Para Penuntut Keadilan yang (Bisa Jadi) Tak Adil

Oleh: Bintang Noor Prabowo
 

Seruan untuk menegakkan keadilan sering dimaknai keliru oleh orang-orang yang memintanya..

Seringkali, yang dimaksud adalah menegakkan keinginannya..

Jadi bila keputusan pengadil kebetulan sama dengan yang dimauinya, maka dia akan manggut-manggut sepakat.. sudah sewajarnya, demikian suara-suara di pikirannya..

Dan bila pengadil yang sama memutuskan sesuatu yang berbeda dengan yang diinginkannya, meskipun itu wajar, adil, dan sesuai dengan peraturan, maka dia akan mulai merajuk, merengek.. tantrum..

Seorang balita yang sedang tantrum, nalar dan komunikasi terputus.. dia akan menangis dan mengamuk sejadi-jadinya.. tidak peduli bahwa yang dia inginkan itu tidak masuk akal, atau membahayakan dirinya..

Bagi yang paham psikologi anak tantrum, ada dua hal yang bisa dilakukan: 
Biarkan dulu, tunggu tantrumnya mereda kemudian diajak ngobrol tenang hati ke hati, atau
gunakan pilihan ekstrim, tunjukkan siapa yang pegang otoritas, pegang dengan tegas tanpa menyakiti, naikkan nada suara ke level authoritative..dan kalau perlu, dihukum.. time-out..

Apabila pemegang otoritas selalu menuruti keinginan anak tantrum, maka dengan cepat si anak tantrum tadi akan belajar memanipulasi keadaan, dengan mengandalkan tantrum sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya..

Dalam konstitusi dijelaskan bahwa semua warga negara sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan..

Artinya, tidak ada yg lebih superior di mata hukum..

Dan tidak semua warga negara diperbolehkan menegakkan hukum.. karena akan berakibat chaos dan hukum rimba..

Oleh karena itu, penegakan hukum ditegakkan oleh lembaga negara yg telah disepakati bersama, dan diawasi oleh banyak pihak, dan dikontrol banyak peraturan..

Di bawah kekuasaan eksekutif, hukum ditegakkan oleh polisi dan jaksa.. 
Sedangkan dibawah kekuasaan yudikatif, hukum ditegakkan oleh hakim.. 
Diantara keduanya, pengawasan dilakukan oleh lembaga legislatif, melalui anggota dewan perwakilan..

Di negeri demokrasi, demonstrasi itu boleh.. 
Sah.. halal.. 
Yang tidak boleh adalah merusak, berbuat kriminal, memaksakan pendapat, dan mengangkangi kebenaran sebagai milik sendiri..

Gelar perkara laporan penistaan agama yg sedang dilakukan sekarang ini, nuansa politisnya sangat kental..

Saat ini, bola panas sedang dibawa kepolisian republik indonesia.. 
Hasilnya hanya dua kemungkinan:
Terjadi pelanggaran hukum, dan (atau) 
Tidak ditemukan unsur pelanggaran hukum..

Bila dinyatakan ada pelanggaran hukum, maka akan ada pihak yang teriak-teriak bangga, dan ada pula pihak yang menyerukan bahwa penegak hukum kalah pada tekanan massa..

Bila dinyatakan tidak ada pelanggaran hukum, maka akan ada massa yang menuduh polri diintervensi.. 
Kemudian tantrum, ngamuk, dan menuntut presiden mundur..

Lihat gambar besarnya: gubernur keceplosan> gubernur didemo> polisi mengundang para ahli> polisi menetapkan> demo turunkan presiden..

Mukidi membuang sampah sembarangan> ditiru tetangganya> sungai penuh sampah> banjir> gubernur/walikota nggak becus kerja> demo turunkan presiden..

Anasir-anasir jahat seringkali membuat skenario simalakama untuk menjebak Presiden..

Tapi berkali-kali pula presiden secara tak terduga, lolos dengan elegan.. bahkan menyempatkan diri melepaskan jab-jab dan uppercut maut..

Nampaknya, ujung dari gelar perkara ini adalah: 
1. no-case.. tidak ada kasus.. polisi tidak melanjutkan laporan karena tidak memenuhi unsur pidana.. si bocah akan tantrum lagi.. nangis kejer sambil ngglesotan di lantai.. demo lagi.. nuduh intervensi.. protes tidak adil sampai yang dimauinya dituruti.. pokoknya.. pokokmen..

2. polisi melanjutkan tahapan penyidikan, untuk meredam suasana, dan menghilangkan tuduhan bahwa pucuk pimpinan eksekutif melakukan intervensi.. selanjutnya bola panas dilemparkan ke pengadilan, sebagai lembaga yudikatif, yang tidak bisa dicampuri atau dipengaruhi eksekutif.. sehingga tekanan ke eksekutif beralih ke yudikatif..

Kedua skenario tersebut secara politis akan mengganggu kampanye calon petahana..

Sekarang saja, damage sudah terjadi.. 
Banyak swing-voter yang mantap beralih ke cagub lain.. 
Dan berpotensi babak belur kalau sampai 2 putaran pilgub..

Dan cagub unyu-unyu yang akan diuntungkan..

Ya iyalah, bapaknya sudah keluar modal ratusan milliar.. masa enggak untung.. 

 
(Sumber: Status Facebook Bintang Noor Prabowo)
 
 
Tuesday, November 15, 2016 - 18:15
Kategori Rubrik: