Pedalaman Di Dompu Ini AKhirnya Ada Lampu

Menyalakan lampu

Oleh : Muhammad Jawy

Lantunan Quran yang merdu menyambut kami di Desa Sori Tatanga pada pukul 22.00. Dibalut cahaya yang terpancar dari beberapa lampu baru yang dicatu dengan tenaga surya, kami menyaksikan keramahan warga yang antusias menunggu kedatangan kami di balai dusun Bukitsari. Mereka adalah masyarakat yang selama ini terbiasa hidup dalam gelap gulita ketika malam, dan baru sejak seminggu kemarin rumah mereka terpasang empat buah lampu LED 3Watt yang setiap hari dicatu ulang dengan sebuah panel surya 30WP di atap rumah.

Tidak mudah untuk menjangkau dusun ini. Dari Bandara Lombok Praya, kami naik lagi pesawat ATR-800 ke Bandara Sultan Shalahuddin di Bima. Kemudian lanjut dengan perjalanan darat, melewati kota Dompu hingga masuk ke kecamatan Pekat dimana Sori Tatanga berada. Kurang lebih 4 jam, termasuk setengah jam memasuki jalanan tanah naik turun yang sangat sulit dilalui jika hujan deras menerpa. Kami sempat rehat sejenak di Kota Dompu untuk shalat jama' Maghrib Isya di masjid Agung Dompu, sekaligus belanja perbekalan di Swalayan Bolly yang terletak di depan masjid. Ketika kami memasuki kecamatan Pekat, posisi sudah malam, sehingga kami tidak tahu menahu bahwa kami tengah melintasi wilayah yang amat eksotis, yaitu ketika kami melewati padang savanna diantara Gunung Tambora yang perkasa di sebelah utara, dan Selat Saleh di sisi selatan.

Mereka, masyarakat Sori Tatanga, adalah potret dari dua ratus ribu rumah lain di pelosok Nusantara yang selama ini belum tersentuh jaringan listrik, sehingga gelap selalu setia memeluk mereka setiap malam tiba. Ini tentu sangat kontras dengan kebanyakan masyarakat yang sudah begitu mudahnya mendapatkan akses listrik, sehingga tak hanya sekedar penerangan, tapi juga puluhan fungsi lain yang amat memudahkan hidup.

Itu sebabnya masyarakat Sori Tatanga amat gembira ketika mereka dilibatkan sebagai penerima program LTSHE (Lampu Tata Surya Hemat Energi) yang diluncurkan Kementerian ESDM tahun ini. Sebanyak 70 rumah di Sori Tatanga, bersama dengan 80.000 rumah lain hingga akhir tahun 2017 di pelosok Papua, Maluku, NTT dan daerah lain, diharapkan bisa terpasang lampu untuk mengusir gelap di malam hari. Sisanya, 170.000 akan dilaksanakan tahun 2018, sehingga harapannya akhir tahun depan tidak ada lagi warga di bumi Nusantara ini yang harus pasrah diterpa gelap setelah senja di rumahnya.

Tampak raut penuh syukur yang terlihat dari wajah keluarga yang kami datangi rumahnya satu persatu. Setelah acara silaturahmi yang baru selesai pukul 11 malam, beberapa warga masih bersemangat ketika kami mampir ke rumahnya untuk bertukar cerita. Rumah-rumah di dusun itu bentuknya sama, karena dibangun dengan program transmigrasi, dan masing-masing rumah dikelilingi dengan ladang yang sangat luas untuk mereka bercocok tanam.

Ada seorang ibu bersama anaknya yang cerita bahwa dengan lampu yang ia terima esok pagi, ia akan merasa lebih tenang dan aman, ketika misalnya suaminya masih di perjalanan pulang dari kerja di kebun. Kami masuk ke rumahnya yang amat sederhana, dan anaknya tengah terlelap diatas karpet yang terhampar di salah satu kamarnya yang gelap. Ramainya rekan-rekan yang masuk ke dalam rumah untuk bertanya dan melihat langsung situasi rumah yang malam itu belum terpasang, tak mampu mengusik si kecil yang sedang tidur. Rumah si Ibu, bagian dari 9 rumah tersisa yang esok hari akan selesai dipasang LTSHE. Ucapan terimakasih berkali-kali ia sampaikan atas bantuan yang akan diterimanya. Bersama dengan rekan lain, kami pamit untuk pindah ke rumah warga lain, dan Ibu berjilbab sederhana itu tampak senang ketika saya menitipkan dua kotak susu untuk anaknya.

Jam 11 malam, kami menyatroni rumah Pak Yakub, yang juga baru akan dipasang LTSHE esok pagi. Pak Yakub dengan antusias menerima kedatangan kami, dan bercerita banyak hal kepada kami tentang kehidupan masyarakat di dusun itu. Rumah beliau adalah target pertama untuk instalasi hari esok. Kamipun pamit, karena waktu sudah jam setengah dua belas malam Waktu Indonesia Tengah.

Kami pun balik untuk istirahat, beberapa rekan perempuan dari rombongan menginap di rumah bekas Puskesmas Pembantu, dan yang lain terbagi istirahat di mushalla, saya dan beberapa rekan lain tidur di atas karpet yang terhampar di lantai balai dusun. Sebagian masih lanjut ngobrol dengan warga yang masih setia menemani sambil ngopi dan makan kacang. Saya memilih untuk langsung tidur, dan rupanya dinginnya udara dari gunung Tambora lebih dominan daripada angin laut dari Selat Saleh, membuat kami yang tidur pun harus mencari apa yang ada di dalam tas untuk menghangatkan diri.

Terdengar bunyi lirih lonceng yang mendekat dari kejauhan di malam itu. Bagi mereka yang baru saja menonton film nasional yang sempat heboh beberapa minggu lalu, tentu berpikir akan ada sesuatu yang akan datang. Dan memang betul, ada yang datang, dan kami baru mengetahuinya esok paginya.

Pagi subuh amat dingin di Sori Tatanga. Setelah subuhan, dan kemudian matahari terbit sempurna, barulah saya mengetahui bahwa dusun ini terletak di lokasi yang amat indah dan menakjubkan. Di sisi utara saya terlihat jelas gunung Tambora yang dua abad lalu pernah meluluhlantakkan Pulau Sumbawa dengan letusan level 7 dari maksimal 8 level VEI, yang bahkan asap letusannya memenuhi atmosfer bumi dan menciptakan tahun yang disebut orang Eropa "The Year Without Summer", warga dunia kelaparan dan puluhan ribu meninggal akibat kurang pangan, tidak bisa bisa panen sebagaimana biasanya karena sinar matahari terhalang asap Tambora. Di sebelah selatan terlihat dengan amat jelas Selat Saleh yang terbentang luas. Pemandangan yang sangat menakjubkan dari dusun yang amat sederhana ini.

Saya akhirnya berpapasan dengan sosok yang membunyikan lonceng semalam, dan ia pun dengan cueknya masih membunyikan lonceng yang terpasang di lehernya. Iya, itu sapi pertama yang saya lihat di pagi itu. Sebelum akhirnya lonceng-lonceng yang lain bersahutan tiba ketika barisan kambing berjalan tanpa gembala melewati balai dusun kami. Jadi di kaki gunung Tambora ini, ternak seperti kambing, sapi, kerbau, mereka hidup bebas tanpa digembala, tanpa pernah tertukar pemiliknya karena masing-masing punya tanda. Sebagian dari mereka dipasang lonceng, mungkin untuk memudahkan pemiliknya mencari kalau sedang butuh beberapa ekor untuk dirawat atau dijual.

Saya mampir di salah satu rumah penduduk, Pak Umar sambil menemani aktivitas pagi mereka. Kedua anaknya sedang disiapkan untuk sekolah. Ada SD di samping balai dusun, tapi kalau SMP mereka harus jalan 9km ke arah pantai. Banyak diskusi dengan Pak Umar, beliau sangat senang dengan lampu ini anak-anaknya bisa belajar di sore hari. Saya ditunjukkan juga, bahwa sebelum program LTSHE ini, sudah pernah pula ada program dari Transmigrasi berupa set panel tata surya disertai dengan baterai/aki dan lampu. Tapi tak bertahan lama, karena komponen ya lebih rumit dan aki butuh perawatan yang tidak mudah didapatkan di pelosok seperti di sana. Beliau berharap LTSHE ini bisa awet, dan salah satu dari perwakilan pihak pemasang menyampaikan bahwa LTSHE ini ada garansi dua tahun, dengan perawatan yang lebih mudah karena tidak menggunakan aki, sedangkan daya dari panel surya langsung disimpan di baterai Lithium yang terpasang di masing-masing lampu.

Pagi itu kami memulai aktivitas dengan memasang LTSHE di rumah Pak Yakub. Saya sempat mencegat anak-anak yang tanpa seragam berangkat ke sekolah, untuk kemudian tahu kalau gurunya tidak datang, dan akhirnya mereka ramai menemani pemasangan di rumah yang tersisa. Instalasi dilakukan di rumah Pak Yakub dengan sangat cepat, karena memang relatif mudah. Tak lebih dari 1 jam sudah selesai. Anak-anak yang ikut menunggui membuat suasana lebih ceria, mereka sambil menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu daerah, dan tertawa ketika diajak bercanda oleh rombongan kami. Selesai instalasi, Pak Yakub dilatih oleh tim instalasi bagaimana cara penggunaannya, dan kemudian menandatangani surat serah terima LTSHE dari pemerintah Republik Indonesia kepada beliau.

Lampu yang terpasang ini ternyata bisa diset tingkat pencahayaannya, bisa terang, setengah terang, dan redup. Butuh 4 jam untuk mengisinya dengan panel surya. Dan lampu itu bisa dipakai hingga 6jam untuk mode terang, dan lebih dari 12 jam untuk mode redup. Dan uniknya, untuk menyetel tingkat pencahayaan menggunakan remote control, yang mungkin kita malah belum secanggih itu. Dan menariknya lampu itu bisa dilepas dan dipasang dengan mudah, jadi lampu itu sekaligus bisa berfungsi sebagai senter jika warga hendak berjalan ke luar rumahnya. Keren dan fungsional.

Selesai dari rumah Pak Yakub, kami pun berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi semak ke bagian atas kampung menuju rumah Pak Lalu. Jalan menuju rumah Pak Lalu ini sangat eksotis, selain pemandangan gunung Tambora dan Selat Saleh, masih ditambah dengan pemandangan bukit savanna dan jurang yang dalam, mungkin akibat letusan Tambora itu. Ada belasan sapi yang sedang merumput bebas tanpa merasa terganggu akibat kehadiran kami.
Pak Lalu dengan keluarga amat senang dengan pemasangan ini, dan beliau menyampaikan rasa syukurnya dan terimakasih karena diperhatikan oleh pemerintah.

Sejujurnya, saya yang selama ini tinggal di beberapa kota, dan nyaris tidak pernah ada satu malam yang terkena gelap gulita, amat malu dengan sikap tulus mereka. Kita selama ini terbiasa boros menggunakan listrik, bahkan sering meninggalkan lampu menyala meski kita tidak memakainya, tapi kita pula yang amat ribut ketika misalnya subsidi energi yang kita terima (BBM ataupun listrik) dikurangi. Mereka tidak pernah ribut. Padahal penghapusan subsidi yang biasa kita hamburkan, salah satu tujuannya adalah supaya mereka yang tinggal di pelosok ini juga bisa menikmati hak dalam bidang energi. Hak untuk mendapatkan cahaya, supaya anaknya bisa belajar, masyarakat bisa mengaji ketika surya sudah tenggelam.

Siangnya kami ijin sebentar untuk menikmati alam Tambora yang amat indah ini, sebelum kemudian kami kembali setelah waktu Ashar untuk membuat keramaian di balai dusun. Ya, anak-anak rupanya sudah menunggu, karena sebelumnya sudah dijanjikan ada acara permainan yang seru. Sore itu memang agendanya kita semua berbagi kebahagiaan, berkumpul bersama, menunjukkan persaudaraan karena cahaya, bersahabat karena satu bangsa.

Selepas sambutan dari Kepala Desa dan dari perwakilan Kementerian ESDM Pak Dadan Kusdiana, keseruan itu dimulai ketika mbak Dian Eka dan Kinara, keduanya juga dari ESDM, mengajak orangtua dan anak-anak dusun untuk bermain bersama. Ada banyak hadiah yang disiapkan, meskipun sederhana tapi amat membuat semua warga antusias untuk terlibat dalam rangkaian permainan yang amat seru itu. Pendekatan seperti ini yang saya akui sangat bagus, dan mungkin bisa menjadi model bagi kementerian lainnya. Dari warga, mereka menyumbang tarian tradisional ala Sumbawa. Di akhir acara, Sekretaris Desa menyampaikan bahwa dia sangat bahagia ketika ada yang mengajak warganya ikut bergembira seperti itu, karena jarang sekali ada yang mengajak warganya tertawa dan ceria seheboh itu.

Masyarakat diajak membawa lampu yang bisa dilepas itu untuk berkumpul membentuk formasi di depan balai dusun. Disini pun kehebohan terus berlanjut. Aksi ini tujuannya adalah untuk menunjukkan kebahagiaan mereka yang telah terbantu mendapatkan penerangan secara gratis, dan bisa menggunakan energi gratis dari sang surya.

Maghrib pun tiba. Surau yang sebelumnya gelap gulita ketika malam, sudah tampak terang karena juga terpasang LTSHE. Kami dan masyarakat shalat Maghrib bersama, dan setelah itu kami pamit pulang. Bangga karena kami bisa menyaksikan kebahagiaan mereka, sedih karena kami harus meninggalkan saudara yang baru kami temui.

Sumber : Status facebook Muhammad Jawy dengan judul Cahaya Persaudaraan di Sori Tatanga

Monday, November 20, 2017 - 16:15
Kategori Rubrik: