Pasukan Garuda Delapan

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
Sepulang dari Mesir tahun 1972, ayah ibu saya tinggal di Jakarta, menempati rumah warisan peninggalan kakek saya, Haji Basir.
Waktu itu saya masih usia dua tahun setengah. Ngomongnya campur aduk antara ammiyah Mesir dengan Betawi Pedurenan. Saya lupa-lupa ingat karena masih kecil sekali.
Tahun 1974 ayah saya dapat panggilan tugas ke Sinai, jadi pasukan perdamaian PBB di wilayah Mesir yang sempat dicaplok tentara Israel.
Ayah saya sebenarnya bukan tentara, tapi kebetulan diminta oleh Hankam untuk jadi officer interpreter pasukan kita disana, khususnya untuk menerjemahkan Arab Indonesia.
Hankam mintanya ke Deplu. Deplu lalu menunjuk ayah saya yang saat itu baru saja ngelamar kerjaan. Kok karyawan baru bisa langsung ditugaskan keluar negeri?
Nah ini masalah kebutuhan. Kebetulan sebelum pulang ke tanah air, ayah bekerja jadi lokal staf di KBRI kita di Cairo. Dan cukup lama tinggal di negeri piramid, sekitar 16 tahun.
Jadi untuk urusan Mesir dengan segala perintilannya, orang kita paling tepat memang ayah saya.
Ini tugas negara. Jadi pasukan perdamaian PBB. Masuk dalam kontingen Garuda Delapan.
Untuk itu ayah saya wajib ikut pelatihan dasar militer dulu di Subang selama sebulan. Belajar nembak, survival, perang, tempur, baris, tinggal di alam liar dan fighting.
Meski dari sipil, namun karena bertugas di dalam pasukan militer, mau nggak mau kudu jadi militer juga. Kalau kenapa-napa, ributnya sama pasukan Isreal nih. Minimal kudu bisa pegang pistol.
Setelah itu terbang ke Mesir bersama pasukan Garuda Delapan bertugas selama sepuluh bulan.
Masuknya dari Mesir, tapi nginepnya ya di tenda pleton di gurun pasir Sinai. Jarang-jarang pasukan TNI kita bertugas di negara gurun pasir, mengalami musim panas dan musim dingin di gurun. Jelas perlu adaptasi lama. Belum lagi urusan menu makanan.
Kalau ada perlu-perlu dengan pasukan Mesir, yang maju tentu ayah saya. Yang lain di belakang tinggal ikut. Sebab pasukan kita kan bahasa Arabnya cuma tahunya sekedar na'am dan khalash saja. Setelah itu paling cuma nyebut : shodaqollahul Azhim.
Selama ditinggal tugas ke Sinai, saya yang baru usia 4 tahun menemani ibu saya yang waktu itu hamil tua. Hingga adik saya lahir saat ayah saya masih bertugas di Sinai.
Saya ingat waktu itu saya diberi fasilitas untuk bisa bicara dengan ayah saya di gurun Sinai lewat radio. Tapi saya kudu datang ke Medan Merdeka Barat. Nanti difasilitasi oleh Bapak tentara untuk bicara via break...break...
Sepuluh bulan itu bukan waktu yang sebentar. Ibu saya bahkan sempat pulang kampung ke Jogja agak lama. Saya tentu diajak, termasuk TV hitam putih milik kitapun dibawa pulang kampung.
Di dusun Pokoh tentu saja geger. Soalnya zaman segitu ada TV dianggap luar biasa. Orang-orang dari dusun tetangga mengalir berdatangan. Simbah Djumali lalu meletakkan TV di halaman. Dan masyarakat duduk nonton TV kayak nonton misbar.
oOo
Akhirnya setelah menunggu sepuluh bulan, tiba lah hari yang dinanti. Rumah saya di Jakarta ramai didatangi saudara, kayak mau ada hajatan. Masak-masak dan berbenah. Semua ikut menanti-nanti kedatangan ayah saya pulang bertugas di Gurun Sinai.
Masuk kampung Pedurenan, serenceng petasan pun disulut. Mirip orang pulang haji. Orang-orang berlarian di belakang mobil jemputan.
Saya sendiri sejak pagi sudah bangun, mandi dan ikut menjemput ayah saya di bandara militer Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Nampak di kejauhan ayah saya turun dari Hercules sambil melambai-lambaikan tangan. Tepat disitu pula sepuluh bulan yang lalu saya melepas kepergian ayah saya berangkat ke Sinai.
Pulang dari tugas di Sinai, ayah saya ditawarkan berkarir di militer. Lumayan ditawari pangkat rada tinggi. Sempat bimbang karena tawaran tidak datang dua kali.
Namun ayah saya mikir, jauh-jauh kuliah di Mesir, kalau ujung-ujungnya bakalan berkarir di militer, terus kapan membagikan ilmunya? Kapan ngajarnya? Yang ada nanti perang melulu.
Maka dengan halus tawaran itu pun ditolak dan ayah saya balik ke Pejambon Deplu meneruskan karir jadi PNS.
Beliau kemudian membangun madrasah ibtidaiyah yang kemudian diberi nama: Madrasah Daarul-Uluum. Saya murid pertama dan jadi lulusan angkatan pertama.
Kesempatan berkarir di militer ditinggalkan. Kenangannya ada sih, yaitu beberapa koper pakaian ABRI loreng-loreng. Dulu sering saya pakai kemana-mana. Hehe buat keren-kerenan.
Tapi pistolnya kudu dikembalikan ke Hankam. Saya dihadiahi pistol-pistolan yang mirip banget dengan aslinya. Mirip airsoftgun.
Kalau picunya ditarik bisa meledak dan suaranya menggelegar juga. Tapi pelurunya tidak bisa keluar. Namanya juga pistol-pistolan.
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat
Friday, March 5, 2021 - 09:15
Kategori Rubrik: