PDIP Perlu Jujur

 
Oleh: Iyyas Subiakto
 

Kekalahan demi kekalahan di pilkada mengindikasikan bhw pamor partai trah Soekarno ini sdh lampu kuning. Menjadi pemenang pileg 2014, tidak lepas dari peran Jokowi yg mengerek suara krn rakyat bgt menyukainya. Walau keangkuhan Mega masih terus dipeliharanya.

Saya jujur tidak bgt respek kpd pribadi beliau yg terkesan ketus dan dominan. Ingat saat Jokowi mulai disuarakan menjadi capres, pada acara mata Najwa. Dengan bibir manyun Mega mengatakan ; Jadi presiden itu tdk gampang, perlu pengalaman. Dia lupa Jokowi 10 thn jadi Walikota Solo, sedang jd Gub DKI saat itu. Tersirat ucapan itu dan saat itu, Mega msh " pengen " nyapres. Untung dlm prosesnya dia sadar Jokowi tdk terbendung, dan terbukti Jokowi memenangi kontestasi. Dan Mega masih jumawa. Mengundang Jokowi pd kongres di Bali, Jokowi disebut petugas partai. Sbg presiden RI Jokowi tdk diberi ruang utk sebuah kongres partai sekedar menyampaikan kata sambutan. Luar biasa " keangkuhan " itu, dan itu fakta.

 

 

Disana dia msh mau menunjukkan bhw tanpa PDIP dan dia sbg " pemilik " nya, Jokowi tdk bs apa2. Memang kenyataannya partai adalah kenderaan bagi politikus Indonesia, tapi kenapa bgt banyak orang partai tak bisa apa2, dan lucunya yg bego malah diangkat menjadi pejabat mewakili partainya, hasilnya, cuma mesam mesem saja. Dan Indonesia dapat asemnya.

Ibarat lahan, sebaik apapun suburnya bila ditanami dgn bibit kualitas rendah, tumbuh pasti bisa, tapi hasilnya bisa tdk ada. Karena bgmn juga lahan subur utk bibit yg baik, dan hasilnya pasti baik. Jokowi sebenarnya bibit super ditanam di lahan agak kering, untung akarnya cepat mendapatkan air sbg penguatnya, air itu rakyat Indonesia. PDIP cuma menanam, menyiramnya kadang lupa, karena terlalu yakin dgn tanahnya, mereka lupa ada lahan yg baru dibuka dgn tingkat kesuburan hara yg luar biasa. Nasdem dan PSI adalah lahan subur yg sdg mencari bibit unggul. Dua partai ini bs membuat PDIP mandul.

Megawati tidak bisa lagi mencari pengganti dari internal yg tak terlepas dari darah Soekarno. Puan kemampuannya pas2an, Prananda kelamaan di naikkan ke permukaan, Puti tiba2 ada, dan dilawankan kpd Khofifah sang pemain lama. Hasilnya gak jadi apa2. Terus kedepan mau apa. Gak jelas semua. Sayang Adian Napitupulu bkn cucu Soekarno, andai itu bs direkayasa, Adian adalah politikus cerdas yg bisa membuat banyak hal, sayang dia batak toba.

Kondisi perpolitikan dimana dua pendatang baru bgt dilirik masyarakat sbg partai harapan. Nasdem dan PSI merekrut caleg tanpa mahar, ini sangat mempengaruhi kondisi dimana sdh menjadi budaya bhw mahar adalah hal wajar bagi partai2 lama. Apakah Jokowi jg kasi mahar, saya gak jelas isunya.

PDIP harus realistis, ketokohan Megawati hanya utk kaum tua. Sementara pemilih saat ini bergeser ke kaum muda. Teriakan " merdeka " saja perlu di kaji lagi, apakah bs menyentuh kebutuhan kekinian yg lebih suka meneriakkan " BISA " dari pada teriakan merdeka, karena zamannya saat ini adalah mengisi kemerdekaan, bukan sekedar meneriakkan. Itu esensi sebenarnya.

Kalau saya, kalau..kondisi PDIP harus berani beraksi anomali, bila perlu Jokowi diserahi ketum PDIP, terbayang bgmn rakyat makin solid karena harapan estafet perjuangan dan angan2 Soekarno diPegang oleh orang yg pas, bukan di pas2kan. Atau sekedar keturunan yg tdk siap melanjutkan perjuangan apalagi impian masa depan.

Akankah Megawati bisa melakukan itu. Wallahu a'lam..dia bukan tipe pemberi, dia tipe pelindung saudara sendiri, kecuali utk Rachmawati, adik yg satu ini menjadi musuh abadi.

Uhh..baru sadar sy belum mandi. Dan belum tentu pikiran ini diterima Jokowi. Anaknya saja jualan martabak dan pisang goreng, beda dgn puan yg jd menteri. Memang kelas manusia perlu di gagas. Sayangnya beda tipis antara gagasan dan geragasan.

Summer di Belanda, 30 juni 2018.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Monday, July 2, 2018 - 04:45
Kategori Rubrik: