Pekerjaan yang Akan Hilang

Oleh: Sunardian Wirodono

 
Berapa kini usia Anda? Dan seberapa cemas Anda dengan pekerjaan, atau malah justeru masih nganggur? 

Hari-hari ini, kita diributkan dema-demo anti gojek online dan sejenisnya itu di berbagai kota. Di Jawa Barat, transportasi online dilarang beroperasi. Tentu saja, larangan itu menjadi kegembiraan bagi penyedia jasa transportasi konvensional. Tapi, apakah ya

ng berinisiatif bekerja di transportasi online tak punya hak hidup? Bukankah mereka sesama warga bangsa? Kalau naik ojek konvensional Rp 50.000, sementara yang online hanya Rp 13.000, salahkah memilih yang murah?

 

 
Bayangkanlah, kini banyak sekali warung-warung kecil, usaha rumahan, café resto yang tampaknya sunyi, tapi mereka disibukkan pesanan online, yang juga membutuhkan jasa pengantaran macam go food? Para pejuang, entah lsm atau apa, yang berdema-demo masalah sosial karena perubahan ini, akan menjadi terkesan genit.

Apa boleh buat, revolusi teknologi informasi mengubah dunia ini tak sebagaimana masa lalu. Akan banyak pekerjaan yang hilang. Entah diganti robot atau remote control, toets, yang semuanya berbasis data. Bukan hanya kuli angkut dan bung ojek; bisa jadi penerjemah, wartawan, tukang pos, dokter, dosen, karyawan televisi, bahkan mungkin (yang paling membahagiakan) anggota DPR-RI pun bisa tak kita perlukan. Yang berkait keterwakilan suara, bisa digantikan secara lebih efektif dengan manajemen data. Politikus macam Fadli Zon dan Fahri Hamzah akan sirna. Hore!

Senyampang itu, akan muncul ratusan, atau ribuan pekerjaan baru. Sudah ghalibnya. Hukum alam perubahan adalah pergantian yang lama ke baru. Bukankah tak ada yang abadi di dunia ini, kecuali cintaku padamu, ehm!

Karena itu, tatap ke depan. Kelompok oposisi, boleh tetap berlagak sebagai juru selamat bagi begitu banyaknya pengangguran atau korban PHK. Tapi jika semua itu hanya eksploitasi politik, tak akan menolong apa-apa. Justeru menolong para politikus yang memakai penderitaan rakyat sebagai panggung. Para pemimpin daerah yang menolak gojek online, hanya cerminan kebodohan, karena takut tekanan massa. Sebagai pemegang regulasi, tak sedikit penguasa mementingkan keamanan kursinya saja. 

Anak-anak muda, utamanya, tak lagi bisa berandai-andai. Pekerjaan yang akan muncul kemudian, ialah pekerjaan-pekerjaan yang berbasis pada kemandirian. Industri TV dan film kita, akan berubah drastis. Organisasi profesi macam KFT (Karyawan Film & Televisi) akan jadi jadul dan aneh. Youtube atau Netflix menyediakan lapangan kerja baru bagi para kreator. Di dunia jasa dan kreatif, semuanya terbuka.

Hidup ini memang kejam. Tapi sampeyan yang punya anak-anak masa depan, akan jauh lebih kejam jika tak menyadari perubahan. Mental karyawan, atau buruh, harus dikatakan tidak akan tepat lagi. Spirit jaman ini, engkaulah boss dari pekerjaanmu! Manusia jaman now, pintar saja tak cukup!

 
(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)
Saturday, October 21, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: