Para Pembenci Itu Masih Ada

Oleh: Eko Kuntadhi

 
Seorang lelaki memasuki pasar. Dia melihat kambing yang hendak di sembelih. Ia menghampiri pedagang kambing tersebut. "Sudahkah kamu memberi minum kambing itu sebelum kau sembelih?," tanyanya lembut.
 
Setelah perbincangan, ia berlalu. Terbayang di wajahnya kesedihan yang dalam. Ketika ayahnya dan beberapa keluarganya disembelih dengan bengis di sebuah gurun. Ia menyaksikan kebiadaban itu. Usianya masih remaja namun goresan kesedihan tidak pernah terlepas dari jiwanya. "Ayahku disembelih dengan kerongkongan yang kering," rintihnya dalam hati.
 
 

Kejadian tragis yang memilukan menjadikannya sebagai manusia dengan perasaan paling halus. Setiap malam ia bersujud. Mengadukan kegudandahan hatinya kepada Tuhan semesta alam. Disaksikan malaikat dan langit purba Arabia, doanya selalu menggetarkan. Air matanya meleleh, menandakan kesedihan yang menghujam.

Pada masa hidupnya, ada seorang desersi tentara yang dikejar-kejar tentara pemerintah. Tentara disersi itu kelaparan dan hidup tanpa perlindungan. Dia memutuskan satang datang kepada lelaki mulia itu.

Sebagai tuan rumah, diterima tamunya dengan baik. Setiap kali menyajikan makanan kepada tamunya wajahnya tidak pernah lepas dari senyuman. Bukan hanya keteduhan rumahnya yang diberikan kepada sang tamu, tetapi juga keteduham hatinya yang disodorkan untuk meringankan kegelisahan tamunya.

Empat hari tamu itu menginap di rumahnya. Tidak pernah kekurangan makan. Segala keperluannya dipenuhi. Tangan lelaki mulia itulah yang langsung melayaninya. Tangan mulia Imam Ali Zainal Abidin ibnu Husein.

Pada hari keempat, kegelisahan melanda perasaan tamunya. Dia tidak bisa lagi menahan guncangan bathinnya. Bagaimanamungkin setelah seluruh kebaikan ini ia bisa melanjutkan hidupnya dan berjalan dengan wajah yang tegak? Rasa malu menikamnya. "Ya, imam, apakah engkau tidak tahu siapa aku?"

Imam hanya tersenyum.

"Aku adalah tentara Yazid ibnu Muawiyah. Dulu aku berada dalam barisan yang memusuhi ayahmu. Di Padang Karbala aku ikut meneriakkan cacian kepada keluargamu. Aku ikut menyerang keluargamu. Di hadapanku, aku menyaksikan tubuh ayahmu dicabik-cabik," kisahnya dengan nafas tersengal.

"Kini di rumahmu aku mendapatkan perlakuan yang begitu baik. Aku mendapat perlindungan dimana semua orang berlepas diri dariku. Padahal akulah salah satu orang yang ikut membantai keluargamu."

"Aku, tahu," jawab Imam Ali Zainal Abidin. "Aku mengenalimu."

"Kenapa engkau memperlakukan aku dengan baik?"

"Buyutku Muhammad menganjurkan untuk memperlakukan setiap tamu dengan baik. Memberikan perlindungan dan memenuhi kebutuhannya. Begitupun ajaran datukku Ali ibn Abu Thalib dan ayahku Husein. Jika aku memperlakukanmu dengan buruk, apa bedanya aku dengan para pembenci keluargaku?"

Para pembenci itu masih ada sampai sekarang. Mereka akan menghardik siapa saja yang mendatangi majlis duka untuk mengenang kesyahidan Imam Husein. Mereka menista para pecinta keluarga Nabi dengan hujan fitnah dan keburukan.

Ah, seandainya ada orang yang pernah menghinakanku, mencerca kekuargaku, lalu ia datang bertamu ke rumahku. Sanggupkah aku memperlakukan mereka dengan baik?

Sanggupkah aku mencontoh lelaki mulia itu?

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Friday, September 21, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: