Pelacur-Pelacur Media Sosial

Ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Saya follow akun pak Dhe Jokowi yang ada contreng biru sebagai tanda akun resmi. Nga ada akun pejabat tinggi negeri lainnya selain milik beliau yang saya ikuti. Bagi saya beliau bukan cuma sebagai presiden negara Republik Indonesia yang tercinta ini. Beliau adalah ayah yang bisa dibanggakan oleh semua anak-anak negeri.

Terakhir beliau posting tentang acara makan malam sederhana di food court di Singapura. Dalam lawatan kerja kunjungan pertemuan petinggi negara-negara di Asia. Makan masakan dari salah satu hidangan cafe yang ada di sana. Masakan sederhana ala rumahan buatan anak-anak Indonesia.

Saat membaca banyak komentar-komentar yang tertulis di kolom yang ada. Rata-rata mengapresiasi positif tapi ada juga yang mencela. Entah apa yang mereka pikirkan dan yang terlintas di benak kepala mereka. Postingan yang biasa-biasa saja kok bisa-bisanya membuat mereka jadi marah.

Tapi ketika saya lihat, kok akun yang sama posting berkali-kali. Mereka posting ulang berulang setiap beberapa menit sekali. Kata-katanya selalu hampir sama dan mirip, itu lagi itu lagi. Nga ada isue yang baru semuanya tentang hal-hal yang sudah basi.

Saya kembali mengecek postingan yang sudah diunggah pak Dhe sebelum-sebelumnya. Dan lagi-lagi orang-orang yang sama juga selalu ada di sana. Mencaci maki mengeluarkan sumpah serapah seperti biasa. Membuat yang lain juga ikut-ikutan balik mencerca.

Setelah saya perhatikan, komen mereka selalu mengundang respon yang berlebihan. Bisa sampai ratusan komentar saling sahut menyahut berkelanjutan. Tapi yang anehnya mereka yang memberi umpan di awal tidak tampak lagi memberi jawaban. Seolah-olah mereka membuat strategi klasik lempar batu sembunyi tangan.

Saya kembali menelusuri berbagai akun yang juga kerap menuai cercaan serta caci maki. Kalau bukan akun seleb medsos bang Denny Siregar, ya siapa lagi. Serta akun mas Eko Kuntadhi dan juga Permadi Heddy Setyaalias Abu Janda al Boliwudi. Tapi saya jarang lihat mereka di akun bang Birgaldo Sinaga, ntah karena bang Bir yang galak sehingga ditakuti.. 

Modus kerja mereka selalu sama di mana-mana. Memberikan komentar yang menghujat dan menghina tanpa ada dasarnya. Mengundang banyak like ataupun ikon tanda marah. Mereka sepertinya nga perduli yang penting sudah banyak tertangkap ikannya.

Terus terang tangan saya juga gatal untuk ingin ikut memberikan balasan. Tapi jika saya tulis komen pasti dia akan makin banyak mendapat penghargaan. Ntah berupa uang atau materi lainnya yang sudah dijanjikan. Atau cuma kebanggaan semu karena sudah berhasil membuat orang lain blingsatan.

Saya ada usul untuk menghadapi akun-akun yang demikian. Jika kalian menemukan dan ingin memberikan ulasan. Jangan beri jawaban di komentar yang sudah dia tuliskan. Beri jawaban dibawahnya sehingga dia tidak dapat apa-apa untuk makan.

Yang pasti jelas semua akun-akun itu palsu adanya. Kadang-kadang mereka berani menantang pihak yang berwenang untuk menangkap mereka kalau bisa. Mereka bermain-main dengan api dan sudah pasti tahu apa akibatnya. Kalau nanti tertangkap pasti mewek-mewek minta menyerah.

Saya nga tahu bagaimana cara kerja akun-akun siluman tersebut. Pasti ada tanda terima kasih yang mereka dapat dari seseorang hanya untuk membuat ribut. Mana ada orang yang mau bersusah payah menghabiskan waktu tanpa atribut. Jangan-jangan mereka termasuk kaum yang kalau nonton di bioskop makan popcorn yang ada rambut..

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Friday, November 16, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: