memberimu ketauladanan. kalimat penuh makna ini mudah dicerna sulit diajak bersama, ya krn dunia lbh didepan mata, salah satunya nafsu ingin berkuasa. Gus Iful dan Khofifah Indar Parawangsa dua putra terbaik NU jd seteru, gerbong berbeda tujuannya sama BERKUASA. Hebatnya Khofifah didukung Demokrat, Golkar dan sekutunya, Khofifah pernah dicacah oleh mereka saat kali kedua dia cagub Jatim, Khofifah membelot?, tentu tdk krn dlm politik bs jd robot, bolot, atau kelobot. Bobot bs jd nomor bontot yg pntg politiknya berotot.
 
 
Kawan sy dgn nada emosi bersuara, knp NU jd gagu membiarkan kadernya berseteru dalam satu, sy cuma ingatkan bhw selama mrk blm selesai dgn dirinya, maka setan pasti terus bersamanya, saat itulah dia akan bcr atas nama apa saja, kl perlu Tuhan baru saja menelponnya bhw si ANU direstui Tuhan melalui setan. PKB bentukan Gusdur yg bertujuan menampung hasrat politik Nahdiyinpun tercabik menyisakan partai nurutan bkn panutan, nurut sana sini tergantung siapa yg nawari.
Saya kaget Gus Sholah trah Almukarom KH. Hasyim Asy'ari bs memihak salah satu kandidat, knp beliau tdk bs netral saja demi NU, sejak kekalahannya di pemilihan ketua NU sy melihat ada yg berubah. Pengasuh ponpes rujukan Tebu Ireng ini memang gemar berpolitik, namun sosoknya didunia perpesantrenan harusnya beliau lbh berwibawa bila menjadi orang tua yg bs memberi nasihat, bukan ikut mengikat kalimat yg kurang bersahabat utk sebuah kepentingan yg lebih mendahulukan umat drpd sahabat.
Khofifah sekali lagi, dia sudah nyaris lepas kontrol diri, apakah Golkar dianggap tobat atau dia yg dijerat, foto dukungan Golkar bersama HMP adalah sebuah pemandangan mencengangkan, bgt absurdsnya dipandang, seorang pejuang kebenaran dibawah garis NU, seorang ketua Muslimat NU yg menaungi jutaan wanita NU memberi contoh krg elok, foto berdampingan dgn anak seorang yg pernah mebumi hanguskan Indonesia dgn cara merusakan tatanan sosial dan menguasai semua lini komersial, rakyatnya dijadikan begundal, knp Khofifah menjadi rendah, apa yg salah, mata kita yg buta, atau mata hatinya tak kuasa menolak pilihan tak bijak.
Teman anak sy di Jepang pernah menunggu ditraffic light yg sunyi, dia mengajak teman jepangnya utk menyeberang saja krn tdk ada org, temannya tdk mau dgn jawaban ; BAGAIMANA KALAU SAAT KT MENYEBERANG ADA ANAK KECIL YG MELIHAT. Kalimat sederhana ini adalah sebuah renungan, bhw prilaku kita tdk utk kt konsumsi sendiri tetapi lingkungan kita jg akan melihatnya. Bagaimana prilaku seorang pemimpin yg cuma ingin berkuasa, dan dgn seenaknya dia loncat sana sini tanpa memikirkan akibatnya. ya kita belum mendapat pemimpin yg sebenarnya, kita cuma sll mendapat penguasa.
Friday, November 24, 2017 - 17:30
Kategori Rubrik: