Pasar Tere Liye

Oleh:  Sahat Siagian

Saya membaca tulisan Birgaldo Sinaga tentang Tere Liye soal ratusan bus terhampar, karatan. Birgaldo memblejeti tulisan tersebut.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214436839383575&id=1496615567

Pertanyaan kita, adakah penulis setolol itu, tak bisa membedakan data dengan asumsi, lalu memotretnya dengan sudut tertentu sehingga seseorang terlihat ingin menggorok leher orang padahal dia sedang mengupas apel? 

 

Ada. Untuk apa? Bukankah Jokowi sudah menang dan Ahok sudah bebas dari penjara? 

Orang-orang seperti Tere tidak pernah berjuang bagi Anies atau Prabowo. Dia berjuang untuk periuk nasinya sendiri. 

Dia perlu menciptakan pasar bagi karyanya. Ceruk itu dia definisikan: orang-orang Islam, yang membenci Jokowi-Ahok, yang mendukung pelawan Jokowi-Ahok meski itu iblis sekali pun, hidup di ladang kebencian, berpenghasilan sekian, berpendidikan sekian, doyan baca cerita ringan, dan seterusnya. 

Keberadaan pasar harus dipelihara. Bagaimana caranya? Dengan menyajikan berita, gosip, gorengan, yang selaras dengan definisi di atas. 

Berapa jumlah mereka? Katakanlah 50 juta orang. Tere mempersempit lagi dengan nisbah baca dan nisbah beli. Akhirnya Tere tahu bahwa buku apa pun yang dia hasilkan pasti dibeli sekian ratusribu atau juta orang. 

Tere tidak perlu beriklan, tidak perlu sewa konsultan, cukup bersuara nyinyir-insinuatif-bombastik di berbagai kesempatan. Satu status atau tweet per minggu berdaya buat memelihara itu semua. 

Yang repot adalah kalau rekonsiliasi berlangsung total. Orang-orang berbondong-bondong ikut Prabowo. Dapur Tere terancam. 

Tere, 212, FPI, tak menginginkan itu. Mereka bisa ambruk. Saya cuma merasa kasihan pada sekelompok ibu-ibu kenes berjilbab, yang teriak-teriak menyuarakan mesin iklan Tere dan kawan-kawannya. 

Mereka menjerit dan menghidupi kebencian, membusuk di dalamnya, tanpa tahu bahwa tindakan mereka memperkaya segelintir orang.

Tuhan tidak jadi lebih kaya atau mulia oleh tindakan mereka. Sang Nabi pun tidak. Tere Liye, iya. 

Negeriku Indonesia.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Monday, July 29, 2019 - 20:30
Kategori Rubrik: