Parah, Timnas Indonesia Makin Terbukti Milik Asing, Aseng dan Asong

Timnas Indonesia saat Final vs Thailand leg 1

Oleh Alif Kholifah

Para pemain Timnas Indonesia memang berhasil menang pada pertandingan pertama Final AFF Suzuki Cup 2016 dengan mengalahkan Thailand 2-1. Padahal pada babak penyisihan Timnas Indonesia dibuat keok tak berdaya dengan skor 4-2 untuk Thailand. Bukan itu yang kita bahas namun banyak hal Timnas kita mencerminkan kepentingan Asing, Aseng dan Asong.

Pertama, lihatlah pelatih Timnas kita Alfred Riedl dari Austria. Mengapa tidak mengambil pelatih dari Timur Tengah yang sepakbolanya tidak buruk-buruk amat. Sebut saja Saudi Arabia, UEA atau Turki yang terkenal maju sepakbolanya. Bukan hanya itu, Riedl juga tidak beragama Islam, bagaimana jika selama melatih ada kristenisasi. Siapa yang menjamin pemain terpesona kemampuan Opa Riedl lantas pindah agama?

Apa PSSI bisa menjamin keimanan mereka terjaga hingga kejuaraan ini berakhir. MUI bahkan tokoh-tokoh GNPF MUI harus dilibatkan untuk menguji keIslaman mereka kembali. Tes mereka dengan 2 kalimat syahadat, Kan selama ini kelompok yang merasa mewakili Tuhan dalam menilai keimanan, ketakwaan bahkan keIslaman seseorang. Mungkin sudah ada semacam sertifikasi untuk menilai keagamaan seseorang yang didapatkan oleh GNPF MUI.

Kedua, mengapa asisten pelatih ya dari Negara yang sama dengan Riedl? Namanya Wolfgang Pikal. Anda tahu apa bahasanya wolfgang? Wolf itu artinya srigala dan gang itu bahasa halus dari gank yang artinya kelompok. See? Betapa bahayanya Timnas kita turut diasuh oleh kelompok srigala. Tahu sendiri kan gimana liciknya srigala? Tentu ini bukan sekedar kebetulan, Wolfgang sudah beristri orang Indonesia dan tinggal di Bali. Memang wolfgang pikal sudah muslim sekarang ini dan umroh 8 kali. Mengapa pemberitaan ini jarang dibuka ke publik? Makin jelas kan betapa mengerikannya srigala-srigala yang menjelma untuk menerkam mangsa-mangsanya.

Ketiga, setidaknya ada 3 pemain non muslim yakni Yanto Basna, Stefano Lilipally dan Boaz Solossa. Ngapain mereka direkrut jadi pemain Timnas? Bukankah masih banyak pemain-pemain muslim yang bagus? Mau butuh 20 Tim lagi dan semua beragama Islam saja bisa koq. Kurang apa menyingkirkan orang-orang Islam kalo begini? Lihat posisi mereka itu posisi yang vital semua dan disebar di tiap tempat. Yanto ada dibelakang, Lilipally di gelandang dan boaz ada di penyerang. Jika gawang Timnas aman tentu media yang pro aseng akan bilang “dibawah komando Yanto Basna”.

Lalu jika aliran bola dari lawan tersendat bahkan bisa dihalau bakal disebut jasa Lilipally. Kemudian posisi Boaz cukup vital, striker tunggal. Bayangkan, dari 11 main, dia yang memegang posisi kunci dan paling mungkin mencetak gol. Ini apa bukan namanya settingan agar non muslim yang bakal jadi pahlawan? Sedang pemain muslim lainnya cuma pelengkap penderita saja. Tidak hanya itu lho, Boaz juga kapten timnas. Jarangnya pemain bersujud dilapangan setelah mencetak gol jangan-jangan larangan dari Boaz juga nih? Kalau melanggar perintahnya bisa dikucilkan, tidak diberi umpan, tidak dikasih kesempatan jumpa pers. Wah benar-benar bahaya Timnas kita.

Yang jelas-jelas Timnas kita mendapat tugas yang hampir mustahil dari 9 Naga backing Ahok yakni mereka harus kampanye mengenai Ahok. Apa tidak pusing tuh, tim sepakbola diminta kampanye Pilgub? Akhirnya Riedl sebagai pelatih dan Boaz selaku kapten tim bersepakat untuk konsisten mencetak gol ditiap pertandingan. Ya hanya dengan cara ini yang paling mungkin. Pakai cara lain misalnya kaos timnas diganti kaos bergambar Ahok ya tidak boleh. Kaos kaki ditulis angka 2 ya lucu wong kaos pemain nomor beda-beda koq, pake celana dalam bergambar Ahok Basuki ya tidak kelihatan. Maka tugas yang paling mungkin gol yang tercipta harus 2.

Ini tugas yang tidak mudah dan ringan. Bagaimana bisa mencetak 2 gol ke Thailand dan Vietnam? Bisa mengimbangi saja sulit. Yang paling mencolok tentu saja saat lawan Vietnam. Nampaknya wasit benar-benar sudah disuap oleh backing Ahok. Bagaimana tidak, kiper Vietnam di kartu merah saat mereka sudah mengganti semua pemainnya. Lalu keputusan pinalti sudah diberikan untuk Indonesia saat skor sudah 2-1 eh hakim garis membisiki wasit, “Elu kalo ga batalkan tuh pinalti, kelar hidup loe”. Ngeper juga si wasit yang akhirnya membatalkan pinalti.

Meski berat, hingga babak final pertandingan pertama Timnas Indonesia berhasil menjalankan perintah aseng untuk kampanye bagi Ahok. Mencetak 2 gol lawan tim manapun. Saat ini bisa jadi tim 9 naga sedang berbincang dengan wasit hingga Kiatisuk Senamuang untuk final kedua di Thailand, bagaimana settingan final di Thailand nanti. Bagi tim 9 naga, Indonesia butuh juara dengan 2 gol. Nah perbincangan tinggal Thailand mau gol kan berapa? Ini penting bagi keberhasilan Asing, Aseng dan Asong. Ini kesempatan mengalahkan Islam.

Cuma ngingetin ajah agar paska kejuaraan AFF, GNPF MUI dan MUI segera melakukan tes keimanan dan keIslaman pemain Timnas beragama Islam. Jangan-jangan mereka terbuai oleh Boaz maupun Riedl. Gerak cepat Bib

Thursday, December 15, 2016 - 09:15
Kategori Rubrik: