Paradoks Tudingan Pada Jokowi

ilustrasi

Oleh : Septin Puji Astuti

Petahana (dapat koreksi dari Bu Siti Julaikah) itu asbun katanya. Lantas mengapa mengidolakan penantangnya yang sudah terbukti asbun?

Petahana itu bohong dengan data. Bukannya penantangnya berkali-kali bohong dengan data?

Petahana itu katanya Islamnya jelek. Lantas mengapa mengidolakan penantangnya yang faktanya Islamnya aja gak weruh?

Petahana tidak membela Islam (kelompoknya), katanya. Apakah penantangnya sudah terbukti membela Islam? Lha wong setelah DKI 1 terpilih aja mereka sudah ramai-ramai bilang tidak akan mendirikan/menegakkan hukum syariah? Ini di berita mainstream ada lho.

Petahana didukung 'jendral' penguasa lahan mayoritas (yang kata Pak Amin Rais itu lho. Ingat nggak?). Lha malah ditemukan fakta kalau penantang malah tuan tanah juga. Belum lagi jendral dan pendukung di belakang mereka.

Petahana didukung pengusaha/perusahaan non pribumi. Situ yakin kalau penantang gak didukung oleh pengusaha/perusahaan non pribumi. Ini pilpres broo... Pengusaha pasang bandar di dua kaki itu 'wajar'. Jangan tutup matalah.

Petahana kurang mampu mengatasi masalah HAM. Penantang? Penguasa orde baru di pihak mereka. Jangan tanya saya masalah HAM jaman itu. Dulu kalian ikut demo untuk meruntuhkan orde baru. Lha kok sekarang malah mendukung geng mereka. Lupa atau lali atau memang masa tua datang lebih dini?

Masih banyak yang lain. Cukup itu dulu ah. Mau semedi dulu hari ini.

Kalau mau komen silahkan. Kalau mau berantem sudah saya sediakan minuman dan makanan di pojokan sana ya. Kalau gak cocok, bawa sendiri. Handuk buat ngelap keringat, bawa sendiri-sendiri. Peralatan P3K juga ada. Tapi gak menyediakan perawatnya.

Wis, ah.
Sugeng enjang, nggih sederek sedoyo.

Sumber : Status Facebook Septin Puji Hastuti

Thursday, February 21, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: