Pelacur Politik

Oleh: De Fatah

 

Kalau mau tutup tempat prostitusi silahkan tutup saja, jebreeeet. Kagak usah bicara ahlak, kagak usah bicara tobat. Mereka ora mudeng.

Mereka butuh pelanggan bukan ayat. Yang butuh ayat itu masa Pilkada yang sudah lewat.

 

 

Belajarlah dari penutupan Kalijodo. Tidak perlu pake kata-kata langit, ratakan dengan tanah. Supaya tidak hanya berganti nama.

Yang perlu tobat itu pengunjungnya. Para pekerja ada disana karena urusan perut bukan urusan moral. Karena urusan perut, orang memilih hidup dengan segala cara.

Mana ada orang bercita-cita ingin jadi pelacur. Walau banyak juga yang betah setelah menjadi pelacur. Karena apa? Karena begitu mudah untuk isi perut dan isi perabot.

Ada juga pelacur kelas politik, tahun 2014 dia menghujat Prabowo, dituduh tidak pantas jadi Presiden. Tapi 3 tahun kemudian dia ejakukasi menjadi Gubernur DKI lewat jalur Prabowo.

Pelacuran lokalisasi paling bikin ribut isi rumah tangga saja. Tapi pelacur politik bikin gaduh negara. Emosi umat diaduk-aduk. Akhirnya sesama kita ribut. Sudah banyak orang masuk penjara karena pelacuran pilkada.

Kadang pelacur politik ini berpakaian agama, nasionalis bahkan kaum terpelajar. Mudahnya saling mengkafirkan, menyalahkan dan mengklaim paling benar. Pelacur politik lebih hina dari pelacur biasanya.

 

(Sumber: Facebook De Fatah)

Friday, November 3, 2017 - 00:30
Kategori Rubrik: