Pasar Tradisional Dan Halal Haram Barang

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Ada sebuah pasar tradisional dekat rumah masa kecil saya. Namanya pasar Sawah. Dari rumah kami, Bapak atau Mamak biasanya berjalan kaki saja. Sepuluh menit bolehlah. Nanti pulangnya kalau bawaannya banyak ya naik becak.

Pasar itu masih ada sampai sekarang. Masih sama ramainya, masih binneka tunggal ika. Saya kalau kebetulan lagi ngider pagi-pagi dan mainnya jauh, saya sempatkan ke sana. Lengkap, hampir semua ada. Ya daging, ikan, ayam, sayuran, buah-buahan, telur, sampai sembako dan macam-macam kue tradisional. Saya punya langganan penjual ayam kampung yang bisa saya pesan sebelumnya, sekalian minta tolong nitip dibelikan daging sapi. Daging sapi cepat habis soalnya.

Uniknya pasar ini bukan cuma macam jualannya yang beragam tapi juga karena pengunjungnya yang berbaur. Muslim dan bukan muslim, banyak orang Tionghoa malahan. Penjualnya pun berasal dari berbagai etnis. Bugis, Makassar, Toraja, Tionghoa, ramai benar.

Seingat saya, di tengah pasar ada dua penjual daging babi mentah. Satunya tepat di samping penjual ayam kampung langganan saya. Satunya berhadapan dengan penjual daging yang cepat habis dagangannya. Di belakang los penjual babi ada penjual telur ayam dan telur asin. Depannya lagi berderet penjual ikan. Penjual daging, penjual ayam, penjual telur, penjual ikan, kesemuanya muslim. Dari tahun ke tahun formasi mereka tetap. Baik-baik saja. Akur-akur saja.

Saya berharap pasar tersebut akan tetap seperti itu selamanya. Orang mencari nafkah saling berdampingan, tidak mencampuri tapi tak saling menyudutkan. Nggak usah ada laki berdaster masuk ngamukan dan bikin urusan belanja bahan makanan jadi ribet. Ke pasar tradisional itu semacam pengalaman syahdu, gak perlu dicarikan dalil-dalilnya.

Sesuatu yang haram bagimu tapi tidak haram bagi orang lain tidak serta-merta membuatmu berhak mengancam, mengintimidasi atau menutup mata pencaharian orang lain. Terkecuali si penjual babi datang dan dengan sengaja melempar daging jualannya supaya bercampur dengan barang yang kau jual.

Kita dianjurkan berhati-hati, ya benar. Tapi kita tidak diminta merusak hubungan baik apalagi mengacaukan rejeki orang lain.

Kalau tetap ingin memaksa menutup jualan yang dipikir haram semacam ada unsur babinya, tolong carikan mata pencaharian baru yang menurutmu halal, beri modalnya dan pastikan orang yang kau rusuhi itu tetap hidup cukup dan layak seperti sebelumnya.

Jangan cuma pinter merasa jijik dan bilang maaf. Berlaku semena-mena itu meski nggak makan babi sekalipun, jelas off side!

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Friday, August 2, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: