Para Bekas Jendral, TNI Dan Isu PKI

Ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu N

Kivlan Zen bekas Jendral demikian pula Suryo Prabowo. Dan kedua bekas Jendral tersebut getol mengorek terus luka lama bangsa Indonesia dengan isu kebangkitan PKI dan bahaya laten komunis. Kivlan Zen dengan yakin mengatakan kehadiran PKI itu nyata. Dan sampai detik ini omongannya terbukti HOAX. Sedangkan Suryo Prabowo, demi membela junjungannya Prabowo dari protes yang dilakukan oleh Warga Boyolali karena kesalahan dan ketidakpekaannya sendiri dengan melontarkan kata-kata yang merendahkan dan melecehkan martabat warga Boyolali, bukannya menyejukkan suasana justru malah menggarami luka warga Boyolali. Bukan hanya warga Boyolali, melainkan warga eks-karesidenan Surakarta dengan memposting koran lawas yang mengabarkan tahun 1955 PKI leading di Surakarta.

Secara tekstual apa yang disampaikannya fakta belaka. Namun apabila ditempatkan dalam konteks saat ini, SP coba membangun dan menggiring opini publik sekaligus membuat "framing" bahwa orang-orang yang protes dan keberatan terhadap konten pidato Prabowo ialah PKI. SP ini tentu sangat paham tentang dunia intelijen dan kontra intelijen. Pada titik tertentu ketika Prabowo kalang-kabut menghadapi tekanan publik dan penggerusan elektabilitas akibat kesalahan konyolnya sendiri, SP tampil sebagai penyelamat dengan melakukan pembelokan isu, secara sangat halus menggiring publik khususnya para pendukungnya untuk satu kata menyerukan bukan hanya Boyolali, namun Surakarta sebagai basis PKI. Cerdas sekali, bukan meskipun hati nurani.

Satu hal yang teramat sangat penting dilewatkan oleh pu blik ketika isu PKI dijadikan sebagai komoditas politik serta tawar-menawar kekuasaan adalah bahwa pernyataan para bekas jenderal tersebut termasuk Gatot Nurmantyo, penganjur nobar G30 S sebetulnya menelanjangi fungsi TNI sebagai alat pertahanan dan keamanan NKRI. Blow up isu PKI sebetulnya melecehkan dan merendahkan dan bahkan mengingkari profesionalitas TNI. Mengapa demikian ? TNI khususnya Angkatan Darat mempunyai infrastruktur yang sangat lengkap dari tingkat pusat sampai desa. Komando teritorial mereka lengkap dari mulai Markas Besar TNI di tingkat pusat, Komando Daerah Militer setingkat propinsi, Komando Resort Militer setingkat karesidenan (gabungan dari beberapa kabupaten dan kota), Komando Distrik Militer setingkat kota atau kabupaten, Komando Rayon Militer, setingkat kecamatan dan Bintara Pembina Desa setingkat kelurahan atau desa. Belum terhitung markas-markas batalyon dan satuan-satuan tempur AD yang tersebar di mana-mana.

Sangat tidak masuk akal dengan infrastruktur intelijen dan peralatan yang lengkap, TNI terus-menerus kecolongan dan gagal mendeteksi pergerakan PKI dan paham komunis yang jelas-jelas Partai Terlarang sampai saat ini. Nampaknya sudah saatnya secara institusional, TNI menegur para bekas Jendral atas ucapan dan tindakan yang jelas, nyata dan berulang-ulang mendiskreditkan TNI dengan isu-isu kebangkitan PKI yang merupakan HOAX dan isapan jempol belaka. Panglima TNI tidak perlu sungkan menjewer senior-seniornya yang keblinger dan gemar membuat kegaduhan publik.

Dengan menegur sekaligus menjewer para senior yg sudah purna tugas karena meremehkan profesionalitas TNI yang di dalamnya mengandung klaim kegagalan aparat TNI dalam membendung PKI dan kebangkitan komunis, TNI akan menjadi institusi yang berwibawa dan disegani bahkan oleh para purnawirawan termasuk sebagian bekas jenderal yang jadi politikus bigot dan demagog. Namun apabila TNI hanya diam terus-menerus, jangan heran, sakit hati dan marah apabila ada yang berpendapat isu kebangkitan PKI dan kebangkitan komunis berasal dari internal mereka sendiri.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu N

Tuesday, November 6, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: