Pasar Seni, Ideologi dan Literasi Kebudayaan?

Oleh: Amanatia Junda
 

Saya ikut menggantungkan secarik kertas bertali pada salah satu ranting pohon harapan Yoko Ono. Bukan mantra-mantra cepat lulus, cepat nikah, cepat kaya atau melupakan mantan. Saya hanya menulis: tolong tahun depan masuk ArtJog gratis.
Dua tahun yang lalu, mata saya pedih saat mengunjungi sebuah pasar seni rupa dan mendapati tiket masuk serta lusinan tongsis di dalam ruang TBY. Sejak kapan kita harus bayar saat masuk ke pasar dan mall? Tentu saja kecuali untuk membayar retribusi parkir. Sejak kapan euforia pengunjung tidak lagi terpusat pada objek material seni dan relasinya atas penghayatan pada sebuah karya?
Oh, mungkin sebuah pasar seni tentu sistemnya agak berbeda dengan pasar dan swalayan umum. Mungkin tiket adalah sebuah konsekuensi dari adanya fasilitas dan biaya operasional yang jelas hanya panitia yang tahu bebannya. Mungkin zeitgeist sudah bergeser ke era narsistik yang mampu memendekkan jarak antara pencipta dan penikmat, produsen dan konsumen. Dua kemungkinan ini saya munculkan sebagai upaya adaptasi dalam mengunjungi galeri yang memerangkap seni dalam sebuah kotak eksklusif.
Lalu, apakah saya jadi anti ke pasar seni? Tentu tidak, namun bukan prioritas. Selain faktor itung-itungan uang, ini tentang kenyamanan dalam menikmati karya seni. Tidak enak sekali datang berdesak-desakan dengan para pengunjung yang sibuk berpose, berisik dan jepret-jepret tiada habis.
Tahun lalu, saya ke ArtJog 8 bersama adik saya yang hendak menjadi mahasiswa. Selama lima tahun belakangan, hidupnya lebih banyak berkutat di lereng gunung, nyantri. Saya pikir mengenalkan Jogja melalui pasar seni akan menarik. Ia menjadi tahu bagaimana sebuah kota hidup dengan ruh kesenian dan antusiasme masyarakat terhadap kesenian. Selama ini yang ia tahu, kota tersusun dari pusat-pusat perbelanjaan yang dilengkapi resto cepat saji dan bioskop. Saya mengajaknya berkeliling sembari sesekali mengambil foto diri, menyerupai tingkah para pengunjung yang lain. Saya sedang membawa remaja 18 tahun yang butuh rileks setelah ujian PTN. Tentu saya tidak akan menunjukkan tabiat saya biasanya di galeri: berkeliling seorang diri, tercenung, mengambil satu dua buah foto untuk karya yang mengesankan.
ArtJog betapa pun eksklusif dan mutakhir produk seninya, event ini telah menjadi ikon. Menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu turis dan masyarakat, hingga berbondong-bondong datang dari luar negeri dan kota. Mungkin seperti Frankfurt Bookfair. Mungkin seperti Ngayogjazz. Jika sudah menjadi ikon dan mendongkrak perekonomian daerah dan pariwisata, bukankah pemerintah dalam departemen-departemen yang mengandung anggaran seni budaya mendukung secara nyata? Gelontoran dana segar yang besar adalah kunci sebuah maskot mampu bertahan.
Lalu tahun ini ArtJog berbeda. Sangat berbeda. Menjadi semakin mahal dan semakin tenar. Branding sudah bergeser dengan citarasa sponsor utama Bank Mandiri. Memaksa pengunjung untuk kenal dengan uang gaya baru, e-money. Dan sempilan logo Freeport serta jajak pendapat dalam laman registrasi wifi adalah sebuah noda hitam untuk dunia kesenian Jogja. Sebuah kekerasan budaya.
Setelah logo Freeport viral, pertanyaan besarnya: Bagaimana sikap seniman yang ikut pameran di ArtJog? Bagaimana sikap seniman Jogja secara luas? Bagaimana sikap masyarakat yang sudah dan belum dan akan mengunjungi ArtJog?
Katakanlah, kita benar-benar sadar kepentingan, relasi pertemanan, dan prinsip-prinsip yang dipegang kuat saat menjadi pelaku sekaligus penikmat seni. Bervariasi. Lantas, apa yang Anda lakukan setelah kehebohan ini? Apa yang Anda harapkan dari pasar seni yang dibekingi sebuah korporasi penghisap darah rakyat Papua? Apa ideologi berkesenian masih berlaku dalam perangkap pemodal yang diam-diam mempunyai strategi kehumasan yang lebih canggih dalam bermain pecah-belah gerakan? Apa akan ada sebuah gerakan masif yang benar-benar berasal dari para seniman Jogja untuk bersatu melawan kebusukan sistem yang menghancurkan marwah seni?
Saya pesimis.
Saya mengikuti dinamika keriuhan Artjog-Freeport yang telah melebar ke Semen-Mojok-Rembang di media sosial. Dua malam ini saya berusaha menetralkan emosi dan perasaan melankolis setelah mengetahui bahwa konstelasi konfliknya menyebar dari para seniman, aktivis, intelektual, pekerja media, hingga ke jaringan pertemanan yan terjahit di kota yang sempit ini. Pagi ini penyintas konflik agraria masuk atas nama ibu-ibu Rembang, membuat udara semakin pengap.
Ini perkara yang serius. Bukan untuk seru-seruan di kala bakar-bakar buku, larang diskusi sana-sini tengah cuti Ramadan. Tapi saya tidak mendapati esensi dari polemik. Memang benar ada balas-membalas kritik dan respon kerumunan orang di banyak status orang nge-hits dalam pertemanan pihak-pihak yang saya sebutkan di atas. Polemik menurut seorang teman tersusun dari perdebatan panjang yang berlandaskan suatu ideologi tertentu. Mungkin Lekra vs Manikebu contohnya. Sosialisme vs Liberalisme. Sedangkan yang saya temui adalah ceceran makian dan sindiran dan tertawaan yang bisa jadi sevisi dalam ideologi.
Siapa yang tidak sumpek berada di tengah-tengah suasana sengit dari lingkaran pertemanan gerakan? Saya meneliti kaitan antara gerakan sosial, media dan seni dua tahun belakangan. Saya tahu posisi teman-teman saya yang mengkritik keras dengan kata boikot dan bakar. Mereka mungkin akan dengan sangat percaya diri menjelaskan ideologi berkesenian mereka yang condong menganut asas kerja Lekra. Saya sendiri punya kecenderungan yang sama. Seni untuk rakyat.
Saya pernah berkesenian dengan mereka di Urutsewu. Kami pernah membuktikkan apakah benar seni mampu menggerakkan massa? Seni untuk mengadvokasi penyintas yang berada dalam wilayah konflik agraria. Saya paham semurni-murninya gerakan yang lahir dari para seniman tanpa banyak uang, tanpa ingin mengais dukungan donatur besar, tanpa membikin proposal dan mencari sponsor, tanpa berpikir mendesain sebuah event seni yang mutakhir dan adiluhung.
Mereka menyusun rumusan Sikap Seniman Merdeka, mencatat setiap proses kreatifnya, dan merasa puas dengan estetika rasa lelah bersama akar rumput di tengah lapangan siang bolong depan markas TNI AD yang menjadi objek kritikan.
Saat itu momen yang luar biasa. Namun jika kita ingin membuat suatu efek jangka panjang, maka ada kebutuhan untuk menguatkan identitas kolektif sebagai seniman-aktivis melalui kerja-kerja konkret di lapangan, terus-menerus membuat sanggar atau pun menggelar event dan meluaskan produk media yang sifatnya mempertemukan banyak orang dalam dunia nyata. Identitas kolektif dalam media baru akan mengalir dengan sendirinya mengikuti arus kerja di lapangan.
Seni dan media massa akhirnya bermuara pada fungsi paling strategis sekaligus krusial dalam peta konflik, yakni sebagai alat. Yang di dalamnya otomatis terkandung praktik kebebasan berekspresi dan peneguhan eksistensi. Literasi seni dan media sebagai alat untuk melawan penindasan adalah sebuah kunci untuk menumbuhkan identitas kolektif massa dan bergerak bersama. Literasi--membuat melek orang yang mengantuk dan tertidur menurut saya bukan tugas agitator. Anda pasti emosi jika dibangunkan untuk sahur dengan disiram air, digedor-gedor atau dilempar piring.
Literasi seni dan media banyak sekali caranya, tapi belakangan sekumpulan teman saya yang dulunya terhimpun di Gerakan Literasi Indonesia memutuskan mengunggulkan corak garang, gercep, reaksioner untuk menjadi seorang seniman-aktivis secara kaffah. Itu bagus. Tapi belakangan, siapa yang tidak sentimen dengan tingkah laku temperamen ormas-ormas yang mengaku dirinya beragama secara kaffah? Kaffah dan marah-marah.
Tentu saja marah-marah dan nyinyir juga bagian dari solidaritas tulus pada penyintas konflik. Dan berharap pada hati netizen yang terketuk, mata netizen yang melek, dan kaki netizen yang bergerak untuk memboikot pasar seni adalah keseloan yang luar biasa sementara eksperimen media kooperasi bahkan belum mampu menarik anggota kooperasinya sebagai loyalis seperti loyalis pembaca Mojok, media yang tengah dihujat. Saya tidak sedang membela Mojok. Mojok adalah perkara etika pebisnis media yang memang mengecewakan. Dan saya sedang malas mengkritik pebisnis.
Jadi, apakah seantero jagat tengah menertawakan parodi tangan tak terlihat yang tengah menggunting-gunting gerakan? Sedangkan kemarin dalam beberapa momen, aktivis, seniman, pelaku media, intelektual, budayawan menjahit dirinya sendiri dalam sebuah wadah yang dirasa mampu menjadi gerakan alternatif di ranah ekonomi dan budaya.
Pernyataan sikap, surat terbuka, status dan tagar boikot hanya akan mendapat like dan emoticon dan komentar. Selebihnya peta seniman-aktivis-pelaku media semakin mawut dalam ideologi yang rentan bias kepentingan. Huru-hara di media sosial tidak akan mampu membuat dedek-dedek gemez, mbak-mbak gaul hijabers, mahasiswa tongkrongan elite, mamah muda yang bergincu pastel terang, pemuja AADC2, turis-turis yang ingin mendapat pengalaman wisata artsy—paham bahwa ada yang busuk dalam sistem manajemen ArtJog. Mereka tidak akan menyimpan tongsisnya kecuali di masjid untuk tarawih. Mata mereka tidak akan mencicil mengidentifikasi logo-logo sponsor yang mengancam bagi kelestarian alam dan umat manusia.
Ya, saya pesimis. Teman-teman menggunting apa yang sudah terjahit. Teman-teman mungkin tidak sedang menemukan cara literasi dan melempar kritik yang canggih tanpa mengabaikan apresiasi terhadap apa saja yang selama ini sudah dikritik oleh para seniman di ArtJog dan kontributor Mojok melalui keterbatasannya. Saat gagal menemukan, dan itu-itu saja cara membuang-buang energi gerakan, saya pesimis ideologi kesenian untuk rakyat memang untuk rakyat, atau jangan-jangan ini hanyalah kamuflase untuk peneguhan eksistensi di tengah kegamangan lingkaran besar pertemanan?
Sebuah riset pada karya sastra dekade era reformasi sementara ini mengatakan masyarakat tanpa sadar menggeser minat seni budayanya dari semangat kebangsaan menuju semangat komunitas. Mungkin kita sedang mengarah ke sana saat menyikapi fenomena kisruh ini. Dan mungkin sebaiknya media sosial tidak hanya dimaknai sebagai linimasa dan dinding laman, tapi kembali ke konsep media sosial zaman lawas, yakni ruang-ruang publik, lingkaran pertemuan, dan forum tatap muka. Ini akan mampu merangkul akar rumput tanpa kelewat dramatis berkoar-koar merasakan penderitaan mereka dan jadi tampak heroik nan epik.
Demikian, ini sebuah otokritik untuk saya sendiri sebenarnya sebagai seseorang di irisan pelaku seni dan media. Tapi karena saya juga menghargai keistiqomahan teman-teman dalam bergerak dan membacot sana-sini dengan ragam tautan yang dibubuhi komentar reaksioner, maka ini juga bisa dianggap otokritik bagi Anda yang merasa keserempet. Saran: tulislah jati diri dan posisi Anda sehormat-hormatnya dalam berkesenian, bergerak dan sekaligus mungkin mencari nafkah. Atau sebaiknya kita joget poco-poco bersama di depan JNM. Setelah berkeringat, kita jadi lebih sehat. Saya pastikan saya turut serta.
(Sumber: Catatan Facebook Amanatia Junda)
Tuesday, June 14, 2016 - 18:15
Kategori Rubrik: