Pecinta Cucu Tetangga Rasul

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar
(Beda Lho ! Antara Sayyid dengan Habib)

Lagi rame komen, narasi, atau apapun tentang ke-'Habib'an. Saling-silang. Pro-kontra. Ada yang omong habib harus dihormati sebagai 'dzurriyah Rasul'. Ada yang omong hormat iya tapi ndak harus diikuti. Ada yang omong juga, 'lihat2 dulu dong'. Bagaimana tingkah-polah, akhlak, atau adab etikanya . . .

Dzurryah sendiri berasal dari kata 'dzarah'. Benih atau materi yang sangat kecil. Jadi 'dzurriyah Rasul', bisa diartikan sebagai anak-turun Rasul. Muhammad SAW . . .

Putri Nabi, Fatimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Ali sendiri adalah putra paman Nabi, Abi Thalib. Pasangan ini dikaruniai 2 orang putra, Hasan dan Husein. Konon ada riwayat, Sayyidina Hasan, mirip 'bagian atas' Rasul. Punya sifat yang lembut. Sedang Husein, mirip 'bagian bawah' Rasul. Lebih berani 'keras', dalam berkata dan bersikap.

Keduanya, baik Hasan maupun Husein, dalam budaya Arab maupun aturan Islam, mesti punya nama sambungan 'bin Ali'. Ndak boleh pakai 'bin Fatimah'. Meski Fatimah itu putri seorang Rasul . . .

Cantolan nama diujung 'silsilah' ini ndak bisa diubah. Turun terus. Putra sayyidina Husein misal, nama-nya Ali. Ya mesti, Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib. Nah, di nama Abdul Muthalib ini ketemu dengan 'silsilah' Rasul.

Karena Muhammad putra Abdullah, dan Abdullah putra Abdul Muthalib. Jadi memang Muhammad dan Ali itu 'misanan', sepupu . .

Rabitha Alawiyah, organisasi pencatat anak- turun Nabi, mendata ada 151 marga. Ketua Rabitha Alawiyah, Habib Zein, mengatakan di Jakarta paling banyak ber'marga' al Attas, kedua al Haddad.

Keturunan Hasan biasa disebut sebagai 'Syarif', sangat jarang ada di Indonesia. Sedang anak-turun Husein dipanggil 'Sayyid'.

Nah, lanjut Habib Zein lagi, ndak semua Sayyid itu berarti Habib. Tergantung. Apakah dia benar2 baik. Mengajar dengan ilmu. Akhlak -nya baik, dan menjadi panutan . . .

Harus bisa dibedakan. Sekarang telah terjadi degradasi status 'Habib'. Ini yang omong Habib Zein bin Umar ketua Rabitha Alawiyah lho . . .

Perkara 'perlakuan' terhadap dzurriyah Nabi ini. Bisa diawali dari cerita mengapa mereka ber-hijrah kemana-mana. Ke Hadramaut misal.

Karena waktu timbul fitnah, bahwa keturunan Nabi akan mengambil alih kekuasaan. Maka oleh penguasa saat itu, banyak diantara mereka yang diburu bahkan dibunuh.

Ditarik lebih ke awal lagi, kedua Cucu Nabi dapat 'perlakuan' tidak saja tak mengenakkan, tapi juga kejam dan sadis. Sayyidina Hasan wafat karena di racun. Karena urusan Imam atau kilapah. Padahal beliau sudah mau mengakui Ke-'Imam'an Muawiyah. 'Kilapah dinasti' Islam pertama.

Ada banyak riwayat tentang siapa yang meracun Hasan. Salah satunya, justru istri beliau. Yang dijanjikan akan dinikahi oleh Yazid.

Lha, Yazid ini anak Muawiyah, cucu Abu Sufyan, yang sebelum masuk Islam adalah 'musuh' besar Nabi. Abu Sufyan ini, Abu Jahal versi 'soft'. Kerah putih.

Adiknya, cucu Nabi yang lain, Sayyidina Husein, cara wafatnya lebih getir lagi. Dengan pasukan yang cuma 72 orang, dikeroyok oleh pasukan Khalifah Yazid, yang jumlahnya ribuan.

Sekejap semuanya tumpas kecuali beliau. Pasukan musuh sempat ragu. Bukankah beliau cucu Rasulullah ?

Namun tak urung tewas juga. Mata dan mulut- nya di-tusuk2. Padahal mereka tahu, mulut itu pernah dicium, bersentuhan dengan mulut suci Rasul. Bahkan kepalanya pun di penggal. Itu di Karbala . . .

Jadi kedua cucu kesayangan Nabi memang terbunuh dengan cara yang tidak se-mena2, oleh atau tepatnya di jaman ke-Khalifah-an Muawiyah dan Yazid.

Sekarang balik lagi. Terkait pada catatan 'perlakuan' terhadap anak-turun Nabi. Telah diungkap sedikit banyak oleh Habib Zein Umar. Terutama, harus dibedakan antara turunan genetika dengan turunan 'keilmuan dan akhlak' Nabi. Beda antara Sayyid, di beberapa tempat, misal Aceh atau Malaysia disebut 'Said', dengan Habib.

Anak turun Nabi, mungkin waktu masih disebut Sayyid, juga ndak luput dari perlakuan yang tidak mengenakan. Hingga terpaksa hijrah ke Hadramaut, juga ke seluruh penjuru dunia.

Begitu tak mengenakan sampai2 kedua Cucu Nabi tewas terbunuh dengan cara yang tsk mulia. Diracun dan dipenggal . . .

Kisah terbunuhnya kedua Cucu Nabi ini bikin sebagian umat Islam jengah. Jarang bicara soal ini. Sedikit tabu juga kalau di ekspose. Terutama peristiwa di Karbala. Kenapa . . . ?

Karena takut disangka Syiah, atau paling tidak 'pecinta' Syiah. Peristiwa terbunuhnya Husein, Hari Asyura, diperingati secara khusus oleh kaum Syiah. Lagipula yang membunuh kedua Cucu Nabi itu terkait para 'Kilapah'. Bukan kah model 'kilapah2an' begini yang lagi diusung. Digandrungi. Dicintai ?

Di negeri ini, Indonesia, juga begitu. Sebagian dari umat Islam pikirannya juga lagi mendua. Selingkuh. Mau cinta 'dzurriyah Rasul' tapi plin plan. Cinta 'anak-turun' Nabi yang di Indonesia yang mereka sebut 'habib', tapi 'melupakan' yang di Karbala.

Cuma takut dikira Syiah. Cintanya, yang plin-plan dan selingkuh, pada Cucu Nabi, juga kalah dengan rasa cinta mereka pada para pembunuhnya, para 'kilapah', Cucu Abu Sufyan. Dulu Tetangga Nabi . . .

Allahumma shalli ala, sayyidina Muhammad.
Wa 'ala ali sayyidina Muhammad . . .

Titip salam hormat nan takzim kagem Habib Luthfi bin Yahya ingkang lenggah teng Pekalongan . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, November 20, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: