Paskah ditengah Pandemi dan Tugas Kemanusiaan

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Sore ini aku menghubungi seorang kawan di Jakarta dan di Semarang sana. Keduanya beragama Katolik. Keduanya juga relawan kemanusiaan yang ikut membantu penanganan Covid-19. Mereka terjun langsung di masyarakat dengan memberikan bantuan berupa sembako gratis kepada masyarakat kurang mampu. Kebetulan sore ini keduanya sedang agak senggang. Ku ambilah kesempatan untuk ngobrol via chatt dengan mereka.

"Hari ini Jumat Agung. Kamu nggak ikut misa?" Tanyaku iseng dan penasaran. Tak lama kemudian kawanku (sebut saja inisalnya W dari Semarang) membalas, "Ya ikut lah. Kan online. Jadi nggak ke Katedral," jawabnya. Beberapa saat kemudian satunya lagi (sebutlah inisialnya C dari Jakarta) membalas, "Misa, vin"

"Terus kalau dalam keadaan begini, kamu ngerasa sedih nggak sih, nggak bisa ikut misa di Gereja?"

W menjawab, "Sedih banget. Nggak tau lagi. Tapi paham keadaan lah. Tuhan juga nggak mengharuskan kita secara fisik datang ke Gereja. Asal hati kita tetap disana"

C menjawab, "Nggak usah ditanya sedih atau enggak. Kayak kamu punya Idul Fitri tapi pas keadaan kayakgini nggak bisa shalat ied. Sedih nggak? Ya jangan tanya. Pasti sedih banget"

Terus, tanyaku, "Capek nggak ikut jadi relawan kemanusiaan gitu?"

W menjawab, "Apa yang aku korbankan belum ada apa-apanya dibanding pengorbanan Yesus"

C menjawab, "Nggak ada rasa lelah sih. Aku malah lupa rasa lelah tu kek apa. Seneng banget. Apalagi liat senyum orang-orang yang gue bantu... nggak bisa diungkapin pake kata-kata lagi. Barangkali Tuhan sengaja menciptakan pandemi ini buat kembali menyadarkan kita pentingnya kemanusiaan. Kayak kata GusDur kan? Kalo gak salah "Kemanusiaan di atas agama" yah... begitulah. Dan ini kerasa banget ketika kemarin gue ngasih bantuan ke orang yang menurut gue muslimah kaffah. Dia tau kalo gue pake kalung salib. Tapi it's okay gitu. Dia samsek nggak mempermasalahkan. Disinilah gue berada ditingkat keyakinan atas apa yang Gus Dur sampaikan: Berbuat baiklah, orang tidak akan tanya apapun agama atau sukumu. Ini realistis banget. Ini jadi pengalaman terindah. Meski gue juga sebenarnya was-was banget"

Yups. Kenapa aku memilih ngobrol sama keduanya? Mereka paling semangat menyuarakan kemanusiaan. Di tengah pandemi ini, mereka terus giat menyuarakan itu sambil beraksi langsung.

"Gue nggak ngurusin mau dia dulu pernah nyinggung agama gue, mau dia pernah ngehina agama gue. Kalau kondisi kayagini, tetep yang paling utama adalah kemanusiaan. Agama gue nggak ngajarin balas dendam. Kalau ada yang butuh bantuan, ya sebisanya dibantu. Nggak mandang dia siapa. Tuhan nggak ngajarin umatnya jadi pembenci dan pendendam," ungkap C saat kutanya "kalau misalnya ada yang kamu bantu ternyata anti atau bahkan memusuhi agamamu, gimana?"

Dan....
Ini pas banget sama tema yang aku pelajari tadi saat kuliah Studi Islam terkait bab Fungsi dan pengertian Agama. Salah satu fungsi agama adalah untuk merajut kebersamaan. Beragama artinya kita juga harus berperikemanusiaan.

"Tugas kemanusiaan itu berat. Kalau bukan orang yang amanah pasti keder. Gue aja agak ngerasa keder saat dikasih job. Awalnya ragu "serius nih gue daftar?" Tapi Tuhan seakan membisiki gue... "ayolah kamu pasti bisaa.." yaudah gue mantep aja daftar dan akhirnya bisa ikutan. Melayani kemanusiaan adalah ajaran Tuhan yang harus terus kita laksanakan"

"Tapi BTW, Gue kangen keluarga di rumah. Doain mereka ya Vin. Semoga baik-baik aja" ungkap C yang kemudian disusul emoji menangis.

Angkat topi buat mereka yang bener-bener melayani kemanusiaan secara langsung di tengah pandemi yang bikin kita galau ini. Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungi kita semua.

Selamat Paskah buat temen-temen yang merayakannya. Semoga sehat-sehat selalu semuanya.

Ini foto Mgr. Robertus Rubiyatmoko (Uskup Keuskupan Agung Semarang). Gatau kenapa aku liat ini hati ngerasa tersentuh banget. Semoga beliau selalu dalam lindungan Tuhan. Aamiin.

Sumber : Status Facebook Vinanda febriani

Saturday, April 11, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: