Pariwisata di Era Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Dr. Ir Arief Yahya

Pendapatan dari sektor pariwisata terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2015, sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar US$ 12,225 miliar. Angka ini membuat pariwisata sebagai penyumbang devisa keempat terbesar di bawah Migas (US$ 18,574 miliar), CPO (US$ 16,427 miliar), dan batu bara (US$ 14,717 miliar). Pada 2016, sumbangan devisa pariwisata melonjak menjadi US$13,568 miliar. Angka ini membuat pariwisata menjadi penyumbang devisa kedua terbesar setelah industri kelapa sawit (CPO) yang menyumbang US$ 15,965 miliar. Perolehan devisa negara dari sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan di bawah pemasukan dari CPO. Kita targetkan pariwisata menjadi penyumbang utama devisa pada 2019 dengan angka US$ 24 miliar.

Pertumbuhan Tercepat

Pertumbuhan jumlah wisman dari tahun ke tahun semakin naik. Dengan target mendatangkan 20 juta wisman pada tahun 2019, performansi jumlah wisman kita sudah on the track. Pada 2015, kita mendatangkan wisman berjumlah 10 juta orang. Angka tersebut bertambah menjadi 12 juta orang pada 2016. Sementara, sampai dengan bulan Agustus tahun 2017 ini tercatat jumlah pelancong asing sudah menyentuh angka 9,25 juta orang. Menurut The Telegraph, media terkemuka di Inggris, Indonesia masuk ke dalam 20 besar destinasi wisata dengan pertumbuhan paling cepat didunia. Pada periode Januari – Agustus 2017 kita tumbuh 25,68% year-on year, di mana pertumbuhan tersebut mengungguli Malaysia, Thailand dan Singapura. Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata Indonesia empat kali lipat dibanding pertumbuhan regional dan global.

Naiknya Daya Saing Pariwisata

Insan pariwisata Indonesia boleh berbesar hati, bahkan bangsa Indonesia boleh mulai percaya diri. Setelah melompat tajam dari ranking 70 pada tahun 2013 menjadi ranking 50 pada tahun 2015, kembali indeks daya saing Indonesia melesat naik 8 peringkat ke peringkat 42 pada tahun 2017. Reputasi itu dipotret oleh Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017, yang dikeluarkan secara resmi oleh World Economic Forum (WEF) pada 6 April 2017 lalu. Menariknya, kinerja pariwisata Indonesia naik 8 level, di saat Malaysia turun 2 peringkat di posisi 26. Singapura juga turun 2 peringkat dan Thailand naik hanya 1 peringkat di papan 34.

Branding Wonderful Indonesia

Dalam hal branding, performansi Wonderful Indonesia juga sungguh membanggakan. Menurut WEF, pada 2017 country brand kita menempati ranking 47 dunia, jauh meninggalkan Malaysia “Truly Asia” dan “Amazing Thailand”. Selama tahun 2016, Wonderful Indonesia juga telah mendapatkan 46 penghargaan di 22 negara. Sedangkan di tahun 2017, sampai dengan bulan Oktober, telah meraih 21 penghargaan di 10 negara.

Masih hangat dalam ingatan kita, September lalu, video pariwisata Wonderful Indonesia: The Journey of a Wonderful World akhirnya menjadi juara dunia. Dua kategori kita borong tuntas, dalam kompetisi video pariwisata dunia yang digelar UNWTO, lembaga PBB yang bergerak di bidang pariwisata. Penghargaan ini diumumkan di ajang bergengsi yaitu The 22rd General Assembly UNWTO di Intercontinental Century City Convention Center Hotel, Chengdu, Tiongkok. Di bulan yang sama Indonesia juga dinobatkan menjadi Destination Of The Year 2017 untuk wilayah Asia Pasific oleh majalah TTG Asia yang diberikan di Bangkok.

Peningkatan Investasi

Untuk memenuhi target perolehan devisa dan 20 juta wisatawan pada 2019, kita pun telah mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas yang akan menjadi “New Bali”, yakni Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Mandalika, Morotai, Borobudur, Danau Toba, Kepulauan Seribu, Bromo Tengger Semeru, Wakatobi, dan Labuan Bajo. Ke-10 destinasi prioritas tersebut melengkapi 10 destinasi lain yang sudah siap unsur 3A (atraksi, akses, amenitas) yakni Bandung (Jawa Barat), Great Bali, Great Jakarta, Great Kepri, Joglosemar (Jogja-Solo- Semarang), Coral Wonders (Wakatobi-Bunaken-Raja Ampat), Medan,Makassar, Lombok, dan Banyuwangi.

Pencapaian investasi di sektor pariwisata terus naik dari tahun ke tahun. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat investasi pariwisata tahun 2014-2015 tumbuh sebesar 53% dan pada tahun 2015-2016 sebesar 29%. Sementara pada Semester I Tahun 2017 mencapai US$ 929,14 juta (Rp12,4 triliun) dan diproyeksikan investasi pariwisita pada akhir tahun 2017 sebesar US$ 1,7 miliar atau tumbuh 29% dibandingkan tahun 2016.

Pengembangan Wisata Bahari

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan punya garis pantai terpanjang kedua di dunia, pemerintahan Jokowi – JK sangat concern dengan pengembangan sektor maritim. Pun demikian dengan Kementerian Pariwisata. Wisata bahari adalah portofolio unggulan kita selain wisata budaya. Wisata bahari telah menyumbang sekitar 10% dari devisa pariwisata kita. Kita telah melakukan berbagai deregulasi untuk mempercepat pengembangan wisata bahari.

Kita sudah memberikan kemudahan untuk kedatangan yacht, dari sebelumnya ijin masuk 3 minggu menjadi 3 jam. Dampak kebijakan ini (efektif sejak 2015) telah meningkatkan jumlah kunjungan yacht hampir 30%. Begitu juga setelah kita memberlakukan penghapusan prinsip cabotage cruise, telah meningkatkan jumlah cruise call menjadi 27%. Menutup “Minister Message” ini, saya ingin mengingatkan bahwa perjalanan kita masih dua tahun lagi, untuk menyongsong target utama kita, mendatangkan 20 juta wisman. Kita harus tetap fokus bekerja memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Tahun ini adalah momentum untuk bekerja lebih cepat, di saat pesaing-pesaing kita sedang melambat. Dengan spirit “Indonesia Incorporated”, maju serentak pasti kita menang.

Ayo, kerja kerja kerja!

Salam Pesona Indonesia!

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Wednesday, November 1, 2017 - 15:30
Kategori Rubrik: