Para Penumpang Plafon

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Pada kisaran Oktober hingga Desember 2017 lalu, beberapa kali saya mengunjungi Lapas Porong Jawa Timur untuk wawancara seorang terpidana kasus korupsi Kredit Macet di beberapa Bank Pembangunan Daerah. Bersama salah satu mantan pengacaranya dan seorang penulis buku, kami berbicara dengan sosok yang dekat dengan para elit politik saat kasus korupsi itu menjeratnya.

Saat itu, ybs hanya ingin perjalanan hidupnya tertuang dalam bentuk buku. Ia yang sudah divonis akumulasi 42 tahun (belum termasuk kasus lain yang akan menyusul) ingin mengklarifikasi bahwa keadaan sesungguhnya tidak sepenuhnya benar seperti yang diberitakan di berbagai media. Dan ia juga merasa benar-benar dihabisi saat sudah tak "dibutuhkan". Bahkan dalam kasus kredit macet yang menjeratnya, ia menyampaikan bahwa plafon kredit yang sebenarnya tidak sebanyak angka yang dituduhkan. Menurutnya, seharusnya kredit itu tidak macet dan angsurannya mampu dibayar sesuai dengan dana kredit yang diterimanya. Artinya, ada pihak lain yang menumpang plafon dan sengaja tidak membayar sehingga berujung pada Kredit Macet. Bahkan kemudian diframing sebagai Kredit Fiktif.

Dan kini publik (kembali) dihebohkan dengan penangkapan buron kasus pembobolan Bank BNI pada tahun 2003. Maria Pauline Lumowa sebagai tersangka, dituding membobol BNI hingga senilai Rp.1,7 Trilliun. Dan yang menarik dari pengakuan ybs juga, dana yang diterima atas pengajuan kreditnya "hanya" sebesar Rp.320 Milyar. Bukan Rp.1,7 Trilliun sebagaimana yang dituduhkan. Bahkan pelariannya ke berbagai negara, terdapat kontribusi sekaligus pengawasan dari "orang kuat" di belakangnya. Patut diduga pula, pihak yang merancang pelarian Maria Pauline ini juga yang ikut menumpang plafon kredit yang diajukan kepada BNI.

 

Dari dua kasus diatas, kita melihat terdapat kesamaan modus. Yaitu menumpang plafon atas pengajuan kredit dari debitur. Melampaui kebutuhan skema pembiayaan yang diajukan. Selain itu, juga ada aktor intelektual di belakang mereka. Biasanya adalah figur yang dekat dengan lingkaran kekuasaan.

Hal ini juga mengingatkan kita dengan Kasus Bank Century. Dana talangan yang dibutuhkan untuk penyelamatan Bank Century sebenarnya "hanya" Rp.630 Milyar. Kemudian malah membengkak menjadi 10 kali lipat hingga Rp.6,7 Trilliun. Menariknya lagi, rangkaian kasus kejahatan kerah putih di atas, terjadi menjelang hajat politik. Kasus pembobolan BNI menjelang Pilpres 2004, Bank Century menjelang Pilpres 2008 dan Kasus Kredit Fiktif di berbagai Bank Pembangunan Daerah terjadi menjelang Pilkada serentak 2013.

Hmm.., begitu kental aroma Oligarkhi Politik didalamnya.

*FAZ*
#whitecollarcrime

Sumber : Status facebook Fadly Abu Zayyan

Sunday, July 12, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: