PCR

ilustrasi

Oleh : Agni B Sugiyamto

“PCR basically takes a sample of your cells and amplifies any DNA to look for ‘viral sequences’, i.e. bits of non-human DNA that seem to match parts of a known viral genome.

-> PCR pada dasarnya memgambil sampel sel anda dan mengamplifikasi DNA apapun untuk mencari 'sekuen virus', misalnya sedikit dari DNA non-manusia yamg tampaknya cocok dengan bagian dari genomik virus.

The problem is the test is known not to work. It uses ‘amplification’ which means taking a very very tiny amount of DNA and growing it exponentially until it can be analysed.

-> Masalahnya tes ini di ketahui tidak bisa di pakai. Karena menggunakan 'amplifikasi' yang artinya mengambil sejumlah kecil DNA dan menumbuhkannya secara eksponensial sampai bisa di analisa.

Obviously any minute contaminations in the sample will also be amplified leading to potentially gross errors of discovery.

-> Bisa di tebak bahwa kontaminasi sekecil apapun pada sampel dapat juga teramplifikasi yang berakibat kesalahan besar dari temuan tersebut.

Additionally, it’s only looking for partial viral sequences, not whole genomes, so identifying a single pathogen is next to impossible even if you ignore the other issues.The idea these kits can isolate a specific virus like COVID-19 is nonsense.”

-> Sebagai tambahan, alat ini diperuntukkan untuk memcari sekuen virus parsial, bukan genom utuh, maka mengidentifikasi patogen tunggal itu nyaris tidak mungkin. Ide bahwa virus ini dapat mengisolasi virus tertentu seperti SARS COV2 itu nonsense.

https://uncoverdc.com/…/was-the-covid-19-test-meant-to-det…/

Note:

nemu ini..

Monggo klu ada yang mau diskusi..

Oiya, ini kata penemu PCR:
Dr. Mullis wrote, on May 7, 2013:

“PCR detects a very small segment of the nucleic acid which is part of a virus itself. The specific fragment detected is determined by the somewhat arbitrary choice of DNA primers used which become the ends of the amplified fragment. “

-> PCR hanya mendeteksi segmen yg sangat kecil dari asam nukleat yamg merupakan bagian dari virus itu. Fragmen spesifik yang terdeteksi itu ditentukan oleh pilihan yang sewenang wenang dari primer DNA yang dipakai yang menjadi ujung dari fragment yang di amplifikasi.

If things were done right, “infection” would be a far cry from a positive PCR test.

-> jika semua di lakukan dengan benar, "infeksi" tampaknya jauh sekali dari hasil PCR yang positif.

Note:

Sekali lagi dalam ilmu kedokteran, kita tidak memulai diagnosis penyakit apapun dengan testing testing..

Kita di dunia medis selalu memulai dengan wawancara atau anamnesis secara subyektif, kemudian memeriksa paru pasien misalnya secara obyektif, dan mempertimbangkan hasil testing hanya untuk menunjang diagnosis yang kita bangun.

Dalam artikel ini di sebutkan juga penelitian di Wuhan. Apabila di lakukan banyak testing, maka akan di temukan 80 persen pasien tanpa gejala. Karena apa, karena menurut perhitungan matematis mereka, 80 persen adalah false positif.

Belajar dari Wuhan, mereka mengutamakan klinis untuk menegakkan diagnosis dan gambaran CT scan paru. Mereka hanya melakukan sedikit testing PCR.

Mohon komentar dengan santuy, menyanggah menggunakan data..

Sumber : Status facebook Agni B Sugiyamto

 
Friday, June 12, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: