Para Penggali Kubur

ilustrasi
Oleh : Supriyanto Martosuwito
 
Laman Kompas mengutip dua kantor berita asing yang melaporkan para penggali kubur di Jakarta yang memakamkan 30 jenazah per hari yakni para korban terpapar virus Coronavirus Covid-19. Mereka ditugasi menggali satu makam dalam 10 menit.
Di layar televisi petang kemaren, nampak antrean ambulan keluar masuk ke Wisma Atlet Kemayoran untuk pasien baru yang akan dirawat.
Ada dua media asing ternama yang mengangkat kisah penggali makam di Jakarta, yakni AFP (Perancis) dan South China Morning Post (China).
AFP memulai pemberitaannya dengan kesaksian dari penggali makam bernama Junaidi Hakim.
Junaidi sedang menyerukan rekan-rekannya agar kerja lebih cepat, ketika jurnalis AFP memantau di lokasi pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
Ia mengungkapkan, mereka harus menyelesaikan satu makam kurang dari 10 menit, untuk menekan risiko tertular Covid-19.
"Begitu ambulans datang, kami keluarkan jenazahnya, kami bawa ke lubang lahad, langsung turun, kemudian langsung ditutup."
"(Harus selesai) 10 menit," ungkap Junaidi (42).
Junaidi menyatakan, kekhawatiran lebih besar dia dan rekan rekannya adalah ketika menurunkan peti dari ambulans. Sebab, peti harus dipegang dan - mau tidak mau - ada kontak antara peti dengan anggota tubuh.
"Setelah diturunkan, kekhawatiran itu sudah tidak ada," lanjut ayah empat anak tersebut.
AFP memberitakan ada sekitar 50 penggali makam di pemakaman Pondok Ranggon, salah satu dari dua pemakaman khusus untuk korban meninggal Covid-19 di Jakarta.
TPU Pondok Ranggon merupakan salah satu dari dua pemakaman khusus korban meninggal Covid-19 di Jakarta. Para penggali makam di TPU Pondok Ranggon bekerja 15 jam per hari, 7 hari per minggu, dengan gaji bulanan Rp 4,2 juta.
Dari laman liputan6, masih di TPU Pondok Rangon, Adang bersama teman-temannya harus dapat menyediakan liang lahat sebanyak-banyaknya. Untuk waktu kerja para penggali kubur sudah mulai bersiap mulai pukul 07.00 WIB sampai selesai pemakaman.
"(Pulang) paling malam itu pukul 22.00 WIB. Jam 05.00 WIB mobil (jenazah) sudah antre delapan mobil," ucapnya kepada liputan6.
SEKALI LAGI - saya mengimbau kepada mereka yang anti masker, anti pemerintah, anti Jokowi dan mereka yang hatinya tak juga tersentuh oleh kematian 105 dokter serta tenaga medis lainnya - saya mengetuk nurani kemanusiaan Anda untuk bersimpati pada para penggali kubur.
Bahkan seandainya selama ini mereka selama ini hidup dari uang tips keluarga yang berduka - dan Anda ikut sinis menyatakan, "kematian adalah 'rezeki tambahan' bagi mereka" - maka memakamkan 30 jenazah per hari adalah kelelahan luar biasa.
Lebih dari itu adalah bahaya tertular virus dari jenazah yang dimakamkan.
Siapa lagi yang berpotensi kena selain dokter, sopir ambulan dan penggali kubur serta yang memakamkan. Selain keluarga korban?
Bahkan para pejabat yang ada di kantor dan sesekali ketemu orang bisa terkena.
Menteri Perhubungan dan Menteri, Menteri Kelautan, Menteri Agama pun sudah positif Covid-19. Sekda Pemprov DKI baru dimakamkan.
Berhentilah menggoreng berita penanganan covid-19 sebagai modal isu untuk menyerang lawan politik dan orang orang yang tak disukai. Sekadar untuk eksis!
Saat nafas sesak karena cairan kental berwarna putih keruh menyumbat di paru paru, Anda baru menyesali apa saja yang Anda katakan .
 
Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito
Wednesday, September 23, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: