Pastor Style

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Ramai betul jagad sosial media dengan ciapan twitter account di atas. Pendeta bergelimang harta, perhiasan, asset, hi-style, dibahas dikuliti, dijembreng. Itu satu hal. Itu bagus.

Bagaimana menghentikannya? Gampang. Berhenti ngasih persembahan ke gereja-gereja bedebah macam itu. Stop memberi persepuluhan. Jangan kasih hadiah pribadi ke pastor.

Selesai? Belum tentu.

Di Amerika Serikat banyak gereja dijadikan platform pencucian uang. Bandar narkoba menyerahkan persembahan sebesar $10juta. Karena persembahan, tentu saja gak pakek nama meski pun uang dibawa masuk ke altar dalam berpuluh kantong plastik.

Sebulan setelah itu, gereja menyerahkan donasi sebesar 60%-70% dari persembahan tersebut ke rekening yayasan milik si penyumbang di luar negeri.

Gak usah kaget. Gak usah kejengkang. Gereja Katolik Roma pernah melakukan itu di suatu masa. Berbilyun dollar terhasilkan darinya. Anda tahu, gerombolan mafia dan pengedar narkotika centang perentang mukim di negara-negara berpenduduk mayoritas Katolik di benua Amerika. Sampai kemudian Paus Fransiscus, yang sekarang ini, menertibkannya. Dia rombak susunan direksi Bank of Vatican.

Di Indonesia, praktik semacam itu mulai bermunculan. Gak usah heran kalau pengusaha di sini memiliki gereja.

Semua tumbuh mekar. Tak terhentikan selama pemerintah tidak berupaya memastikan bahwa semua pemasukan gereja, hingga yang berupa atau bersifat persembahan, adalah hal yang auditable dan taxable.

Yang terakhir berhentilah dari keyakinan bahwa ketika mengisi kantung kolekte di ibadah Minggu maka Anda mempersembahkan diri kepada Tuhan. Taik kucing semua itu.

Anda nyumbang gereja, bodok, bukan mempersembahkan uangmu ke Tuhan.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, May 14, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: