Parpol Kalap, Pemilih Muda Diilegalkan Memilih Ahok

Oleh:  Hanny Setiawan

Bukan hanya verifikasi faktual yang dipersulit, UU Pilkada yang baru juga berisi pasal yang berpotensi menjegal para pemilih muda untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi Pilkada Daerah 2017. Teman Ahok dalam status di Facebook menyatakan secara lengkap sebagai berikut:

UU Pilkada yang Baru bisa Membegal Hak Politik Pemilih Pemula Tak hanya waktu dan mekanisme verifikasi, salah satu aturan baru di UU Pilkada ternyata berpotensi Membegal Hak Mengusung Calon independen bagi Pemilih Pemula.Pemilih Umur 17-19 tidak bisa mengusung Ahok.

Dalam Pasal 48 ayat 1a(b) di verifikasi Administrasi dinyatakan bahwa yang bisa diverifikasi adalah yang tedaftar di DPT sebelumnya (Pilpres 2014) "dan" DP4 Kemendagri.

 Ini mengakibatkan pemilih pemula dan penduduk yang baru pindah domisili yang sebelumnya terdaftar di DPT, KTP nya dinyatakan tidak sah. Ini tentu pukulan bagi Teman Ahok, yang isinya kebanyakan anak muda. Pemilih pemula yang mulai ada harapan dengan demokrasi setelah melihat perubahan di Jakarta, tiba-tiba haknya di cabut. Sebuah pukulan telak dari Bapak-bapak politisi dari Senayan. Tapi kita tidak akan menyerah Entah apa yang dipikirkan "orang-orang senayan" yang jelas terlihat adalah orang-orang parpol sudah kalap.

Titik! Keberadaan Ahok sudah tidak bisa ditolerir lagi, Ahok sudah menjadi musuh bersama. Apabila awal pemerintahan Jokowi diwarnai dengan "politik culas" dari KMP dan Demokrat atau tepatnya SBY melalui UU MD3 Pilkada, yang berakibat PDI-P dan KIH tidak dapat menguasai DPR walaupun mereka pemenang pemilu, maka sekarang KMP, KIH, Demokrat semua mencoba bermain licik dan culas untuk menghancurkan Ahok. Luar biasa bukan?

KMP dan Demokrat tidak belajar bahwa keculasan hanya akan membawa kehancuran. PDI-P dan KIH juga tidak belajar bahkan secara terang-terangan menjadi sama dengan KMP. Apakah parpol-parpol ini benar-benar tidak bisa belajar dari sejarah? HISTORY adalah HIS STORY, atau cerita Tuhan. Jangan pernah mengakali Tuhan dengan kelicikan dan keculasan, dikemudian hari tidak akan berefek baik.

Meskipun diawal kelihatan "sukses", hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun, KMP hancur, Setyo Novanto, Fahri Hamzah yang menikmati "keculasan UU MD3" akhirnya rontok juga bukan? Yang lempeng-lempeng saja seharusnya, kalahkan Ahok dengan kader yang terbaik yang dimiliki, dan program yang terbaik. Tapi apa daya, kelihatannya Ahok sudah jadi phobia parpol. Ketakutan yang diluar nalar. ***

Melihat perkembangan sikap para parpol, menurut saya Ahok harus tetap teguh dengan jalur independen biarpun nanti ditikungan akan ada tawaran dari Parpol-Parpol bermuka dua. Menjegal Ahok di senayan, tapi mendukung diluar. Jalur keras ini nampaknya harus terjadi karena Indonesia harus bertobat. Bangsa ini harus memilih mau diberkati atau tetap menjadi bangsa yang terpuruk.

Kemenangan lewat jalur independen bukan hanya menjadi kemenangan Ahok tapi juga kemenangan bangsa Indonesia dari jajahan parpol. Meskipun kita harus menyadari bahwa tidak semua orang parpol itu bodoh dan jahat, tapi kita harus mengakui bahwa parpol secara sistemik sudah koruptif.

Seorang ketua partai sekuat Megawati pun harus memperhitungkan faksi-faksi didalam PDI-P. Artinya dalam partai-partai besar ini pun terjadi pertarungan-pertarungan kepentingan yang luar biasa. Dan kadang mencuat kepermukaan sehingga membingungkan rakyat. Kemenangan lewat partai di saat ini lebih merugikan daripada menguntungkan. Merugikan karena rakyat tidak lagi memiliki benchmark (bandingan) bagaimana seharusnya menjadi birokrat yang benar.

 Ahok saat ini SUDAH MENANG, dengan dikeluarkannya UU Pilkada yang tidak jelas dan disetujui “semua partai”, justru sekarang jelas sudah peta politik Indonesia. Indonesia butuh parpol atau orang-orang parpol baru yang berani merevolusi partainya. ***

 Semangat Teman Ahok untuk terus berjuang sangat menginspirasi. Rakyat Indonesia bisa membantu perjuangan mereka dengan terus menyuarakan kebenaran, dan terus melakukan apa yang benar tanpa kompromi.

Lawan-lawan politik Ahok lupa, bahwa pada akhirnya semua yang ditabur akan dituai. Seorang Ahok justru berpotensi menjadi “martir politik” dan melahirkan sebuah gelombang anti parpol yang luar biasa. Ketakutan deparpolisasi sedang terjadi, dan itu justru dilakukan oleh parpol sendiri, bukan Ahok.

Ahok tidak sekuat sekarang ini kalau parpol-parpol tidak menyerang secara kalap dan membabi buta. Tapi sekali lagi, sebuah keharusan sejarah sedang terjadi, Ahok mendapat previlige (hak istimewa) untuk menjadi kunci revolusi birokrasi Indonesia. Selamat untuk Ahok! You have won, brother.** (ak)

Sumber : kompasiana.com

 

 

Friday, June 10, 2016 - 05:30
Kategori Rubrik: