Pecundang

Oleh; Erizeli Bandaro

Saya tidak akan berdebat dengan orang yang dengan garang membela tafsir firman Tuhan dan Sabda rasul. Apalagi atas nama Jihad membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh. Semua tahu akan fakta bahwa tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Apakah saya harus tunduk dengan orang yang mengaku wakil Tuhan dan penentu kebenaran? Kalau saya tunduk, maka saya otomatis jadi komunitas gila. Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Terorisme tak perlu dan tak bisa diterangkan dengan sabda atau fatwa. Agama islam yang saya pahami dari kedua orang tua saya , tidak mengajarkan itu. Apakah saya harus mendengar orang lain yang tidak pernah terbukti cinta dan pengorbanan terhadap saya. Lantas mengapa ada orang yang menganggap saya tidak waras ketika saya bersikap seperti itu?

Hans Magnus Enzensberger , dalam bukunya “ The radical loser” punya pandangan yang patut kita renungkan atas fenomena agama dan idiologi yang garang itu. Menurutnya kalau ada orang harus membenci dan menebarkan teror atas nama agama atau idiologi maka dipastikan orang itu loser atau pecundang. Mengapa ? Agama atau idiologi kalau sudah berada diranah politik maka sangat mudah menjadikan seseorang pecundang dan akhirnya jadi komunitas gila atau sakit jiwa. Sebetulnya tidak ada orang terlahir untuk jadi pecundang. Namun dari setiap kelahiran akan selalu ada penyimpangan sehingga pecundang tercipta.

 

 

Sejarah mencatat bahwa para pecundang itu datang dari ketidak adilan ekonomi yang dimaknai sebagai musuh yang harus diperangi. Padahal musuh sebenarnya adalah dirinya sendiri , yang dia sendiri tidak punya keberanian melawannya. Enzensberge, mengatakan bahwa mereka mengisolasi diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang. Para pecundang itu, mengatakan kepada dirinya sendiri: ”Aku pecundang, dan tak bisa lain selain pecundang.” Ia tak melihat hidupnya berharga, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia menggebrak, si pecundang siap membinasakan orang lain sekaligus dirinya sendiri.

Tetapi sebetulnya para pecundang itu adalah korban dari agama dan idiologi yang dijejalkan ke dalam pikirannya , dengan cara sederhana para mentor menciptakan kondisi alam bawah sadar mereka bahwa mereka adalah ”tuan dari hidup dan kematian”? Maka mereka jadi seorang militan. Mereka jadi subyek. Sejenak ia membebaskan diri dari statusnya yang loser : untuk memakai kata-kata dalam sebuah sajak Chairil Anwar, ”sekali berarti, sudah itu mati.” ”Ber-arti”, atau mendapatkan harga dan makna, itulah yang ditanamkan oleh para mentor kepada mereka. Tentu saja karena ada kecocokan antara si pecundang dan ajaran atau ideologi itu: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang, lahir dari tafsir yang diutarakan dari sebuah inferior complex dalam beragama.

Enzensberger memaparkan tesisnya dalam perpektif sejarah Islam. Jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Enzensberger mengutip sajak penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam karya dan industri”. Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain terus-menerus menemukan kekalahan.

Enzensberger menulis: ”Bagi setiap orang Arab yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi”. Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20 dari ”Barat” yang mereka haramkan. Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi. Yang terpuruk jadi merasa tambah terpuruk justru ketika ingin membebaskan diri. Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada ”mereka” dan juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, para pecundang berkelimun.

Akankah ada pembebasan? Mungkinkah pembebasan? Saya percaya, jadi pencundang bukanlah hukuman yang kekal. Tapi untuk itu agaknya diperlukan sebuah lupa. Si pecujndang perlu tak mengacuhkan lagi luka sejarah. Ia perlu melihat kekalahannya sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti kata petuah lama, guru yang baik. Tapi saya sadar, pecundang akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika ia menerima ajaran bahwa kekalahannya karena orang lain, bukan dirinya sendiri. Maka kebencian kepada yang berbeda di ajarkan dan surga yang kekal dijanjikan, amarah dalam kekalahan dan kebodohan jadi langkah awal dan akhir. Dan selebihnya bego..

Para pecundang itu adalah korban dari radikalisme yang karena idiologi atau agama membuat mereka bodoh. Karenanya jangan hadapi korban mereka dengan kebencian tetapi hadapi mereka dengan sabar dan cinta.

Pahamkan sayang

 

(Sumber: FP Diskusi dengan Babo)

Saturday, February 24, 2018 - 05:15
Kategori Rubrik: