Pasar Bebas Youtube

ilustrasi

Oleh : Kalis Mardiasih

Beberapa hari lalu, saya mengetengahkan isu ini via post di Instagram. Mohon jangan fokus di pakaian yang dikenakan. Fokus saya adalah pasangan ini sebagai suami-istri yang mempromosikan nikah usia anak dan kehamilan usia anak di platform mereka. Indonesia masih berjuang untuk menekan angka kematian ibu (305 dari 100.000 kelahiran) dan angka perceraian yang tinggi akibat pernikahan usia anak.

Pernikahan pasangan ini sudah berlangsung 4 tahun lalu, saat belum ada revisi UU Perkawinan tahun 1974 perihal batas usia pernikahan perempuan.

Pernikahan mereka juga hak mereka. Akan tetapi, bahwa baru sekarang-sekarang ini mereka membuat konten dengan judul cringe: "ukhti siap nikah muda??" (BEDAKAN NIKAH MUDA DENGAN NIKAH USIA ANAK!!) juga thumbnail yang provokatif "hamil 17 tahun" (hamil kok lama banget, ukhti) dan juga thumbnail berbau hasrat semata: "gimana rasanya pertama kali tidur sama suami?", itu jelas jadi urusan publik. Mereka memanfaatkan platform publik, artinya harus siap pula dikritik oleh publik.

Dalam video itu, si ukhti bilang dengan sadar bahwa kehamilan usia dini itu beresiko dan dia merasa beruntung karena imunnya kuat. Padahal isu kehamilan usia anak bukan soal imunitas, tapi soal fisiologis dan psikologis. Kalau saja kamu berhasil mbrojol hari itu ya alhamdulillah, tapi setelah hari itu si bayi manusia itu harus sehat dan kamu rawat besarkan sampai gede. Gitu lho isu keseluruhannya, Mbak Yu.

Dalam konten mereka yang lain, ada konten berjudul, "Usia 26 tahun sudah poligami, jawaban suami bikin baper." Setelah ditonton, konten itu menampilkan si ukhti yang berkali-kali bertanya apakah suaminya nggak kepengen poligami. Meskipun di akhir suaminya menjawab tidak. Saya nggak paham juga sama si istri yang terobsesi dengan tema poligami.

Menurut mereka, konten mereka tujuannya bikin baper anak muda. Padahal anak muda jaman sekarang pinter-pinter, nggak ada yang baper dan sangat sadar konten itu berbahaya untuk perempuan usia anak.

Saya menulis langsung kepada mereka, "pernikahanmu itu hakmu. Tapi mohon mindful dengan konten yang mempromosikan pernikahan usia anak dan kehaman usia anak. Pasti ada hal lain yang bisa diceritakan dari rumah tanggamu selain urusan ranjang. Bikin konten bikin donat atau konten hidroponik, pasti lebih barokah."

Setelah kritik yang saya tulis itu, pada hari itu juga saya dapat kabar dari teman-teman kalau konten pernikahan usia anak itu tidak bisa diakses lagi. Ada juga yang bilang, masih bisa diakses, tapi komentar telah dinonaktifkan.

Saya nggak yakin apakah kritik itu ada gunanya. Tapi saya tetap berharap bahwa besok-besok, kalau mereka bikin konten, lebih baik bikin yang lebih bermanfaat.

YOUTUBE DAN PASAR BEBAS

Seharian itu, sepertinya si pemilik konten memanggil teman-temannya untuk ikut berkomentar membela mereka di akun saya. Tapi, saya justru kecewa karena tipe komentarnya seragam seperti ini: "Kalau niat kritik, kritik akun lain yang lebih besar dong, Mbak. Jangan beraninya kritik Youtuber kecil seperti mereka. Jualan buku anda sepi ya?"

Pengen saya jawab, nggak sepi-sepi amat tapi kok kurang kerjaan.

Artinya, akhirnya saya tahu bahwa si pembuat konten dan teman-temannya ini tidak benar-benar bertujuan untuk "berdakwah" seperti yang ia bilang. Istilah "Youtuber kecil" yang minta dikasihani itu cukup menjelaskan bahwa tujuan mereka ya murni cari duit dan mereka takut kehilangan platform andai saja semua pihak serius untuk mereport akun mereka. (Jangan tonton, Tolong langsung ikut report saja ya).

======

Saya belum menemukan jawaban yang pasti untuk kasus-kasus lain, misalnya soal Indira Kalista yang meracau ngawur soal masker lalu nangis-nangis di channel Dedi Corbuzier.

Nangis-nangis yang mengundang klik itu lagi-lagi justru menambah engagementnya keduanya.

Sumber : Status Facebook Kalis Mardiasih

Sunday, May 17, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: