Partai Golkar Butuh IBU?

Oleh: Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan
(Pengamat Intelijen)

Partai Golkar ini dlm bisnis diibaratkan anker sebuah mall, yaitu jangkar seperti Sogo, Metro, Hero, Lotte Mart. Toko2 lainnya melengkapi mall tsb. Golkar bersama PDIP telah lama menjadi jangkar NKRI dan dlm bbrp tahun terakhir walau perlahan tetapi berpeluang akan menjadi jangkar adalah Partai Gerindra dan mungkin juga Nasdem.

PDIP dan Gerindra lebih solid karena masih berlakunya budaya paternalistik. Keduanya punya patron, yaitu Megawati dan Prabowo. Demikian juga Nasdem dimana Surya Paloh sbg patron. Partai Golkar ini pada awalnya bernama Sekber Golkar, didirikan oleh TNI AD, berubah nama menjadi Golkar dan menjadi besar karena didukung Presiden Soeharto. 

 

Setelah Pak Harto jatuh, thn 1998 Golkar ganti nama menjadi Partai Golkar. Setelah pak Harto jatuh, Golkar tidak punya patron, menjadi partai publik. Resikonya, konflik mudah terjadi, bbrp kali ada dua Munas. Begitulah partai politik yg tdk mempunyai patron, tdk ada yg disegani.

Tgl 3-5 Desember 2019 Partai Golkar akan melangsungkan Munas di Hotel Ritz-Carlton Jakarta, akan dibuka oleh Presiden Jokowi dan di tutup Wapres Ma'ruf Amin. Pada Munas ini kegiatan yg penting adalah pemilihan ketua umum periode 2019-2024. Sementara ini ada dua tokoh kuat yaitu Airlangga dan Bamsoet selain ada bbrp calon lain.

Nah, salah satu calon yg sdh mendaftar sbg calon Ketum adalah Indra Bambang Utoyo
tokoh senior Golkar, Ketua DPP, namanya disingkat IBU. Mas Indra ini pernah dua periode menjadi anggota DPR RI Fraksi Golkar, pernah menjadi Ketua Umum Ampi, Waketum FKPPI. IBU ini anak kolong, ayahnya mantan Kasad Jenderal Purn Bambang Utoyo (Alm).

Pray beberapa tahun terakhir mengenal dgn baik dlm kegiatan bersama team analis strategis yg mendukung Pak Jokowi saat pilpres. Team bersama Menhan Ryamizard, mantan Kabais Ian Santoso dan Laksda pur Bob Mangindaan (Pray manggil Profesor krn ilmunya tinggi). IBU ini pengetahuan politiknya tinggi, jaringannya luas dan stlh 4 tahun kita kumpul2, pemahaman Geopolitik, Geostrategi dan Geoekonomi sdh khatam. Point pentingnya, IBU pernah diberangkatkan bersama Mengan ke Amerika, bertemu dgn penguasa dibalik layar Presiden Trump. Mereka menyebut IBU sebagai white Golkar.

Kini, menurut Pray, IBU semakin mampu membaca perkembangan Ipoleksosbudmilhan dari persepsi intelijen. Nah, ini yg tidak dimiliki politisi lain, menggunakan pisau intelstrat dalam membedah masalah. IBU menurut penilaian Pray sdh sekelas analis intelijen diatas handler. Anak Betawi nyebutnya, "Canggih dah loe Tong!". Dia berani, mampu memimpin dan sudah membuktikan diorganisasi lain.

Dari persepsi intelijen, bukan hanya karena teman baik, saean pendapat, Partai Golkar kalau ingin maju dan mampu bertahan di masa depan, kiatnya sederhana, "Jadikan Indra Bambang Utoyo sebagai Ketum". Golkar butuh patron, sbg contoh Partai Nasdem sebagai parpol baru kini menjadi partai empat terbesar di Indonesia menyusul Gerindra 

Sekber Golkar dahulu didirikan oleh TNI AD, kini beri kesempatan anak tentara ini memimpin. Kalau tetap ada ambisi2 negatif yg berkembang, Golkar bisa pecah antara kubu Airlangga dan Bamsoet. Kalau sikon Golkar terus berkonflik pasang surut, jangan terkejut kalau pileg 2024 Posisi Golkar di posisi empat besar.

Alternatif terbaik bagi Golkar
dan kepentingan dukungam politik hagi Presiden Jokowi hingga 2024 menurut Pray, IBU yang paling tepat.. Smg Allah memberikan ridho dan barokahNya bagi bangsa, negara dan rakyat Indonesia, Aamiin. Salam 

 

(Sumber: Facebook Prayitno Ramelan)

Monday, December 2, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: