Partai Gerindra dan Plonga-Plongo ala Fadli Zon

Oleh : Maman Suratman

Keributan di media sosial karena twit Fadli Zon selalu bikin saya tertarik. Bisa dibilang, twit Fadli, meski sering agak ngawur dan serampangan, juga jadi inspirasi tersendiri buat saya untuk menulis.

Jika sebelumnya mengambil inspirasi dari twit Fadli tentang hoax, maka kali ini adalah tentang plonga-plongo-nya yang menarik perhatian saya. Akan saya ulas, mempertanyakan maksud dari kata “asing” itu, sembari menunjukkan di akhir bagaimana rapuhnya Partai Gerindra di tangan para pegiatnya yang ngehek-nya bukan kepalang.

Twit yang Membingungkan

Awalnya saya sempat bingung sendiri mengartikan maksud plonga-plongo ala Fadli Zon itu. Sebab yang dituliskan di sana adalah planga plongo, yang ketika ditelusuri di mesin pencari, penulisan yang benar, ternyata, adalah plonga-plongo, bukan planga plongo.

Tetapi kemudian saya memaklumi. Mungkin Fadli kurang ngopi saja, seperti yang juga sering saya alami, sehingga keliru dalam menuliskan.

Hanya saja, jika benar yang dia maksud planga plongo itu adalah plonga-plongo, maka hal yang bikin saya bingung selanjutnya lagi adalah makna apa yang ingin Fadli tampilkan ke hadapan publik melalui penggunaan kata itu. Ya, ini penting, sebelum akhirnya Fadli dan Tsamara Amany benar-benar merealisasikan debat yang sudah mereka rencanakan.

Coba cek di KBBI. Di sana hanya ada dua makna dari kata berbahasa Jawa itu, yakni (1) mulut ternganga dan (2) tercengang. Berjenis “kata sifat”, kedua-duanya bermakna sebagai ekspresi ketakjuban atau kekaguman belaka pada sesuatu.

Jika kata itu kita tarik ke konteks twit Fadli, maka maknanya jadi tidak jelas sama sekali. Padahal (mungkin) yang dia maksudkan adalah “Indonesia tidak butuh pemimpin culun, tidak tegas”, dan lain sejenisnya. Tetapi, karena tidak jelas, maka maknanya menjadi “Indonesia tidak butuh pemimpin yang mulutnya ternganga atau tercengang” (karena kagum) melihat sesuatu yang menakjubkan.

Untuk hal-hal lain di luar plonga-plongo, saya sepakat-sepakat saja jika Fadli menyebut sifat berani, visioner, cerdas, dan berwibawa adalah sekian prasyarat yang harus melekat di diri seorang pemimpin. Sebab, bagaimanapun, sifat-sifat itu memang berpotensi membawa republik ini bangkit dan berjaya, bukan bubar seperti prediksi Prabowo Subianto.

Adapun soal tindakan ngutang, pinjam uang ke luar negeri, yang ini saya kurang sepakat. Karena satu dan lain hal, ngutang tidak bisa lepas begitu saja jika kaitannya dengan upaya pembangunan.

Apabila ditanya kenapa harus ngutang, saya kira Fadli perlu merenungi bahwa meminjam untuk membangun hal-hal produktif nan bermanfaat itu adalah tergolong tindakan yang patut. Pembangunan infrastruktur, misalnya, tentu program ini jauh lebih baik ketimbang kebijakan pemimpin Indonesia di masa sebelum Jokowi.

Dulu, terutama di masa Susilo Bambang Yudhoyono, pemimpin kita hanya tahu meminjam uang ke luar negeri. Apa ujungnya? Sekadar untuk dibakar jadi subsidi yang konsumtif belaka.

Sekarang, di tangan Jokowi, mulai diupayakan bagaimana agar bukan orang-orang Jawa saja yang menikmati akses mudah, melainkan pula orang-orang di luar Jawa. Itu tampak dari pembangunan sejumlah infrastruktur besar-besaran, seperti tercantum dalam RPJMN 2015-2019, yakni pembangunan 2.650 km jalan, 3.258 km jalur kereta api, 15 bandara baru, pengembangan 24 pelabuhan, serta ketahanan energi melalui penyediaan 35.000 MW listrik, kilang minyak, dan layanan broadband di seluruh pelosok negeri.

Lagi pula, utang negara kita yang terkesan melonjak hari ini toh bukan semuanya bersumber dari masa Jokowi saja. Itu warisan menahun, turun-temurun, yang pelunasannya tidak bisa secepat kedipan mata.

Dan, utang luar negeri pun adalah satu dari sekian banyak bentuk investasi. Tak bisa kita melihatnya sebelah mata, melulu menilainya sebagai sesuatu yang buruk saja.

Benar bahwa jumlah utang kita bertambah banyak. Hanya ingat, itu semua karena investasi di era Jokowi memang sangat besar. Maka menjadi tidak adil jika efek positif ke depannya tidak kita tampilkan-serta, apalagi sampai membebankan seluruh nilai utang tersebut sebagai tanggung jawab Jokowi semata.

 

Eksistensi Partai Gerindra

Tak berselang lama setelah sang ketua Prabowo Subianto meledakkan emosi publik lantaran pidato politiknya yang berdasar novel fiktif, muncul kembali laku dari seorang kadernya, yakni Rachel Maryam, yang kurang lebih sama dalam hal berkreasi. Prabowo sebut Indonesia akan bubar di tahun 2030 berdasar novel fiktif, sementara Rachel kritik kebijakan impor barang lewat video parodi, lucu-lucuan, yang juga fiktif.

Ditambah dengan twit Fadli Zon, lengkaplah sudah bagaimana rapuhnya partai berlambang kepala Burung Garuda ini mengeksiskan diri. Bukan tidak mungkin, sebelum Indonesia bubar, jika prediksi itu memang mau benar, maka yang akan bubar terlebih dahulu adalah Partai Gerindra sendiri.

Sebenarnya saya tidak mau ambil pusing soal bagaimana eksistensi Partai Gerindra berjalan. Mau ia rusak kek, hancur kek, terserah. Hanya saja, partai pendukung pemerintah hari ini, bagaimanapun bagusnya mereka eksis, tetap butuh yang namanya oposisi. Yang belakangan ini setidaknya bisa mengontrol kalau-kalau roda kepengurusan negara cenderung mengarah ke “jalan sesat”.

Sebab itulah mengapa perlu perhatian serius juga kepada Partai Gerindra. Jika tak ada oposisi yang senantiasa siap-sedia melancarkan kritik, bukan hoax yang membangun melainkan saran yang konstruktif, maka bisa jadi pemerintah kita hari ini menjalankan kekuasaannya seenak dengkul. Tak ada oposisi, tak ada kekhawatiran, meski masih ada oposisi lainnya dan ada rakyat (yang independen) yang juga siap-sedia bertukar posisi dengan Gerindra.

Hemat kata, jika benar kita mengharapkan Indonesia bangkit dan jaya, sebagaimana harapan Fadli Zon dalam twitnya, maka bukan pemimpin seperti Vladimir Putin saja yang bangsa ini butuhkan. Bahwa Indonesia pun sangat butuh oposisi yang kredibel lagi konsisten.

Dua hal tersebut, saya rasa, mesti berjalan beriringan tanpa putus. Dengan kata lain, sembari memperbaiki diri orang lain, jangan lupa bahwa memperbaiki diri sendiri pun patut jadi perhatian, bahkan itu jauh lebih penting dari sekadar menyoal pihak-pihak di luar diri sendiri.

Jika ini mampu diindahkan Partai Gerindra, oleh pegiat-pegiatnya yang ngehek-nya bukan main itu, maka eksistensi partai ini ke depan sudah bisa kita tebak: bangkit dan berjaya, tak melulu jadi “oposisi abadi” di mana sang ketua pun, Prabowo Subianto, tidak akan terus-terusan jadi “capres gagal” lagi.

Sumber : qureta

Monday, April 2, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: