Pegatan

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

'Pêgatan' itu boso Jowo yang kalau dalam bahasa Indonesia 'cerai'. Asal katanya 'pegat', artinya 'pisah'. Jadi bercerai lebih punya nilai filosofis karena unsur 'keaktifan', dengan daya nalar, juga yang berpisah 'cuma' fisik. Hati dan rasa tidak.

Beda dengan 'putus', dalam bahasa Jowo, 'pêdhot'. Yang pantês putus itu cuma kabel listrik dan layang2. Ilang ya ilang saja . . .

Kenapa hati dan rasa tidak ? Salah satunya ya adanya anak. Ini masih tanggung-jawab bersama. Ada yg bilang, bekas suami atau istri ada, tapi bekas anak ndak ada . . .

Juga jangan sampai putus hubungan tali silaturahim . . .

Lagi ada berita ter'viral'kan, seorang ustadz kondang bercerai, 'cerai-menceraikan', dengan istrinya. Banyak komen 'miring', ha ha hi hi, ndak etis memang. Tapi yang 'mbully' juga punya alasan, ini cuma 'balasan' atas segala 'bully2-an'nya selama ini. Terhadap apa dan siapa saja. Sedang menuai 'badai' atas segala 'angin' yang ditebarkan . . .

Tapi saya ndak ikut2an mbully. Bukan takut dosa, kasihan, atau karena ndak etis. Cuma ingat pesan Ibuk saya almarhum. 'Ojok alok2 engkok melok'. Jangan menghujat nanti ikutan.

Makanya meski kepingin, terpaksa saya tahan, saya êmpêt. Sampek sakit perut saya karena nahan2 . . .

Kalau baru niat jika untuk kejelekan, ndak dicatat. Makanya aman . . .

Dalam Islam, bercerai itu 'boleh', ada yang bilang 'halal', bahkan diteruskan lagi atas dasar sebabnya. Bisa Makruh, Haram, Mubah, dan Sunnah.

Namun demikian, sudah kadung banyak yang tahu, kalau bercerai itu tidak disukai Allah. Membuat Dia marah. Benci. Tapi ada juga yang omong hadits tentang 'bercerai' ini 'dhaif', lemah. Ya silakan saja. Namun setidaknya bisa buat pelajaran. Buat peringatan . . .

Soalnya memang ndak enak juga, sampai membuat Allah marah. Meski yang dimarahi 'cuma' perbuatan kita, bukan 'kita'nya. Tapi karena akibatnya lama dirasa, Allah pun marahnya lama juga. Bisa2 sampek kita mati . . .

Cerai dikatakan dibenci Allah karena sifatnya yang 'mafsadah', merusak. Merusak apa saja. Termasuk hubungan silaturahim. Dampak psikologis anak, dan lain-lain . . .

Makanya diberi aturan 'talak satu' dan 'talak tiga'. Eh, siapa tahu setelah talak satu, lalu bisa rukun lagi, balik lagi, rujuk lagi. Kemarahan Allah pun otomatis stop juga . . .

Nurut saya, Allah marah jika bercerai, juga karena kita telah lakukan 'dua kali' kesalahan. Pertama salah 'memilih', bojo, yang kedua salah 'kelola', bojo dan rumah tangga. Dalam satu 'pekerjaan' kalau sampai salah dua kali, nurut ilmu manajêmên sudah termasuk kategori 'ambyar' . . .

Nah, sekarang kita tunggu komen sang Ustadz. Sementara baru 'no-comment2'. Bagus itu.

Jangan sampai kayak para 'ngustat' atau 'selebritis', yang waktu bercerai bikin konperensi pers. Sok ikhlas, sok sarngi.

"Bagaimana lagi, sudah ndak ada kecocokan," kata mereka. Ditambahi, "Semua ini atas kehendak Allah semata . . ."

Njêngkang-njêngking sendiri. Pêkangkangan sendiri. Enam-Sembilan, sembilan-enam sendiri. Giliran cerai Allah di ajak-ajak. Dibilang Allah yang mau begitu . . .

Endhas mu iku !

Kalau begitu baru saya marah. Penistaan pada Allah 'kepunyaaan' saya. Memang Allah itu mBah-mu opo !

Omong saja ini 'ujian' bukan 'azab'. Itu jauh lebih baik. Karena 'azab' hanya untuk orang lain. Untuk kita2 orang . . .

Mangkane ta . . .
Makanya . . .
Hush !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, December 6, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: