Parlemen Virtual

ilustrasi
Oleh : Mirmantyo Luckyto
"Parlemen virtual tidak mungkin menggantikan parlemen formal yang ada..., namun dibutuhkan sebagai bentuk 'public virtue democracy' yang amat mempengaruhi kebijakan2 strategis negara..."
Munculnya diskursus Buzzer-buzzer NKRI yang militan sebagai representasi gerakan civil society di jagad media2 sosial kita patut kita cermati secara cerdas dan bijak.
"Media sosial adalah ruang public untuk melakukan clearing house"
Gerakan masyarakat madani di dunia virtual kita tersebut berdampak besar terhadap tatanan sosial politik kita dewasa ini. Mereka bergerak secara serentak tidak ada yang memerintah, mereka bersuara dengan bebas menyuarakan kritik2 sosial politik. Mereka rela merogoh kocek sendiri untuk kuota internetnya, semuanya bermuara pada suara2 mereka untuk didengar.
"Buzzer-buzzer NKRI bukanlah buzzer mereka adalah Relawan-relawan NKRI, karena buzzer cenderung menyembunyikan identitas dan diadakan untuk tujuan2 penggalangan opini, mereka tidak nampak dan dibayar..."
Relawan NKRI sejatinya bergerak karena kecintaan pada negaranya, mereka bergerak karena rasa tanggung jawab terhadap negaranya, dan mereka bergerak untuk menjaga dan mengawal NKRI.
"Parlemen virtual hadir karena lembaga2 formal tidak berfungsi..."
"Parlemen virtual sebuah keniscayaan karena dampak perkembangan infrastruktur dunia digital informasi..."
Merekalah yang telah selesai memahami akan konteks negaranya, Negara Pancasila yang Berbineka Tunggal Ika.
Sumber : Status Facebook Mirmantyo Luckyto
Tuesday, March 2, 2021 - 10:15
Kategori Rubrik: