PDIP untuk Apa, Ahok?

Oleh: Denny Siregar
 

Kenapa Ahok mengambil jalur partai ?

Bisa dibilang, jalur partai masih jalur yang paling aman sampai saat ini dibandingkan jalur independen yang penuh dengan jebakan saat verifikasi.

Sebagai contoh saja adalah pasal 48 RUU Pilkada mengatur, jika pendukung calon perseorangan tidak bisa ditemui Panitia Pemungutan Suara (PPS) dalam verifikasi faktual ke alamatnya, pasangan calon diberikan kesempatan menghadirkan mereka ke kantor PPS dalam waktu 3 hari.

Ini ujian yang berat pada tingkat masyarakat dengan mobilitas yang tinggi. Belum tentu orang yang di verifikasi itu bisa diberatkan ketika ia sedang bisnis di luar negeri. Sedangkan KPU harus menerapkan pasal ini untuk menjaga bahwa KTP dukungan bukan KTP palsu. Dan anda tahulah, lawan2 Ahok akan memainkan situasi ini untuk selalu menekan KPU supaya Ahok gugur dalam pencalonan.

Itu baru satu perangkap saja diluar banyak perangkap lain yang sudah disiapkan.

Meski Ahok sudah siap untuk kalah dalam pencalonan ini, pertanyaannya betulkah masyarakat siap ?

Jakarta lebih butuh Ahok daripada Ahok butuh Jakarta. Kalau tidak menjadi Gubernur, dia bisa ditarik di pusat oleh Jokowi dan disiapkan kursi untuk kesiapan reshuffle selanjutnya. Tapi semua program pusat di Jakarta yang sudah direncanakan bisa terhambat, karena bisa saja Gubernur yang terpilih nanti tidak kooperatif.

Dan kalau gitu siapa yang rugi ?

Ya, anda yang tinggal dan ber-KTP Jakarta, bukan mereka yang ber-KTP Jawa barat tapi tereak2 ‪#‎KTPgue‬ balikin. Urusannya apa mereka kecuali ngerusuhin ? Anggap aja suara monyet yg ribut saat musim kawin tiba.

Dengan gabungnya Golkar sebagai partai pengusung, maka Ahok sudah cukup mengantungi tiket pencalonan. Kursi yang dibutuhkan untuk mendapat tiket di DKI adalah 22 kursi. Hanura 10 kursi, Golkar 9 dan Nasdem 5, jadi total 24 kursi. Sudah mencukupi.

Perlu PDI-P ? Buat apaaaa... Dah, gak penting lagi.

PDI-P dengan 28 kursi sudah bisa mengangkat calon sendirian. Tentu mereka ingin posisi tawar yang tinggi. Yah, biar aja mereka angkat calon sendiri. Siapa kek, mungkin kasian ma Yusril yang sekarang sedang sedih karena gada yang ngelamar sambil mengelus2 boneka Miki Mouse dan mau berbuat apa saja asal ibu senang.

Sedangkan Gerindra yang katanya sudah resmi mengusung Sandiaga Uno - di tempat lain katanya Sjafrie Samsudin, entah mana yang benar - sudah mengantungi 15 kursi. Cukup dengan gabung ma PKS aja yang punya 11 kursi, maka penuh sudah syarat mereka.

Jadi bisa di hitung mana yang lebih ruwet, jalur independen dengan ruwetnya verifikasi atau jalur partai yang hanya butuh kursi doang ?

Dengan memahami ini, kita bisa memahami perang batin Ahok ketika akhirnya harus realistis mengambil jalur partai. Bukan dia yang tidak mau independen, tetapi banyak orang di belakangnya yang membutuhkan dia di Jakarta untuk mengambil "jalur aman" sementara, terutama pesan dari sahabat dekatnya. Ini bukan masalah gengsi2an, ini masalah bagaimana memenangkan perang dengan elegan.

Eksperimen demokrasi yang ingin ditunjukkan Ahok dalam pilkada, sudah cukup bab pelajarannya. Selebihnya nanti peraturannya yang akan dibuat untuk menutup lubang2 besar bagi mereka yang ingin berada di jalur independen, supaya tidak menjadi mangsa empuk partai.

Jadi ketika anda memang niat mendukung, dukunglah dengan cerdas. Politik itu dinamis, harus terus bergerak dengan langkah kuda. Kalau cuman langkah benteng yang lurus2 saja, gampang mencegat dan menghantamnya. Mau dukung Ahok jadi Gubernur atau untuk berantem dengan partai ? Itu kuncinya.

Mari minum kopi dulu supaya terang benderang akalnya. Pesan terakhir, kalau satu saat punya cucu, pastikan dia tidak memasukkan anda ke neraka.

Seruputttttt...

 

(Sumber: dennysiregar.com)

Saturday, July 30, 2016 - 10:15
Kategori Rubrik: