Paska Freeport Dikuasai Indonesia, Papua Digoyang Isu Bom Fosfor

Ilustrasi

Oleh : Made Supriatma

Bom Fosfor di Papua? Pihak militer dan kepolisian Indonesia menghadapi tuduhan serius. Sebuah suratkabar yang terbit di Australia, The Saturday Paper, memuat laporan tentang penggunaan bom bakar dalam operasi militer sesudah pembunuhan terhadap pekerja PT Istika Karya.

Suratkabar ini menyiratkan bahwa mereka memiliki foto-foto korban pemboman tersebut.

Masalahnya adalah bom ini diduga adalah bom fosfor. Bom ini dikenal sebagai bom bakar dan termasuk dalam kategori bom kimia, yang dilarang oleh hukum internasional.

Bom ini sangat jahat. Ledakannya akan melemparkan bahan kimia, yaitu Fosfor. Bahan kimia ini akan membakar apa saja yang terkena.

Jika dia menyentuh manusia, dia akan membakar pakaian. Kemudian menyentuh kulit, membakarnya, menembus ke daging hingga ke tulang.

Satu-satunya yang bisa dilakukan jika terkena percikan Fosfor dari bom ini adalah dengan menenggelamkan diri ke dalam air.

Namun, itu pun tidak mengurangi efeknya. Jika masuk ke dalam tubuh, Fosfor akan menggangu kerja organ tubuh dan mengakibatkan kematian.

The Saturday Paper mengklaim sudah memperlihatkan foto-foto yang mereka miliki kepada sumber militer. Sumber ini mengenali bahwa luka bakar dari orang yang ada dalam foto itu bersumber dari bom Fosfor.

Koran ini juga mengklaim mendapat pengakuan dari seorang tentara Indonesia yang mengakui melakukan penembakan menggunakan gas ke desa di Nduga. "Itu adalah bahan peledak, tapi dari tipe gas."

Foto-foto yang diklaim didapat oleh koran ini katanya berasal dari kejadian antara tanggal 4 hingga 15 Desember. Tiga orang dikabarkan meninggal di Desa Mbua, di Nduga. Mereka adalah Mianut Lokbere, Nison Tabuni and Mendus Tabuni.

Empat lainnya terbunuh di Desa Yigili. Koran ini juga mengutip seorang yang berasal dari Mbua. "Kejadiannya pada tanggal 15 Desember, 2018," kata sumber koran ini. "Pada jam 11.25 waktu setempat. Mereka meninggal karena mereka di bom oleh tentara Indo dari helikopter. Ini adalah karena (pemboman) dari pesawat."

Militer Indonesia kabarnya telah menutup daerah pemboman tersebut. Tidak ada aparat pemerintah lainnya maupun pihak gereja yang hendak memberikan pertolongan bisa masuk ke dalamnya.

Berita pemboman dan penggunaan bahan kimia ini sudah beredar di kalangan jurnalis dan aktivis sejak beberapa saat lalu. Pada tanggal 18 Desember, 2018, BBC Indonesia membuat laporan tentang penembakan dan pemboman warga sipil di Papua.

BBC Indonesia juga memperlihatkan 'footage' konferensi pers dari Menko Polhukam, Jendral Pur. Wiranto, yang dengan tegas membantah adanya operasi militer di Papua. Wiranto menuduh bahwa berita itu adalah bagian dari propaganda OPM.

BBC Indonesia mewawancarai seorang perempuan, Raga Kogoya, yang dengan terus terang mengatakan adanya pemboman tersebut.

Setelah berita itu ditayangkan, saya mendengar Raga Kogoya ditahan oleh pihak keamanan Indonesia. Juga ikut ditahan beberapa orang pejabat lokal yang memberikan informasi kepada wartawan. Semua mereka yang ditahan saat ini sudah dibebaskan.

Sekalipun BBC Indonesia melakukan tugas jurnalistiknya dengan sangat baik namun kentara sekali bahwa mereka tidak bisa mengakses langsung ke lokasi. Mereka hanya mampu melakukan apa yang dalam dunia dunia jurnalistik dikenal sebagai 'embedded journalism" dimana seorang jurnalis meliput berita dengan 'menempel' bersama aparat yang melakukan tugas militer.

Sekalipun pemerintah Jokowi mengatakan bahwa wartawan boleh bebas meliput di Papua, namun persyaratan untuk meliput yang demikian ketat membuat hampir tidak mungkin untuk melakukan pemberitaan yang obyektif tentang Papua.

Apa yang dikemukakan oleh The Saturday Paper ini adalah sesuatu yang sangat serius. Pihak militer dan pemerintah Indonesia harus menjelaskan persoalan ini setransparan mungkin.

Di jaman teknologi informasi ini hampir tidak mungkin untuk menutup-nutupi persoalan seperti yang diberitakan The Saturday Paper ini.

Jika ini benar terjadi, ini akan menjadi pukulan yang sangat berat untuk rakyat Indonesia. Pemerintah Indonesia akan sejajar dengan Rezim Bashar al-Assad di Suriah yang membantai warga negaranya sendiri dengan senjata kimia.

Jika benar, peristiwa ini juga akan menjadi episode yang menyedihkan karena memperlihatkan perlakuan yang sangat brutal terhadap rakyat Papua. Ini akan membuat jarak antara Papua dan Indonesia semakin lebar.

Satu-satunya jalan untuk menjernihkan persoalan ini adalah dengan membuka penyelidikan seluas-luasnya oleh sebuah tim yang benar-benar independen. Penyelidikan ini harus diikuti dengan menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Foto diambil dari The Satuday Paper.

PS. Saya mohon maaf atas gambar yang sangat sadistik. Saya hanya ingin menampilkan kenyataan sebenarnya. Facebook mungkin akan menghukum saya karena gambar ini. Tapi, saya kira, gambar ini sangat jujur menggambarkan keadaan.

Berita dari The Saturday Paper bisa dibaca disini:

https://goo.gl/fXvaSp

Liputan dari BBC Indonesia ada disini (bersama videonya):

https://goo.gl/XBEyue

Sumber : Status Facebook Made Supriatma

Tuesday, December 25, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: