Paska Debat Kedua, Prabowo Habis

ilustrasi

Oleh : Jaka Al Puribayani

Debat putaran kedua calon presiden yang terselenggara Minggu 17 Februari 2019 kemarin seharusnya menjadi momentum rivalitas antar 2 Calon Presiden. Harusnya Prabowo memanfaatkan momentum itu untuk unggul tetapi pada pertemuan kemarin, Prabowo malah makin kelihatan kedodoran. Dia bukan malah menunjukkan kelemahan incumben, Faktanya debat kemarin kelihatan benar bahwa Prabowo habis.

Bagaimana tidak, tidak ada strategi apapun yang terlihat dijalankan. Jangankan bicara data, perbaikan tampilan diri, paparkan program yang jauh lebih rinci atau teknis. 

Kita bisa melihat sepanjang perjalanan entah 2014 atau 2019, pola kampanye bahkan debat mereka tetap sama. Tidak ada yang berubah. Mengandalkan story of i dan asumsi. Padahal masyarakat kita sudah makin pandai dan cerdas sehingga strategi story of i atau asumsi yang dikemukakan mudah dipatahkan. Sepanjang debat kemarin Prabowo hanya menyitir 1 sumber, laporan world bank. Hanya saja dia juga tidak menyebutkan kapan laporan itu disampaikan sehingga validasi akan sulit dilakukan kecuali bagi orang-orang yang kerja atau rutin berhubungan dengan world bank.

Sebetulnya kegagalan 2 penampilan Prabowo bukan dari tim konsultan tetapi faktual Prabowo sudah lewat masanya. Sudah tidak ada lagi yang bisa didorong atau dipoles untuk bisa menunjukkan bahwa dia layak sebagai calon presiden alternatif.

Kelucuan penampilan Prabowo kemaren menjadi bahasan oleh banyak pihak. Sebut saja soal tidak fahamnya istilah unicorn, pengakuan kepemilikan lahan hingga 430.000 ha di Kaltim dan Aceh, tidak faham status HGU ada batas waktu dan luasannya dan banyak lagi. Yang paling mencolok ya selama penampilan Prabowo tidak kemukakan data apapun. Ketika bertanya ke Jokowi, justru dibalas dengan jawaban yang berisi data sehingga Prabowo keteteran.

Bahkan sewaktu moderator mempersilahkan bertanya lagi, Prabowo nyletuk bahwa kalau berbeda ya tidak perlu diadu-adu. Pernyataan ini sungguh lucu, terlihat Prabowo memaknai debat sebagai perang atau konfrontasi fisik. Padahal pemirsa dan rakyat butuh tahu sejauh mana calon Presidennya benar-benar menguasai masalah. Tidak sekedar main asumsi.

Paska debat, tim Prabowo bukannya melakukan konsolodasi atau perbaikan penampilan debat selanjutnya malah meributkan hal-hal tidak penting. Kekonyolan dilakukan oleh 2 orang, yakni Ferdinan Hutahaen yang berniat melaporkan Jokowi karena menyerang pribadi dan kedua kelakuan songong Dahnil Anzar yang mempertanyakan paparan Jokowi mengenai panjang jalan desa hasil dana desa mencapai 191.000 km. Dalam cuitannya Dahnil mempertanyakan itu karena panjang dan dia meter bumi tidak mencapai itu. Kekonyolan luar biasa Dahnil dan akhirnya netizen menunjukkan bahkan ada yang menantang Dahnil datang ke wilayahnya.

Ya mau diapakan lagi, Prabowo memang sudah habis. Sisa 2 penampilan lagi akan berat membalikkan keadaan. Usia sudah menjelang 70 tahun mau dipoles apapun susah. Menghapal angka jelas tidak bisa, merubah gaya sulit, pola pikir didorong kekinian butuh waktu, Beberapa kali Prabowo malah melontarkan persetujuan dan pengakuan jika yang sudah dilakukan oleh Jokowi sudah baik.

Wednesday, February 20, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: